Manusia itu berdaya kekuatan karena karunia Allah sebagaimana makhluk-makhluk lain. Diujinya tanpa kecuali dengan keenakan dan kesusahan untuk menduduki derajat lebih mulia, terhormat.
Penjajahan orang/bangsa atas yang lain adalah pengingkaran sekaligus penghinaan terhadap karunia itu.
Manusia memuja memuji-Nya sebab hanya Allah pemilik segala puji.
Pemuja selain Allah itu hina, dihina oleh pujaannya. Hawa nafsu menghina manusia pemujanya. Ketampanan, kecantikan, kekayaan, kemewahan hingga kebesaran ketenaran, kekuatan, dsb, demikian pula. Tinggal faktor manusianya, sadar atau tidak bahwa ia telah memosisikan diri sebagai terhina, terkurung, terjajah.
Tidak mau dijajah, itulah makna islam kita.
Menentang arus penjajah, itulah jalan kita.
Menang lawan penjajah itulah cita-cita kita
Mati korban penjajah itulah surga kita
Allahu akbar! Itulah jiwa raga kita …
Dijajah kotoran dirinya sendiri: ujub, takabbur, riya’, hasad, dll.
Rukun Islam medan, arena, sarana, bekal, piranti dan senjatanya. Vitalisasi potensi/ power anugerah; bakat, minat dipimpin doktrin (nilai spiritual), sunnatullah. Etos kerja keras bertarget sempurna hasil maksimal. Tawakkal, takdir, ridha, tenang/puas nafs muthma’innah. Bukan untuk dirinya, kaum-bangsanya tapi untuk seluruh umat manusia.
Membanding-banding, iri, dengki, kecewa, dendam … tidak mengubah nasib/takdir. Bertindak cepat sewaktu harus lambat, rugi dan merugikan. Bertindak lambat sewaktu harus cepat, rugi dan merugikan.
Waktu, tempat dan nasib sudah ada pembagian-pembagian/jatahnya masing-masing. Tidak perlu coba-coba mencari jalan tak wajar.
Tauhid Nabi Adam AS dan drama godaan Iblis merupakan rentetan episode-episode sejarah nan tak ada akhirnya.
Asas/dasar/fondasi bangunan paling berbahaya bila diremehkan. Mungkin karena kebanyakan fondasi itu tidak tampak di mata, tertutup lantai, tiang-tiang, dll. Demikianlah nasib tauhid.
Syirik dari masa ke masa dalam keyakinan, pandangan, pikiran, penyembahan: permohonan, perbuatan merupakan ujian para Rasul dan penerus risalah. Rumusan sejarah, percontohan yang perlu dicermati untuk di-iktibari, diambil sari pelajarannya.
Apa yang terjadi ini hanyalah pengulangan dari kejadian yang dulu-dulu saja. Bukan sesuatu yang baru. “Laa Jadiida Tahtas Syams” tiada yang baru di bawah sinar matahari.
Mukmin yang sempurna takkan pernah ta’ajjub! Tak usah! Termasuk kepada diri sendiri, ini kepicikan, seakan dia melakukan apa yang belum pernah dilakukan orang lain. Ini penyakit! Ini virus tauhid! Waspadalah!
Allah SWT hanya satu, selamanya. Subhaanallaah! Jangan terpesona rayuan panggilan kekafiran/kufur, atheisme untuk aksi-aksi menyusupkan pemurtadan. Ini juga bukan cerita baru. Waspadalah! [Bersambung]




















