Melbourne, Gontornews — Sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti asal Monash University Melbourne menemukan bahwa perubahan angin musim semi di atas Kutub Selatan memicu suhu yang lebih tinggi di Australia.
“Sejauh ini perhatian kami difokuskan pada pentingnya pemanasan stratosfer di belahan bumi sebelah utara dan dampaknya terhadap iklim ekstrem,” kata peneliti dari ARC Centre of Excellence for Climate Extremes and School of Art, Atmospher and Environmental Monash University, Dr Ghyslaine Boschat.
“Studi ini kami rasa penting karena penelitian kami adalah yang pertama yang berjenis identifikasi seta mengukur hubungan langsung antara variasi-variasi yang ada di kutub Antartika pada musim semi, musim panas dan kering di Australia mulai akhir musim semi hingga awal musim panas,” tambahnya sebagaimana dilansir Scitech Daily.
“Penelitian ini memiliki implikasi besar bagi prediktabilitas iklim ekstrem di Australia serta kemungkinan wilayah lain di wilayah di belahan bumi bagian selatan,” tuturnya.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr Eun-Pa Lim dari Biro Meteorologi Monash University di Melbourne itu juga memaparkan bahwa suhu panas ekstrem dan kering di Australia berdampak buruk terhadap kesehatan manusia serta ekosistem alam jika tidak dapat diantisipasi.
Terlebih, perubahan angin musim semi yang tinggi di atas Kutub Selatan sangat berdampak terhadap iklim permukaan di Australia. Akibatnya, suhu menjadi lebih hangat, curah hujan yang berkurang, meningkatnya gelombang panas hingga risiko kebakaran hutan yang meluas.
“Temuan ini dapat membantu kami dalam memprediksi dan mempersiapkan peristiwa ini baik di Australia maupun wilayah lain di belahan bumi bagian Selatan dengan waktu yang cukup,” kata rekan peneliti, Julie Arblaster, dalam penelitian yang diterbikan dalam jurnal daring, Nature Geoscience itu.
Secara teknis, penelitian ini menggunakan hasil pengamatan iklim dari tahun 1979 hingga 2016 untuk mengidentifikasi tahun-tahun pemanasan stratosfer yang kuat dan menghitung kemungkinan memiliki kondisi yang sangat panas dan kering di Australia.
Mereka menemukan bahwa peluang terjadinya panas ekstrem dan kering nampak meningkat sekitar empat hingga delapan kali ketika peristiwa pelemahan vortex kutub yang signifikan terjadi.
“Inilah sebabnya mengapa banyak perhatian sejauh ini berfokus pada pentingnya mengetahui pemanasan stratosfer di belahan bumi utara dan dampaknya pada iklim ekstrem.”
“Tetapi kita sekarang tahu bahwa ada hubungan langsung antara variasi dalam pusaran kutub Antartika di musim semi dan panas ekstrem dari akhir musim semi ke awal musim panas di Australia,” pungkas Eun-Pa Lim. [Mohamad Deny Irawan]






















