Sampang, Gontornews — Manna’ Khalil al-Qattan dalam kitabnya Mabahith fi Ulum al-Qur’an memberikan definisi terkait amtsal al-Qur’an yaitu mengungkapkan suatu makna dalam bentuk kalimat indah, padat, akurat, serta terasa meresap di dalam jiwa, baik kalimat itu dalam bentuk tasybih (penyerupaan) atau qawl mursal (ungkapan bebas).
Amtsal al-musarrahah yaitu amtsal yang di dalamnya terdapat atau dijelaskan kata matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih (kata yang menunjukkan kepada persamaan atau perumpamaan). Di dalam al-Qur’an terdapat 22 ayat yang mengambil bentuk amtsal al-musarrahah dalam klasifikasi amtsal al-makkiyah dan 20 ayat amtsal al-musarrahah dalam klasifikasi amtsal al-madaniyah.
Jika ayat amtsal al-musarrahah al-makkiyah diklasifikasikan, maka didapati sejumlah tema pokok diantaranya, satu ayat tentang kekuasaan Allah, satu ayat tentang surga, satu ayat tentang Nabi Isa AS, dan dua belas ayat tentang orang kafir atau musyrik Quraisy penyembah berhala. Sementara klasifikasi amtsal al-musarrahah al-madaniyah antara lain, satu ayat tentang Allah, satu ayat tentang surga, satu ayat tentang Nabi Muhammad SAW, dua ayat tentang orang-orang Mukmin, serta dua ayat tentang orang-orang Yahudi.
Berikut beberapa contoh penafsiran amtsal al-musarrahah al-makkiyah dan al-madaniyah menurut Sayyid Qutb. Pertama, penafsiran Sayyid Qutb terhadap amtsal al-musarrahah al-makkiyah. Satu, amtsal al-musarrahah tentang kekuasaan Allah dalam al-Qur’an Surat ar-Rum ayat 27.
Menurut Sayyid Qutb, pada ayat ini Allah sedang berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, karena dalam penilaian manusia memulai penciptaan itu lebih sulit dari pada mengulanginya. Lantas mengapa mereka kemudian menganggap pengulangan penciptaan manusia itu sulit bagi Allah, padahal mengulang itu pada tabiatnya adalah lebih mudah dan lebih ringan.
Dr Putri Alfia Halida menjelaskan bahwa hal ini merupakan konsekuensi logis mengingat sesungguhnya Allah tidak ada yang menyerupai-Nya di langit maupun di bumi, dan tidak ada sesuatu yang sama dengan-Nya. Dengan demikian, lanjut ibu tiga orang putra tersebut, tidak ada suatu perbuatan pun yang sulit bagi Allah.
Dua, amtsal al-musarrahah tentang surga dalam QS. ar-Ra’d ayat 35. Menurut Sayyid Qutb ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang bertakwa berada dalam kondisi yang berlawanan dengan keadaan orang-orang musyrik (kafir). Bagi orang-orang musyrik, tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak mendapatkan azab dari Allah.
Sedangkan bagi orang-orang bertakwa yang selalu menjaga dan melindungi keimanannya dan selalu mengerjakan amal shalih, maka mereka berada dalam keadaan yang aman dari azab. Bahkan lebih dari itu, mereka akan mendapatkan surga yang dijanjikan oleh Allah. Dimana surga yang dijanjikan itu diumpamakan seperti taman atau pemandangan yang berupa naungan abadi yang di dalamnya terdapat buah-buahan yang terus menerus ada tiada henti serta merupakan pemandangan yang menentramkan dan menyenangkan hati.
Gambaran fenomena ini merupakan kebalikan dari kesengsaraan dan penderitaan yang akan diterima oleh ahli neraka. “Bagi Qutb, pemandangan yang kontradiktif ini, dimana yang kafir akan mendapatkan azab di neraka, sedang yang bertakwa akan mendapatkan kenikmatan di surga merupakan akibat yang pantas diterima oleh masing-masing penghuninya,” terang alumnus Al-Azhar, Kairo ini.
Kedua, penafsiran Sayyid Qutb terhadap amtsal al-musarrahah al-madaniyah. Satu, amtsal al-musarrahah tentang Allah QS. an-Nur ayat 35. Menurut Sayyid Qutb ayat di atas merupakan perumpamaan yang mendekatkan kepada pemahaman manusia yang terbatas dengan gambaran yang tidak terbatas.
Ia menggambarkan alat bantu yang kecil yang dapat direnungkan oleh indra ketika tidak mampu memikirkan materi aslinya, yaitu cahaya Allah diumpamakan seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Cahaya itu terpancar dengan kuatnya di dalam kaca. Kaca itu menjaga pelita dari tiupan angin dan kaca itu membuat cahayanya semakin terang dan gemerlap. Kaca itu sendiri bening murni dan bercahaya.
Di sini dikaitkan antara perumpamaan dengan hakikat wujud asli, antara contoh salah satu cabang dan bagian dengan pokoknya, ketika paparan beralih dari kaca yang kecil naik menuju bintang yang besar. Hal itu dimaksudkan agar renungan tidak hanya terbatas pada contoh kaca yang kecil itu, dimana perumpamaan dengannya hanya untuk mendekatkan pengertian hakiki dari suatu pokok yang sangat besar.
Setelah selipan isyarat itu, redaksi mengarah kembali kepada contoh yang dipaparkan, yaitu lampu yang dinyalakan dengan minyak zaitun. Dipilihnya zaitun sebagai contoh dalam ayat ini karena cahaya minyak zaitun merupakan cahaya yang paling bening, bersih, dan bercahaya diantara cahaya yang dikenal oleh mayoritas orang.
Lebih dari itu, sambung Dr Putri, minyak zaitun berasal dari pohon yang penuh berkah (pohon zaitun) yang berada dalam naungan yang suci, yaitu naungan lembah Tur dan tempat yang paling dekat dari Jazirah Arab. Pohon zaitun adalah pohon yang rindang, dimana setiap bagiannya bermanfaat bagi manusia, baik itu minyaknya, batang pohonnya, daunnya, dan buahnya.
Pohon zaitun yang disebut dalam ayat ini bukanlah pohon tertentu yang terletak di tempat yang terukur dan di suatu arah. Ia hanya hadir sebagai contoh yang dipaparkan. Itulah sejatinya bening, dan itulah sejatinya cahaya, sehingga menyinari dan menerangi walaupun tidak disentuh.
Cahaya di atas cahaya itu merupakan cahaya Allah Ta’ala yang menyinari segala kegelapan di langit-langit dan di bumi. Cahaya yang tidak seorang pun dari kita mengetahui hakikat dan jangkauannya. Orang-orang yang dikehendaki Allah adalah orang-orang yang dibukakan hatinya bagi cahaya-Nya sehingga dapat melihatnya.
Cahaya itu tersebar di langit-langit dan bumi, tidak pernah putus, tidak terhalang, dan tidak tertutup, sehingga jika hati-hati manusia menuju kepadanya, pasti ia akan mendapatkannya. Apabila seseorang yang sedang bingung serta tersesat berusaha mencarinya, pasti ia memberi petunjuk, dan ketika orang yang bingung itu mendapatkan cahaya tersebut, pasti dia akan menemukan Allah sebagai Tuhannya.
“Perumpamaan yang digambarkan oleh Allah ini, menurut Sayyid Qutb merupakan cara pendekatan kepada pengetahuan manusia, karena Dia Maha Mengetahui tentang kemampuan akal manusia,” terang istri dari Dr Delta Yaumin Nahri Lc MThI tersebut.
Dr Putri kemudian menyimpulkan bahwa penafsiran Sayyid Qutb terhadap ayat-ayat amtsal al-musarrahah dilakukan dengan menggunakan perumpamaan yang digambarkan dengan pemandangan alam secara umum yang melambangkan kekuasaaan Allah yang Maha Esa dan Mahaperkasa, juga perumpamaan tersebut digambarkan dalam fenomena fisik yang bergerak yang dapat ditangkap oleh mata dan hati bagi setiap pendengaran dan penglihatan.
“Tujuan dari penafsirannya itu adalah agar perumpamaan yang digambarkan oleh al-Qur’an tersebut dapat dengan mudah direnungkan oleh indra ketika akal manusia tidak mampu memikirkan hakikat aslinya,” pungkas alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tahun 2006 ini. [Edithya Miranti]
Biografi Singkat Penulis
Nama : Dr Putri Alfia Halida Lc MThI
Tempat Tanggal Lahir : Sampang, 29 November 1987
Bidang Ilmu : Ilmu al-Qur’an dan Tafsir
Alumni : Gontor Putri 2006
Pendidikan :
- S1, Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, 2011.
- S2, Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, 2014.
- S3, Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2020.
Karya Tulis :
- Konsep Petunjuk dalam al-Qur’an: Telaah Atas Makna “Rashada” dalam Tafsir al-Azhr karya Hamka, 2020.
- Kebahagiaan dalam Tafsir al-Sya’rawi Perspektif Psikologi Humanistik Abraham Maslow, 2019.
- Makna Hana’ dalam al-Qur’an: Telaah Atas Ayat-ayat Hana’ dalam Kitab Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab, 2019.






















