Kalau saya pergi dari Indonesia ke sini, sudah zaman modern tapi naik kapal laut, itu tidak sederhana, menyiksa diri karena ada Air Asia. Kalau naik haji sekarang itu lewat darat, itu tidak sederhana. Itu namanya menyiksa diri dan dalam Islam nggak ada akidah menyiksa diri.
Kemudian Berdikari, dalam artian mendidik para santri itu untuk berdiri sendiri dalam mengurus dirinya sendiri, karena tanpa itu sulit hidup di Masyarakat. Ini termasuk pondoknya harus berdikari, dalam artian pendanaan, kurikulum kita buat sendiri, kita evaluasi sendiri kemudian pemeriksaan sendiri, tidak ada campur tangan dari kerajaan (pemerintah). Ini namanya mandiri. Oleh karena itu pendanaan itu juga bukan dari kerajaan, kita usahakan sendiri. Kemudian Ukhuwah Islamiyah, tidak ada sukuisme di pondok kita. Bahkan (di pondok kita) bangsanya bukan hanya Indonesia saja. Ada Thailand, Malaysia, Brunei, Singapura, Australia, Amerika, Korea dan bahkan Rusia. Maka Ukhuwah Islamiyah di Gontor pada hakikatnya internasionalisme.
Kemudian Kebebasan. Kita bukan memberikan kesempatan untuk berpikir sebebas-bebasnya sehingga menjadi liberal, lepas dari kendali akidah islamiyah dan syariat Islamiyah. Bukan! Tapi pengertiannya adalah terbuka. Kita terbuka, bukan jumud. Ini penting! Kita ajarkan Madzhab Syafi’i, wajib! Tetapi selepas itu, seluruh madzhab kita ajarkan di Gontor. Mengapa? Sebab kalau dia hanya paham Madzhab Syafi’i saja, lalu dia pergi ke Mekkah melihat orang di sana ada gerakan shalat yang berbeda, itu dianggap tidak benar. Saya pernah pergi ke Pakistan, waktu shalat Jumat semua diam, yang bunyi Aamiin hanya saya sendiri, sehingga mungkin bagi orang Pakistan, “Oh, ini tamu.” Di sana, setelah Ghairil Maghdhubi ‘alaihim wa laddhallin tidak ada bunyi Aamiin. Lah, kalau kita tidak paham perbedaan madzhab semacam ini, itu akan menjadi jumud dan langsung menyalahkan madzhab lain. Sedangkan Islam itu luas dan luwes. Pergi ke Mekkah, kesenggol wanita wudhu batal, nah itu Madzhab Syafi’i, tapi kalau Madzhab Hanafi tidak. Kalau ini dianut, kita tidak bisa umrah ataupun thawaf. Kenapa? Mesti tersenggol Wanita, kalau kita tidak menyenggol, pasti disenggol. Oleh karena itu kita perlu tahu madzhab lain. Inilah maksudnya Kebebasan.
Kemudian, itu diteruskan dengan Panca Jangka Pondok Modern Darussalam Gontor yaitu pendidikan dan pengajaran, ini nanti kita jelaskan ada tingkat university ada tingkat menengah. Kemudian Kaderisasi, kaderisasi ini bukan mengurusi sistem pendidikan saja. Di Gontor juga ada bisnis, artinya untuk mendukung Pendidikan, Gontor melaksanakan unit-unit usaha untuk mencukupi keperluannya. Ketiga, yaitu pergedungan, namanya sarana dan prasarana. Nah, kita juga usahakan bahwa kalau pendidikan Islam dikatakan kolot, kumuh dan terbelakang, kita tidak mau. Kita juga ingin menampilkan pendidikan Islam itu yang modern, bukan hanya dari sistem dan metodenya tapi dari segi penampilannya atau performanya. Kita ingat orang Inggris mengatakan, “performance is power”. Lah, kita juga menganut itu, walaupun tidak mutlak.
Kemudian Khizanatullah yaitu pendanaan yang kami sebutkan tadi bahwa kita membuat unit-unit usaha yang sekarang ada sekitar 40 unit usaha, baik itu yang kecil maupun yang besar, yang terbesar hasilnya yaitu percetakan. Kemudian Kesejahteraan Keluarga, yang dimaksud kesejahteraan itu adalah seluruh pengurus yang ada di pondok itu, baik yang di bidang pendidikan atau di bidang usaha atau bisnis, itu keluarga. Keturunan pendiri pondok bukan dianggap keluarga kalau dia tidak ikut campur di dalam urusan pendidikan.
Kemudian motto yang kita canangkan kepada para santri yaitu: berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas. Keempatnya ini tidak boleh dikurangi ataupun ditambah. Karena itu, ini dihayati dan dilaksanakan oleh seluruh santri, guru, dan kiai. Kami ulangi lagi, berpikiran bebas adalah terbuka.
Kita sengaja memberikan sintesa kepada Pondok Gontor ini, yang diambil dari: pertama, University Al Azhar di Mesir. Apa yang kita ambil dari sana? Yaitu keluasan tanah wakafnya atau sistem perwakafannya. Kemudian kekuatan segi pendanaannya yang telah membiayai ribuan mahasiswa, memberikan beasiswa, dan tidak berpolitik praktis. Inilah Al Azhar. []





















