Gawai atau HP merupakan salah satu alat elektronik yang memiliki manfaat juga bahaya. Bermanfaat jika digunakan oleh orang yang tepat.
Sebab, gawai dapat digunakan sebagai moda komunikasi, baik untuk berbagai urusan maupun dalam bersilaturahmi. Selain itu, gawai juga bisa digunakan sebagai alat dalam mencari informasi yang positif dan bermanfaat.
Namun akan berbeda ketika gawai berada di tangan anak-anak. Ketidaktahuan anak-anak tentang fungsi gawai akan membuat mereka menyalahgunakan gawai itu.
Aplikasi-aplikasi yang terdapat di dalam gawai dan dianggap dapat membuat mereka senang, akan terpasang dan menjadi kesibukan sehari-hari mereka. Bahkan akan menjadi candu yang sulit untuk dilepaskan.
Hingga akhirnya, anak-anak yang sibuk dengan gawai akan melupakan kewajiban mereka baik di rumah maupun kewajiban di sekolah. Bahkan tidak sedikit anak yang melawan orangtua lantaran dilarang untuk bermain gawai.
Gawai dapat membuat jarak antara mereka dengan orangtua menjadi jauh. Lantaran kesibukan mereka dengan gawai yang tidak melihat waktu.
Dampak lain dari penggunaan gawai yang tidak tepat serta berlebihan adalah kerusakan pada organ tubuh, di antaranya adalah mata dan otak.
Ketika anak asyik bermain gawai, mereka akan memaksakan mata untuk bermain walaupun dengan waktu yang cukup lama, sehingga tidak sedikit anak yang sering main gawai ada masalah dengan penglihatannya, seperti mata minus dan lain sebagainnya.
Sementara itu, radiasi yang dihasilkan dari gawai juga dapat berpengaruh pada otak anak. Hal itu yang selalu luput dari perhatian orangtua. Mereka hanya ingin anak-anak tenang dan tidak rewel tanpa mau memperhatikan dampak bahaya yang mengancam nyawa anak-anak.
Masih banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari penggunaan gawai oleh anak selain pengaruh pada mata dan otak, di antaranya terbentuknya sikap egois yang antisosial, sifat malas dalam mengerjakan sesuatu, stres sampai meninggal dunia.
Anak yang gemar bermain gawai, akan timbul dalam diri mereka sikap antipati terhadap lingkungan sekitar. Mereka tidak akan peduli dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
Bagi anak, bermain gawai adalah hal yang penting dan tidak boleh ada yang melarang atau mengganggunya.
Banyak kasus yang menjadikan anak sebagai korban lantaran candu mereka kepada gawai. Namun sepertinya hal itu tidak lantas membuat orangtua melarang anak-anak bermain gawai.
Namun demikian, kecanduan bermain gawai tidak selalu anak yang disalahkan, pastinya ada peran orangtua yang lalai dan selalu menjadikan gawai sebagai alternatif akhir dari solusi menjaga anak.
Misalnya saja, untuk bisa bekerja orangtua biasanya lebih memilih untuk memberikan gawai kepada anak mereka, sehingga anak bisa betah di rumah dan tidak rewel yang dapat mengganggu pekerjaan orangtua.
Selain itu, sifat anak yang suka meniru harus juga menjadi perhatian orangtua. Ketika anak melihat orangtuanya bermain gawai, maka keinginan mereka untuk bermain gawai juga akan timbul. Lantaran tidak ingin disibukan dengan rewelan anak yang meminta bermain gawai, akhirnya orangtua memberikan gawai tersebut. Tanpa memberikan perhatian khusus kepada anak sehingga anak dengan mudah membuka informasi yang tidak sesuai dengan usianya.
Oleh sebab itu, orangtua harus bisa bersikap tegas terhadap anak dalam penggunaan gawai. Jangan sampai gawai membuat mereka kehilangan masa kanak-kanaknya. []


















