Maryland, Gontornews — Riset yang dilakukan oleh National Institute of Health (NIH) Maryland, Amerika Serikat menunjukkan bahwa vaksin malaria tidak berdampak pada COVID-19. Penelitian yang diterbitkan dalam BMJ Journal tersebut menjelaskan bahwa konsumsi hydroxychloroquine tidak berdampak signifikan bagi pasien COVID-19 dibanding mereka yang tidak mengonsumsi.
Penelitian ini didasarkan pada uji coba yang dilakukan secara acak terhadap 150 pasien COVID-19 ringan hingga sedang di Cina. Hasilnya, penggunaan hydroxychloroquine tidak lebih baik dan tidak lebih cepat ketimbang mereka yang tidak menggunakan obat malaria tersebut. Tidak hanya itu, efek samping penggunaan vaksin malaria tersebut juga terbilang tinggi bagi pasien.
Selain Cina, penelitian serupa juga dilakukan terhadap pasien COVID-19 di Perancis. Hasilnya tidak jauh berbeda. Peneliti menemukan bahwa obat malaria itu tidak secara signifikan mengurangi pasien dalam perawatan intensif atau mengurangi kematian akibat COVID-19.
“Ada bukti anekdotal bahwa hydroxychloroquine dan azithromycin dapat memberi manfaat pada pasien COVID-19. Tetapi, kami membutuhkan data dari uji klinis acak dalam jumlah besar untuk menentukan apakah eksperimen ini aman dan dapat meningkatkan hasil klinis,” kata Direktur NIAID, Anthony Fauci, Kamis (14/5).
Sebagaimana diketahui, permintaan global untuk obat hydroxychloroquine melonjak setelah Presiden Donald Trump mempromosikannya sebagai vaksin COVID-19. Sejak saat itu, pemerintah pun mengizinkan penggunaan vaksin tersebut untuk pasien COVID-19.
Namun, obat tersebut belum terbukti efekit dalam melawan penyakit yang disebabkan oleh virus asal Wuhan tersebut. Badan pengawas makanan dan obat-obatan Amerika Serikat melarang penggunaan obat malaria untuk pasien COVID-19 karena berisiko menciptakan masalah irama jantung serius. [Mohamad Deny Irawan]




















