Sumenep, Gontornews — Jumat (27/11), MUI (Majelis Ulama Indonesia) resmi menetapkan formasi kepengurusan MUI 2020-2025 dan memilih KH Miftachul Akhyar sebagai ketua umum MUI. Sambutan hangat dan iringan doa pun mulai berdatangan dari berbagai kalangan, termasuk di antaranya KH Dr Ahmad Fauzi Tidjani MA, pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura.
“Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan kekuatan dalam mengemban amanah,” ucap Kiai, mewakili Ponpes Al-Amien Prenduan.
Kepada Gontornews.com, Kiai Fauzi mengharapkan agar ke depan MUI dapat selalu menjadi tempat musyawarah memajukan Indonesia, mencerahkan umat, membawa pesan rahmat bagi kemanusiaan dan semesta. Kehadiran MUI dirasa sangat strategis untuk Islam yang washatiyah di Indonesia. Sehingga pada setiap modal sosialnya harus dioptimalkan untuk kemaslahatan bersama.
Selama ini MUI telah memiliki kekuatan jaringan dan organisasi yang kuat dan didukung ormas Islam di Indonesia. MUI sendiri mampu hadir menjadi mediator harmonisasi di antara unsur-unsur Islam dan bangsa.
Karenanya, lanjut KH Fauzi, MUI memiliki tugas mulia untuk membawa Islam dan Indonesia secara bersamaan menjadi umat terbaik di berbagai unsur kehidupan. Indonesia sebagai negara dengan masyarakat Muslim terbesar di dunia, harus unggul pada setiap aspek kehidupan dengan tetap berbasis akhlak mulia.
Tidak mungkin kita umat Muslim sebagai kekuatan mayoritas dapat berperan strategis kalau kita masih tertinggal dalam setiap bidang kehidupan. “Kami berharap MUI terus meningkatkan perannya bagi umat dan bangsa,” harap putra almarhum KH Mohammad Tidjani Djauhari MA tersebut.
Dalam penuturannya, KH Fauzi juga turut berpesan agar MUI dapat terus menjadi rumah besar yang dapat menaungi umat Islam dari segala golongan. Sebab MUI ini merupakan dome raksasa, rumah besar, yang tidak akan mampu berdiri kecuali disangga pusaka-pusaka yang kokoh. Sebagaimana tiang kubah raksasa MUI sejatinya disangga ulama, zuama, cendekiawan, dan umat Islam, sehingga jika salah satu pilar-pilar ituΒ tercabut maka akan lemah dan tidak kokoh.
“Selama ini MUI dapat memosisikan diri secara baik untuk umat dan bangsa dengan Islam moderatnya. Sehingga dapat menyelesaikan perbedaan-perbedaan di antara ormas Islam satu dengan yang lainnya,” pungkas KH Fauzi kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]




















