Membaca adalah tindakan yang produktif. Membaca menjadi jendela dunia. Tanpa membaca, kita akan terkungkung di dalam dunia kita, sehingga gagap jika berhadapan dengan dunia lain.
Membaca bukan hanya soal mengeja huruf menjadi kata dan seterusnya. Pada saat membaca kita harus memahami makna di baliknya dan mengarahkan perilaku kita ke arah makna yang didapatkan dari bacaan kita. Membaca adalah membentuk dan mengasah pola pikir manusia.
Gerakan literasi memang membutuhkan waktu yang relatif lama. Namun pelan-pelan, pasti akan terlihat dampaknya. Semangat pantang menyerah inilah yang hingga sekarang masih berkobar di sejumlah lembaga pendidikan yang telah menggalakkan aksi ‘melek’ literasi di sekolahnya, berikut ulasannya:
Pondok Modern Darussalam Gontor
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) sejak dulu telah menanamkan pentingnya budaya membaca dan menulis dengan menggiatkan serangkaian kegiatan menarik antara lain Fathul Kutub, tugas karya tulis ilmiah, dan ragam pelatihan jurnalistik untuk para santri.
Belum lama ini, pelatihan jurnalistik serta pelatihan menulis cerpen buah sinergi Majalah Gontor dan Penerbit Erlangga juga telah sukses diadakan di PMDG Kampus Putra dan Putri. Semua itu untuk menggaungkan minat ‘melek’ literasi santri.
KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Gontor pernah berpesan bahwa membaca sama pentingnya dengan makan dan minum. Membaca dan menulis dapat mengisi hati nurani dengan cahaya Allah. “Jika tidak membaca, maka orang akan mudah disesatkan oleh iblis dan Dajjal,” tekan KH Hasan, peraih Tokoh Perbukuan di Islamic Book Fair (IBF) 2024 tersebut.
Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura, telah melakukan berbagai upaya untuk menumbuhkan semangat literasi di kalangan santri. Di antara beberapa inisiatif yang biasa dilakukan PP Al Amien Prenduan dalam upaya ini ialah membentuk kelompok minat menulis santri, penerbitan majalah dan buletin pesantren, penerbitan buku untuk para calon wisudawan, penulisan paper ilmiah dan resensi buku oleh santri kelas enam, diskusi ilmiah, pekan menulis santri, serta berbagai pelatihan literasi dengan menghadirkan sejumlah tokoh inspiratif.
Guna mengobarkan semangat literasi santri, Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani MA, Pimpinan dan Pengasuh Ponpes Al-Amien Prenduan menyampaikan agar para santri memahami pentingnya literasi dalam Islam, menjadikan budaya membaca sebagai kebiasaan seumur hidup, mengembangkan keterampilan menulis, memanfaatkan teknologi secara bijak untuk literasi digital dan berani berdiskusi juga bertanya.
“Ambil inspirasi para tokoh Islam yang cemerlang dalam literasi, dan buatlah target literasi pribadi seperti membaca satu buku per bulan atau menulis satu artikel per pekan,” pungkas KH Fauzi Tidjani.
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta
KH Hadiyanto Arief, Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta menjelaskan bahwa sejatinya para santrinya sejak duduk di bangku kelas empat Tarbiyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (TMI) atau setara Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah sudah diwajibkan untuk membuat autobiografi. Ketika beranjak kelas lima TMI, santri juga wajib membuat sinopsis buku, dan saat kelas enam TMI diwajibkan membuat karya ilmiah.
Selain itu, belum lama ini Ponpes Darunnajah juga telah bekerjasama dengan Majalah Gontor menggiatkan Pelatihan Jurnalistik Aksi Literasi yang berjalan selama tiga hari berturut-turut pada Oktober 2024. Menghadirkan sejumlah narasumber tim jurnalis Majalah Gontor yakni Ustadzah Edithya Miranti, Ustadz M Deny Irawan, dan Ustadz Khaerul Muttaqin.
Pondok Modern Darussalam Purwakarta
Semangat meningkatkan budaya literasi ke para santri juga terasa begitu kental di Pondok Modern Darussalam Purwakarta. Pondok yang baru berdiri pada 16 Agustus 2023 dan terletak di Rawa Mekar, Tegal Munjul, Purwakarta, Jawa Barat, itu pada akhir Oktober 2024 telah berhasil menggelar Pelatihan Menulis Cerita Pendek dengan tema “Bergerak Serentak Maju Bersama Santri Indonesia”.
Turut hadir sebagai narasumber Asri Rakhmawati atau yang dikenal dengan Achi TM, yang merupakan seorang penulis buku dan skenario. Kegiatan itu merupakan buah kerjasama antara pihak pondok setempat, Majalah Gontor, dan Penerbit Erlangga.
SIT Insantama, Leuwiliang, Bogor
Sekolah Islam Terpadu (SIT), baik Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) maupun Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Insantama, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, merupakan salah satu sekolah yang konsisten membimbing anak didiknya untuk maju dan berkembang menyelami dunia literasi. Hal itu sebagaimana disebutkan Ustadz Ir H Ahmad Soim, Ketua Yayasan Amanah Insantama Leuwiliang bahwa sekolahnya mengadakan kegiatan literasi dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan lomba literasi pada setiap semester.
Kepada Majalah Gontor, Ahmad Soim menjelaskan, “Di SDIT, pertama kita ada kegiatan pelevelan literasi setiap kelas, dari kelas satu hingga enam.” Contohnya, level satu, bagi siswa yang belum bisa atau belum lancar bacanya. Level dua, siswa dibagikan satu lembar cerita untuk dibaca dan dipahami. Level tiga, siswa diajak membaca, memahami dan mind mapping artikel yang dibaca. Level empat, siswa membaca, menceritakan, menulis cerita yang dibaca dengan bahasanya sendiri, dan mengambil hikmahnya.
Kedua, dilaksanakan lomba literasi. Ketiga, setiap bulan pada setiap angkatan dipilih siswa literat, yakni siswa yang suka baca, bercerita, menulis, dan mengambil hikmah cerita.
Selain itu, SDIT Insantama juga memfasilitasi perpustakaan sekolah dan berupaya menambah jumlah dan ragam buku koleksi perpustakaan.
Sedangkan di SMPIT Insantama, dalam KBM diadakan literation day tiap bulan. Mereka membawa buku bacaan Islami ke sekolah, untuk dibaca, diambil hikmahnya, bercerita, dan menulis. Kegiatan itu juga turut mengundang pembicara yang literat, misalnya penulis.
Dalam pembinaan kesiswaan, diadakan pula lomba literasi antar siswa. Ia pun menambahkan bahwa tantangannya adalah membawa budaya literasi berbasis lembaran kertas untuk SD, dan buku untuk SMP, dari budaya siswa menggunakan handphone.
SDI Al-Raudlatul Amien, Gresik
Nurul Farida SPd, pengajar Sekolah Dasar Islam Al-Raudlatul Amien (IRADA), Gresik, menjelaskan beberapa program literasi di sekolahnya, antara lain, gerakan membaca buku setelah jam Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ), mendatangkan perpustakaan keliling dari penerbit buku ke sekolah, membuat majalah dinding, menulis buku cerita juga puisi yang sudah banyak diterbitkan, kegiatan Wonderfull Gresik, dan sebagainya.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi pihak sekolah untuk beragam giat literasi tersebut ialah peran gawai, khususnya untuk meningkatkan literasi online yang masih terkendala.
Nurul pun berpesan agar menyelipkan kegiatan projek profil pelajar Pancasila dengan membuat karya seperti komik sederhana dan lainnya.
SMAN 1 Leuwiliang, Bogor
Tak mau ketinggalan, sebagaimana diutarakan Dra Batin Wardah MPd selaku Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Humas Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Leuwiliang, Bogor, kepada Majalah Gontor bahwa sekolahnya juga telah membudayakan gerakan literasi dengan mengajak siswa untuk sering membaca buku, menyediakan bahan bacaan di perpustakaan, membuat program “Smanell Geulis” atau gemar menulis, penyediaan pojok literasi di setiap kelas, meminimalisir penggunaan gawai, serta program duta perpustakaan dan sahabat pustaka.
Kepada Majalah Gontor, Daffah Syamila Rusydi, salah satu Duta Literasi di Smanell menjelaskan bahwa tugas yang diberikan kepada Duta Literasi secara resmi adalah merawat perpustakaan, membuat survei buku berdasarkan minat siswa, dan membangun relasi terhadap masyarakat dalam Smanell maupun luar Smanell.
Di antara program yang dicanangkan Duta Literasi kali ini ialah Program SON (Smanell Online Novel), Program Artikel Berita Smanell, juga Bakti Sosial (tiap semester).
“Bakti sosial ini merupakan program kami yang paling berkelas, dimana kami akan mengunjungi daerah terbelakang dan memberikan mereka buku-buku hasil donasi para siswa dan perpustakaan, sekaligus menjelaskan materi dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar,” tutup siswi kelas sepuluh SMAN 1 Leuwiliang itu. []






















