Tripoli, Gontornews — Pasukan Zawiya di Libya Barat, Rabu (31/3/2021), membebaskan lebih dari 100 tawanan dari tentara nasional Libya yang berbasis di Timur. Pembebasan ini terjadi untuk memperkuat gencatan senjata yang telah berlangsung selama berbulan-bulan serta bergerak menuju persatuan nasional.
Ratusan orang tersebut telah ditawan sejak April 2019 ketika Khalifa Haftar melancarkan serangan untuk merebut kendali ibukota, Tipoli.
Pihak Libya yang bertikai menyetujui gencatan senjata pada Oktober di Jenewa. Pembicaraan politik bulan ini mengarah pada kesepakatan untuk mendirikan pemerintahan baru, yang mempersatukan dua pemerintah saingan di Timur dan Barat.
“Kegembiraan seperti itu tidak ada harganya,” kata Khalif al-Kilan, ayah dari seorang tawanan yang menghadiri upacara pembebasan di Zawiya.
“Ini adalah proyek nyata untuk rekonsiliasi nasional,” kata Wakil Perdana Menteri dari pemerintahan yang baru, Ramadan Abujanah kepada Reuters.
Tawanan yang bebas pascarekonsiliasi ini terlihat menggunakan peci putih dengan rambut tercukur. Keluarga tawanan bersorak gembira sambil melambaikan tangan sebelum akhirnya bertemu dengan anggota.
Meski berbasis di Timur, mayoritas tawanan pasukan nasional Libya Haftar berasal dari kota-kota di Barat.
Musa Al-Koni, soerang anggota dari tiga orang Dewan Kepresidenan yang mewakili Libya Selatan, juga menyerukan pembebasan tawanan serupa di Timur dan Selatan. [Mohamad Deny Irawan]


















