Sejak pandemi Covid-19 merebak, dunia pesantren bergerak cepat mencermati dan menganalisis. Saat virus ini masuk ke Indonesia, pesantren sudah siap dengan kebijakan-kebijakan produktif untuk memastikan pendidikan tidak terganggu dan terhambat.
Pandemi Covid-19 berdampak luas di dunia pendidikan, tak terkecuali pesantren. Beragam analisis serius serta informasi yang masuk menjadi pertimbangan penting bagi para kiai dalam menentukan kebijakan terkait pembelajaran serta aktivitas pondok. Uniknya, tidak semua pesantren memiliki kebijakan seragam.
Masing-masing pesantren memiliki acuan dan pendekatan yang berbeda nan maslahat, baik bagi santri, wali santri, maupun pondok secara umum. Ambil contoh perbedaan pendekatan yang diambil oleh Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta dengan Pondok Modern Tazakka Batang.
Sebagai pesantren yang berlokasi di wilayah episentrum Covid-19 Jakarta, Ponpes Darunnajah mengambil kebijakan cepat dan tepat. Pimpinan Darunnajah sepakat untuk memulangkan para santri tidak lama setelah pemerintah mengonfirmasi dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada awal Maret lalu.
“Saat pemerintah mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 di Jakarta, kami langsung mengadakan rapat pukul 15.00 WIB dan memulangkan seluruh santri pada malam hari. Kami bergerak cepat mengantisipasi, guna menghindari penyebaran wabah ini,” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Dr KH Sofwan Manaf kepada Majalah Gontor.
Pemulangan santri ini diberlakukan bukan hanya bagi Darunnajah Ulujami Jakarta, tetapi juga berlaku di 17 cabang Darunnajah di seluruh Indonesia. Kiai Sofwan mengonfirmasi, jumlah santri yang dipulangkan mencapai 11.500 orang dari semua cabang Darunnajah di Indonesia.
Namun, semua santri diwajibkan tetap mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan jadwal dan materi yang disiapkan oleh pihak pondok. Tidak tanggung-tanggung, semua petinggi Darunnajah turun tangan sekaligus bertanggung jawab penuh untuk memastikan bahwa kegiatan pembelajaran daring dapat terlaksana dengan baik.
Kiai Sofwan juga menjelaskan metode belajar daring yang diterapkan Ponpes Darunnajah Jakarta. Ia mencontohkan penggunaan aplikasi Zoom atau Google Meet untuk penyampaian materi dengan jumlah santri yang banyak. Jika ada tugas yang diberikan, maka setiap santri harus mengirimkan tugasnya secara daring.
“Kalau ujian dan kuis, kami sudah terbiasa menggunakan Darunnajah Smart System. Dengan model pembelajaran daring tersebut, kebanyakan santri Darunnajah sudah memahami cara kerjanya. Mereka bahkan sudah familier dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK),” ujarnya.
Bahkan, untuk agenda Khubatul Wada’ bagi santri kelas 6 juga dilakukan secara daring. Namun, Kiai Sofwan tidak menampik ada sejumlah kendala di lapangan. Misalnya di Pondok Pesantren An-Nakhil Darunnajah 6 di Mukomuko Bengkulu atau Pondok Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai.
Pertama, keterbatasan sinyal. Ini bisa ditoleransi karena terjadi hanya dalam skala kecil. Kedua, kejujuran santri. Misalnya, tugas hafalan al-Qur’an. Selain membutuhkan kualitas hafalan, juga membutuhkan kejujuran para santri maupun wali sebagai pemantau. “Kita ingin kejujuran anak lebih baik dan hafalannya juga lebih bagus,” ucap Kiai Sofwan.
Ia memastikan bahwa kendala pembelajaran daring ini tidak mengganggu kalender pendidikan Darunnajah. Kegiatan pembelajaran di Darunnajah selesai 30 April 2020, sementara ujian lisan maupun tulis tetap dilaksanakan dengan menggunakan sistem daring tanggal 2-12 Mei 2020.
“Hanya bedanya, anak-anak tidak hadir di pesantren. Padahal, pembentukan karakter santri harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk kehadiran santri secara fisik. Pembentukan karakter tidak hanya dilakukan secara lisan, tetapi juga mengharuskan interaksi fisik dan kegiatan,” ujarnya.
Berbeda dengan Ponpes Darunnajah yang memulangkan santri dan memfasilitasi pembelajaran daring di rumah, Pondok Modern Tazakka Batang, Jawa Tengah, memiliki pendekatan yang berbeda. Secara umum, Tazakka memilih untuk memadatkan kegiatan dan menyelesaikan kegiatan-kegiatan pembelajaran lebih cepat ketimbang jadwal seharusnya.
“Pada hakikatnya kami tidak mengubah kalender pendidikan di Tazakka. Kami hanya memadatkan dan memajukan. Seharusnya jadwal ujian akhir semester berakhir pada pertengahan April kami padatkan sehingga alhamdulillah dapat kita selesaikan akhir Maret,” kata Pimpinan PM Tazakka KH Anang Rikza Masyhadi kepada Majalah Gontor.
Secara umum, jadwalnya ada yang maju sebulan, ada yang setengah bulan. Tazakka terus mengikuti, mencermati, dan menganalisis setiap perkembangan terkait Covid-19, baik di dalam maupun luar negeri. Analisis inilah yang kemudian dijadikan bahan pertimbangan dalam memutuskan segala sesuatu.
“Tadinya ada banyak pilihan. Apakah akan dipulangkan dengan cepat yang dilanjutkan dengan tugas-tugas dan ujian daring atau memadatkan dan merampungkan kegiatan. Kami pun memutuskan untuk memilih yang kedua sebelum akhirnya para santri kita pulangkan,” ujarnya.
Kiai Anang menceritakan, ia mengkhawatirkan perkembangkan Covid-19 sejak pertama kali muncul di Wuhan, Cina. Ketimbang menunggu respons pemerintah setempat, Tazakka bergerak lebih cepat untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. Tazakka memutuskan untuk mengunci (lockdown) mulai 1 Maret 2020.
“Sejak saat itu, kami tidak menerima tamu, wali santri kita larang untuk berkunjung. Tamu-tamu pondok pun sudah tidak ada, interaksi dengan orang luar pun kami batasi. Paket-paket dan kiriman kami sterilisasi. Itu yang kita lakukan sejak pemerintah mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia,” ungkap Kiai Anang.
Selain tanggung jawab kepada santri dan aktivitas pondok, Tazakka juga menyampaikan himbauan-himbauan mengenai perkembangan Covid-19 kepada masyarakat, jamaah pengajian, mushalla dan masjid binaan, guru ngaji, marbot dan muadzin untuk melakukan pembatasan interaksi fisik.
“Kami membantu pemerintah melalui pencerahan kepada masyarakat. Sebagai tokoh agama dan lembaga pendidikan pesantren, kami merasa ikut bertanggung jawab terhadap penyampaian informasi tersebut,” papar alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo tersebut.
Tak hanya itu, Tazakka juga mengelola dan membagikan 1.000 paket bantuan makanan kepada masyarakat. Pondok yang berdiri pada tahun 2012 tersebut juga memberikan insentif tunai kepada guru ngaji, marbot dan muadzin di sekitar pondok.
Sekalipun sudah libur, Kiai Anang tetap berpesan kepada para santri agar mematuhi tiga hal. Pertama, mengikuti protokol pencegahan Covid-19 yang ditetapkan oleh para ahli dan pemerintah, baik pusat maupun daerah masing-masing.
Kedua, mengikuti fatwa kredibel, seperti fatwa Majelis Ulama Indonesia, al-Azhar Mesir, Saudi Arabia, dan lembaga dunia lain terkait pelaksanaan ibadah. Ketiga, Tazakka berharap santri tidak berubah. “Jadi, meski saat ini liburannya lebih panjang, jangan sampai mereka berubah dan harus tetap menyerap informasi dan ilmu dari rumah,” pungkasnya. []























