Radwaniya, Gontornews – Saluran irigasi dari Sungai Tigris yang biasa mengairi lahan-lahan pertanian mengering. Tanpa air, tidak ada padi dan gandum yang tumbuh. Petani Irak menjerit.
Tigris saat ini jauh lebih dangkal daripada tahun lalu, dan bagi para petani di Irak, ini adalah bencana. Dan bencana itulah yang kini dialami Omar Di’ibil (35), petani di Radwaniya, pinggiran Baghdad.
Seperti banyak petani lain di Irak, kekurangan air telah membuat sawah-sawah dan kebun-kebun Di’ibil terbengkalai.
“Saya biasa menggarap lahan 52 atau bahkan 60 hektar. Sekarang, saya hanya bisa menanam antara tiga hingga lima hektar lahan,” kata Di’ibil seperti dikutip Aljazeera.
Curah hujan yang semakin tidak menentu di seluruh Irak, dan pembangunan bendungan di hulu sungai, Turki dan Iran, telah mengurangi jumlah air di Sungai Tigris dan Eufrat paling sedikit 50 persen dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi ini telah memukul sektor pertanian di Irak.
Kekurangan air yang berkepanjangan telah menyebabkan suplai listrik dari pembangkit listrik berkurang, yang pada gilirannya mempengaruhi suplai air untuk pertanian dan akhirnya memaksa negara untuk mengimpor lebih banyak makanan daripada yang sudah ada.
Menurut Zafer Abdullah, penasihat Kementerian Sumberdaya Air Irak, musim kemarau dan kebijakan air yang merugikan telah memaksa para petani Irak mengurangi lahan garapannya. Pemerintah melarang perkebunan tanaman di musim panas, termasuk penanaman jagung dan padi. Dampaknya, pendapatan petani berkurang. [Rusdiono Mukri]






















