Banyak fakta mengisahkan dampak buruk game online. Namun game online terus saja dimainkan anak-anak. Bahkan orang dewasa. Tak berlebihan jika pakar parenting Elly Risman Musa mengatakan, situasi Indonesia saat ini sedang panen besar dampak gadget, akibat orangtua kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya.
Game online telah menjadi candu bagi sebagian generasi negeri ini. Uniknya lagi, beberapa game online malah menjadi pertandingan resmi seperti game Mobile Legends yang pernah digelar memperebutkan Piala Presiden E-Sport 2019 pada Maret lalu.
Alasan gelaran pertandingan game online Mobile Legends ini karena memiliki potensi besar industri. Seperti disampaikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Presiden Jokowi menaruh perhatian besar terhadap olahraga elektronik (e-sports) setelah Asian Games. “Presiden melihat adanya potensi besar industri,” katanya seperti diunggah katadata.co.id, Senin (28/1/2019).
Dalam paparannya disebutkan, pada 2017 kinerja industri game nasional menempati peringkat ke-16 dunia dengan total pendapatan senilai US$ 79,7 juta. Oleh karena itu, pemerintah mendukung pengembangan ekosistem e-sports guna meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian.
Tak hanya itu, bahkan turnamen game berskala internasional Player Unknown’s Battlegrounds atau PUBG Mobile juga akan digelar di Indonesia dalam Final Turnamen PUBG Mobile Club Open 2019. Demikian dipaparkan oleh Director Marketing PUBG Mobile untuk Asia Tenggara Oliver Ye di Jakarta, seperti dilansir jpnn.com, Jumat (24/5/2019).
Game bertajuk PUBG merupakan permainan yang paling booming di seluruh dunia. Bahkan saat ini pengguna aktif PUBG Mobile lebih dari 100 juta tiap bulannya di seluruh dunia. Khusus di Indonesia, PUBG Mobile sukses merangkul para pemain di lebih dari 220 kota melalui berbagai turnamen offline baik tingkat amatir, profesional hingga taraf Internasional yang disaksikan lebih dari 23 juta penonton.
Terlepas dari nilai ekonomi yang dihasilkan dari game online, beberapa kejadian serius yang diakibatkan dari game online adalah adanya indikasi gangguan mental akibat kecanduan game online melalui gawai. Bahkan tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) telah resmi menetapkan kecanduan game atau game disorder sebagai penyakit gangguan mental. Hal ini setelah WHO menambahkan kecanduan game ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD), Senin (18/6/2018).
ICD merupakan sistem yang berisi daftar penyakit berikut gejala, tanda, dan penyebab yang dikeluarkan WHO. Berkaitan dengan kecanduan game, WHO memasukkannya ke daftar “disorders due to addictive behavior” atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.
Kecanduan game bisa disebut penyakit bila memenuhi tiga hal. Pertama, seseorang tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game. Kedua, seseorang mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lain. Ketiga, seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat. WHO mengatakan, ketiga hal ini harus terjadi atau terlihat selama satu tahun sebelum diagnosis dibuat.
“Bermain game disebut sebagai gangguan mental hanya apabila permainan itu mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan,” menurut WHO.
Apa yang dilansir WHO bukanlah main-main, pasalnya banyak sekali generasi negeri ini yang kecanduan game online. Seperti yang terjadi di Semarang, ada 20 anak terindikasi gangguan mental, mulai kehilangan fokus berjalan hingga kecenderungan mengurung diri terlalu lama di dalam rumah.
“Jadi rata-rata orangtua mengeluh adanya perubahan perilaku anak-anak di lingkungan rumah. Ketika ditegur, si anak berontak dan langsung marah tidak terkendali, ada juga prestasi di sekolah merosot drastis. Ini yang dikhawatirkan mereka,” kata Wakil Direktur RSJD Amino Gondohutomo Semarang, Erlina Rumanti seperti dilansir akurat.co, Kamis (20/6/2019).
Dia menyebut sejak dua bulan terakhir pihaknya banyak menerima laporan dari sejumlah orangtua yang mengeluh adanya perubahan perilaku anak-anak mereka di rumah akibat kecenderungan bermain game online. Oleh karena itu, beberapa anak dibawa ke Rumah Sakit Amino Gondohutomo untuk menjalani terapi.
“Yang paling banyak usia 19 tahun ke bawah, banyak faktornya mulai terbelit masalah ekonomi karena pengangguran, faktor keluarga,” jelasnya.
Kerugian fisik dan materi
Permainan game online yang tidak terkontrol juga menyebabkan kerugian material bagi orangtuanya. Seperti kisah Ririn Ike Wulandari asal Kediri, Jawa Timur, yang membagikan kisahnya karena mendapat tagihan pembayaran Rp 11 juta di kartu kreditnya dari tagihan game online yang dimainkan oleh anaknya tanpa sepengetahuan dirinya.
Anak Ririn diketahui masih berusia 12 tahun dan duduk di bangku kelas 6 SD. Tercatat ada tiga game online yang menjadi kegemarannya, yaitu Minecraft, Mobile Legend, dan Free Fire. Masing-masing game itu menawarkan kemudahan naik level misalnya dengan cara membeli diamond.
Pembelian diamond dan beragam fasilitas pendukung game inilah yang menyebabkan tagihannya membengkak. Kisah tersebut sebagaimana diunggah oleh akun Facebook dengan nama Ririn Ike Wulandari pada 5 April 2019.
Kejadian mengenaskan akibat gawai juga terjadi di Singapura yaitu ketika anak terjun dari apartemen karena orangtuanya mengambil gadgetnya. Seperti dikutip dari World of Buzz dalam sebuah video seorang anak yang diduga berumur 12 tahun didapati terlihat bergelantung di ujung balkon di dekat jendela di sebuah kondominium di Sengkang West, Singapura.
Ia terlihat melepaskan tangannya dan jatuh. Namun para petugas pemadam kebakaran telah memberikan pertolongan dengan menyiapkan bantal balon pemantul yang cukup besar di bawah balkon apartemen ini. Diduga anak ini marah karena orangtuanya telah menyita ponsel dan iPadnya.
Kejadian unik namun miris terjadi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Seorang anak menangis histeris dan meronta-ronta saat dibawa orangtuanya mudik ke kampung halamannya, Kecamatan Lamasi. Alasannya sederhana, ternyata bocah kebingungan lantaran tak bisa bermain game PUBG Mobile karena tidak ada jaringan internet.
“Enggak ada jaringan, enggak ada jaringan,” teriak bocah itu.
Kejadian pada video viral itu kemudian dijadikan pelajaran bagi sebagian warganet dalam mendidik anak. Tingkah bocah yang menangis dan meronta-ronta akibat tak bisa main PUBG Mobile di kampung saat lebaran itu menunjukkan betapa bocah sudah kecanduan bermain game.
“Seorang bocah menangis akibat tak ada jaringan internet di kampung keluarganya. Karena sering main PUBG ini atau nonton Youtube. Begini kalau pergi di rumahnya keluarga yang tidak ada jaringan Internetnya. Kejadian di Lamasi Kab. #Luwu,” tulis si pengunggah video di akun Instagram @palopo_info.
Menyikapi dampak buruk terhadap kecanduan game, pakar parenting Elly Risman Musa mengatakan, ketika anak tidak ada kedekatan dengan orangtua, anak-anak menjadi tidak memiliki kasih sayang dan kehangatan. Ketidakhadiran orangtua pada anak, kemudian diganti dengan gadget, maka anak merasa gadget adalah ibunya.
“Ketika anak diambil gadgetnya, anak merasa ibunya yang diambil,” ujarnya di Jakarta Selasa (23/7/2019).
Situasi Indonesia saat ini, sambung Elly, sedang panen besar dampak gadget, akibat orangtua kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya.
Elly menegaskan kembali bahwa usia 0 sampai 2 tahun, anak harus mendapat kasih sayang dan pendisiplinan dari orantuanya. Sebab, pada usia tersebut anak perlu mengidentifikasi orangtuanya. ”Sehingga perlu orangtua hadir dan dekat dengan anak,” tandasnya.
Di kesempatan lain Elly juga mengatakan pola asuh anak Indonesia yang hidup di era digital lebih sulit ketimbang mereka yang tinggal di luar negeri. Elly Risman berharap para orangtua bisa mengenali lebih dekat tentang apa saja yang menjadi tontonan anak dan juga “games” yang mereka mainkan.
“Banyak permainan yang memerlukan keterampilan lebih kompleks dengan tingkat kecekatan yang tinggi, ketimbang ’games’ yang tidak jelas arahnya,” ujar Elly.
Akibatnya, tambah Elly Risman, anak menjadi kecanduan patologis. Apalagi sekarang anak dapat bermain games dan memilih karakter yang diinginkan, yang tidak ada di dunia nyata. Padahal games mempunyai dampak negatif tidak saja bagi otak juga fisik yang membuat anak menderita RSI (repetitive strain injury), yakni berupa radang jari tangan/sindrom vibrasi lengan serta nyeri tulang belakang yang berakibat pada kecacatan.
Dampak lainnya berupa sinar biru yang dipantulkan layar monitor akan mengikir lutein pada retina mata yang akan berakibat degenerasi makula. Elly menyebutkan, yang lebih parah lagi dapat timbul penyakit Nitendo Epilepsi atau epilepsi fotosensitif, yaitu serangan mendadak yang ditimbulkan oleh kilatan cahaya dengan pola tertentu. Sinar merah yang kuat akan membuat sinyal abnormal yang dikirim ke otak melalui retina membuat anak menjadi kejang. Jadi, segera tinggalkan permainan game online. []
























