Yogyakarta, Gontornews — Di hari ke-5 dari Surabaya Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menuju wilayah Yogyakarta, untuk melanjutkan Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam. Kali ini peserta PKU angkatan 13 bekerja sama dengan segenap Civitas akademika Pesantren Ibnu Al-Qoyyim Putri Yogyakarta.
Pada kesempatan kali ini, pemateri yang akan mempresentasikan makalahnya ada tiga. Pertama, Esty Diah Imaniar membawakan makalah dengan judul “Islamic sustainable fashion: sebuah tawaran ekologi dan ekonomi Islam dalam industri fashion global”. Kedua, Ayu Arba Zaman dengan judul “Konsep Tubuh dalam RUU-PKS: Sebuah Tinjauan Kritis”. Ketiga, Nurlaili Ahmada dengan judul “Konsep Kafir dalam Al-Qur’an” Dan yang kedapatan kesempatan untuk menjadi moderator ialah Syekha Anintya.
Seminar diawali dengan pembukaan yang dipimpin oleh MC dari pihak pesantren. Lalu pembacaan al-Qur’an dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, dari Pimpinan Pondok pesantren serta pembimbing rombongan PKU yang dibawakan oleh al-Ustadz Ishomuddin selaku dosen Universitas Darussalam Gontor.
Sambutan hangat dibarengi dengan candaan diberikan dari pihak pondok pesantren yang dihaturkan oleh KH. Hisyam Safi’i kepada para peserta seminar beserta para peserta PKU. Ia memberikan ucapan rasa syukur dan bahagia atas kedatangan PKU UNIDA Gontor ke pesantren ini karena kedatangan tamu dengan membawa ilmu berkenaan dengan Pemikiran dan Peradaban Islam sangat jarang. Diharapkan kunjungan dan silaturahim PKU dan pihak pesantren berjalan lancar disetiap tahunnya.
Sambutan kedua, dari salah satu pembimbing PKU 13 UNIDA Gontor, yaitu Ustadz Ishomuddim Beliau mengawali dengan penyampaian ucapan salam dari para Rektor UNIDA Gontor untuk pihak pesantren beserta jajarannya. Kemudian beliau menjelaskan secara singkat tentang Program Kaderisasi Ulama di depan peserta seminar, dengan harapan nantinya dari pihak lembaga jika berniat untuk mengirimkan utusannya kepada program ini akan diterima dengan syarat mau belajar bersungguh-sungguh dan untuk lainnya hanya bersifat formalitas.
Setelah itu, MC memberikan acara ini sepenuhnya kepada moderator untuk memandu acara seminar pemikiran dan peradaban Islam. Syekha Anintya selaku moderator memberikan waktu 15 menit kepada setiap pemateri guna mempresentasikan makalahnya yang mana setiap pemakalah memberikan beberapa kesimpulan.
Pertama, Konsep fashion ada karena permasalahan ekologi yang dihasilkan industri fashion, walau memberikan dampak yang baik, akan tetapi konsep ini berangkat dari pandangan antroposentrisme dengan konstruksi pemikiran materialisme yang pada akhirnya berbeda dengan apa yang ada dalam konsep Islam.
Kedua, Definisi kekerasan seksual di dalam RUU P-KS memiliki latar belakang epistemologis yang berangkat dari tesis Marx yang mengatakan bahwa penindasan yang terjadi secara alamiah melainkan memang ada satu sistem yang menguasai subjek atas satu objek.
Ketiga, sentimen terhadap kata kafir yang terjadi disebabkan oleh kesalahan penempatan kata ini yang tidak sesuai dengan konteks maupun keadaan di lapangan. Kemudian diteruskan dengan tanya jawab, setelah itu moderator memberikan waktunya kembali kepada MC.
Epilog disampaikan oleh Ustadz Ishomuddin menurutnya secara umum dari penyampaian ketiga pemakalah tadi sudah baik dalam menyampaikan gagasan mengenai ide-ide yang fresh dan menggugah wacana intelektual. [Fauzan Adzima]






















