Perebutan harga diri dan pemaksaan penghargaan modus operandi kebinatangan yang terselubung dengan kamuflase kekotoran acapkali berlindung di bawah slogan-slogan “ilmiah, efisien, sistematis” dan semacamnya. Kebenaran tulen dan mutlak dipaksa menolerir relativitas ilmu (ilmiah) hasil temuan. Banyak manusia lupa Allah sehingga lupa diri menjadi setan, sumber kerusakan. Manusia iri kepada binatang, wanita iri kepada pria, pria iri kepada wanita, demikian seterusnya, sehingga tak sadar bahwa iri, dengki, dendam, dan sebagainya tidak merugikan kecuali dirinya sendiri, belum tentu merugikan orang lain.
Menyalahkan takdir Allah atau menimpakan kesalahan pada pihak lain sia-sia tanpa guna. Pujian dan cacian harus hanya dijadikan sejarah bila seseorang sadar diri dan berakal, sebab pujian hanya milik Allah dan cacian hanya akibat ulahnya sendiri.
Seharusnya manusia tidak boleh pernah lengah sedetik pun bahwa hanya kepada Allah jualah ia takut dan hanya kepada-Nya ia mengharapkan ridha.
Manusia dalam sejarahnya pernah benar dan pernah salah, sedangkan Allah Mahabenar selama-lamanya. Banyak rambu kehidupan kurang ditaati, hingga seakan-akan tidak diperlukan lagi. Iblis ringan tugasnya, karena banyak manusia menjelma menjadi iblis nyata.
Menuju kesempurnaan hidup harus secara bersih dan suci serta menjalankan kehidupannya dengan kesucian hati, pikiran, fisik, pakaian. Jabatan dan harta kekayaan harus bersih dan selalu dibersihkan. Yang suci dan bersih akan bersih dan yang kotor akan kotor, padahal Allah tidak menerima kecuali yang bersih dan suci.
Keteladanan umat Islam menjadi kewajiban utama sebagai syarat keberhasilan. Ketidak-adaannya menyulitkan dan menjauhkan masuknya tuntunan dan ajaran ke dalam hati umat manusia. Cinta bisa masuk meskipun pintu tertutup karena jendela-jendela hidayah diterima, diterobos oleh hati-hati yang bercinta. Hanya hidayah dari Allah yang berperan menentukan cinta dan mengarahkannya pada yang Mahasuci.
Hasil yang kurang maksimal oleh kaum tua dalam mendidik generasi muda harus menyadarkan semua pihak. Mental-mental kolonial, penjajahan, watak ketergantungan yang sudah kumal dan kuno sudah saatnya dihilangkan, apalagi ketergantungan umat kepada selain Allah dan ajaran-Nya.
Miliu yang ada di sekitar umat cukup menantang dan menguji, dan itulah risiko manusia-manusia pilihan. Keteguhan, kesungguhan dan kesadaran hidup ternyata menjadi pekerjaan setiap orang. Dengan ujian dan musibah manusia, khususnya orang-orang pilihan harus mengalaminya sendiri secara langsung.
Kemurnian syahadat, kekhusyukan shalat, keikhlasan zakat, kesucian puasa, kesempurnaan haji, kejujuran usaha, keadilan dalam menghukumi, keteladanan pendidik dan lain-lain diuji oleh 1001 godaan.
Kebendaan, kebebasan, kemaksiatan terbuka luas, janganlah ia menjadi alasan untuk menghancurkan jatidiri, harga diri, kesehatan dan masa depan dirinya sendiri, keluarga, bangsa maupun negara. Krisis demi krisis, penyesalan demi penyesalan. Iman digadaikan, bangsa dijualbelikan kepada pihak yang tak suka umat beriman, hati nurani diserahkan kepada setan dan iblis hanya untuk kelezatan sekejap. Ini contoh kebinatangan modern, masa kini.
Amal shalih ataupun jasa selalu ada, harus tidak memberi kesempatan kepada “alasan”.
βBahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannyaβ. (Al-Qiyamah: 14-15)
Banyak kalangan yang ingin menyelesaikan masalah tapi justru menjadi dan mendatangkan masalah baru. Membersihkan dengan kotoran, memperbaiki dengan kejahatan. Ada pula yang merasa paling suci, paling benar tidak mau menerima pendapat atau kehadiran orang lain, sehingga pada akhirnya ia kembali ke pojok-pojok kecil dalam dunia ini, tidak punya peran di tengah luasnya kemajuan masyarakat dan kemasyarakatan, menjadi makanan empuk bagi petualangan-petualangan, bunglon-bunglon, tikus-tikus berjenggot bermain volley, getol bersilat lidah berebut gengsi namun tak bisa lagi menipu kepekaan hati nurani umat. Yang paling berbahagia hanyalah umat yang selalu sadar sejak awal hingga akhir, karena di sanalah Allah bersama malaikat-Nya selalu menyertainya.[]






















