Malang, Gontornews — Peta pikiran dan peta konsep adalah sebuah teknik pembelajaran yang telah digunakan selama lebih dari dua puluh lima tahun di lingkungan pendidikan. Sebagai hasil dari pengembangan konsep yang berkaitan dengan kecerdasan ganda.
Terlihat saat ini minat untuk menggunakan teknik visual dalam lingkungan belajar meningkat. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa menggunakan peta pikiran merangsang motivasi, kreativitas, dan menentukan tingkat kinerja yang lebih baik bagi siswa.
Meskipun penggunaan teknologi telah berkembang di lingkungan profesional, namun ternyata masih belum banyak digunakan di bidang tertentu seperti proyek penelitian, pengembangan sumber daya manusia, atau hubungan masyarakat. Makalah ini kemudian hadir untuk dapat mengeksplorasi penggunaan pemetaan pikiran dan pemetaan konsep di bidang akademik.
Dalam disertasi yang berjudul, Penggunaan Peta Konsep dan Peta Fikiran dalam Pembelajaran Qiro’ah Muwassa’ah di Dua Kampus dan Perannya untuk Mewujudkan Keterampilan Berbicara (Studi Kasus di Universitas Negeri Malang dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)โ, penulis menjelaskan bahwa beberapa dosen keterampilan berbicara merasa tidak mampu mengukur pemahaman mahasiswa terhadap materi selama perkuliahan. Apalagi sekarang siswa melakukan proses belajar mengajar melalui internet. Semakin sulit bagi guru untuk mengukur kemampuannya.
Dewantara mengatakan dalam penelitiannya tahun 2012 bahwa di antara sembilan faktor penyebab kesulitan belajar keterampilan berbicara adalah motivasi, kebiasaan belajar, penguasaan komponen bahasa, penguasaan komponen isi, sikap mental, hubungan atau interaksi guru-siswa, metode pengajaran, metode pembelajaran, dan hubungan atau interaksi siswa-siswa. Sedangkan faktor yang paling umum adalah mental dan faktor sikap.
Hal ini terlihat dari hasil observasi dan wawancara dengan guru dan siswa. Rasa malu, takut, cemas, dan kurang percaya diri, membuat siswa sangat frustasi dalam mengikuti pembelajaran.
Konsep dan peta pikiran adalah teknik yang dapat digunakan oleh individu dan kelompok untuk mengatur dan menggambarkan pengetahuan dan ide-ide dalam bentuk visual. Hal ini dapat membantu pengguna untuk melihat semua pengetahuan yang telah dipelajari. Menggunakan peta konsep akan memungkinkan pengguna untuk melihat persamaan dan perbedaan antar konsep serta keterkaitannya.
Telah dilaporkan dalam beberapa penelitian bahwa peta konseptual dapat membantu meningkatkan keterampilan berbicara. Menerapkan teori peta konseptual Buzan dalam tahapan membaca artikel, menafsirkan artikel, meringkas artikel, dan kemudian merancang peta konseptual dan peta mental artikel. Sedangkan penerapan teori peta konseptual Edward pada tahap selanjutnya berupa penyajian gambar peta konseptual.
Menyikapi temuan bahwa sikap mental dan kesulitan guru untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami ucapan dan tulisan menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar, maka guru perlu meneliti teknologi pembelajaran untuk mengatasi kedua permasalahan tersebut.
Pemberian kesempatan latihan yang memadai kepada siswa merupakan salah satu cara yang dapat dipilih untuk melatih sikap mental siswa dan untuk mengatasi faktor-faktor lain yang menyebabkan rendahnya keterampilan berbicara siswa. Menurut sebuah penelitian, peta konsep dan peta pikiran alternatif dapat digunakan untuk mengukur pemahaman konsep siswa.
Menyenangkan atau tidaknya proses pembelajaran Bahasa Arab yang berkelanjutan, akan menentukan berhasil tidaknya tujuan pembelajaran Bahasa Arab. Jika banyak metode pembelajaran aktif dan menyenangkan diterapkan sejak awal proses pembelajaran Bahasa Arab, siswa akan termotivasi untuk belajar Bahasa Arab. Oleh karena itu, pendefinisian penggunaan konseptual dan mental mapping dalam pembelajaran membaca sangat penting untuk diperhatikan oleh dosen Bahasa Arab.
Melihat hal tersebut, peneliti memilih topik ini karena hipotesis bahwa dengan menggunakan peta konseptual dan mental diharapkan dapat mencapai keterampilan berbicara. Peta konsep juga diharapkan dapat melatih siswa untuk percaya diri dalam berbicara tentang peta konsep yang telah mereka rancang.
Dalam penelitian ini digunakan teori peta konseptual Buzan dan Edward. Menurut Buzan, peta konseptual adalah diagram skematik dari deskripsi konseptual seseorang dalam serangkaian data. Selain menggambarkan konsep-konsep penting, peta konsep juga menghubungkan konseptualisasi saat ini.
Sedangkan menurut Edward, dalam pembelajaran bercerita dengan menggunakan peta konsep, siswa akan terbantu untuk mengkomunikasikannya dengan menggunakan kata-kata kunci yang terdapat dalam pemetaan konsep, kemudian mampu mengembangkannya menjadi sebuah cerita dalam urutan yang runtut.
Peneliti memilih dua perguruan tinggi negeri di Malang yang memiliki Jurusan Sastra Arab. Mereka adalah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan Universitas Negeri Malang. Keduanya berada dibawah naungan dua kementerian yang berbeda, satu dibawah naungan Kementerian Agama dan satu lagi dibawah pengawasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kedua departemen ini memperoleh sertifikat internasional, salah satunya memperoleh “AQAS” dan yang lainnya “AUN-QA”.
Selain itu, ada kesamaan antara kedua universitas di silabus mata kuliah membaca. Kedua jurusan ini memiliki pelajaran membaca yang sama yaitu membaca intensif dan membaca ekstensif. Beberapa mata kuliah yang termasuk dalam silabus mata kuliah ini, baik di UNM maupun di UIN Maliki Malang, terdiri dari surat kabar berbahasa Arab.
Menarik ketika mengadopsi penggunaan peta konseptual dalam pembelajaran membaca panjang lebar yang diterapkan di perguruan tinggi negeri dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk kemudian diterapkan di perguruan tinggi negeri dibawah naungan Kementerian Agama.
Kemudian dari data dan pembahasannya dengan teori-teori penelitian sebelumnya, penelitian ini terangkum dalam hasil utama sebagai berikut, Pertama, penggunaan peta konseptual dan fikiran dalam pengajaran membaca ekstensif di UNM dan UIN Maliki Malang melalui lima langkah yakni membaca, kosakata, meringkas, merancang, dan menjelaskan peta.
Kedua, permasalahan dalam penggunaan peta konseptual dan fikiran di UNM dan UIN Maliki Malang meliputi masalah linguistik (kosa kata, sintaksis, dan pengucapan) dan masalah non-linguistik (struktur, infrastruktur, budaya, dan psikologi). Ketiga, penggunaan peta konseptual dan fikiran dalam pengajaran membaca ekstensif di UNM dan UIN Maliki Malang memiliki peran besar dalam mencapai keterampilan berbicara, baik online maupun offline.
Kesimpulan teoritis dari penelitian ini adalah penggunaan peta konseptual dan fikiran dalam pembelajaran membaca diperpanjang memiliki peran yang signifikan dalam mencapai keterampilan berbicara, baik online maupun offline.[]





















