Abraham Wincoln mengatakan, “Kalau Anda ingin mengetahui watak seseorang berilah ia kekuasaan”. Abraham Wincoln itu anak dari petani kacang yang tinggal di Kentucky tapi dia seorang lawyer dan ahli perundang-undangan yang menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-16. Itulah kata-katanya, hampir sama dengan al Qur’an dan Hadis. Dalam A-Qur’an disebutkan kekuasaan menjadi fitnah, musuh, dan penggoda bagi umat manusia. Maka, hati-hati!
Nah, kepemimpinan yang paling tepat adalah arraid, arrais, arra’i. Jadi pimpinan jangan meninggalkan umatnya. Harus bisa mengasuh kebersamaan, bersama dengan yang diasuh, bersama yang dipimpin, mempunyai kepemimpinan yang baik, manajemen yang baik, dan memiliki inisiatif yang baik. Inilah kepemimpinan yang kita ajarkan dan itu islami.
Maka anak-anakku supaya berhati-hati, supaya selalu waspada. Kalian sudah pernah dengar kata Tajarrud yang bermakna melepaskan diri, mencopot diri, mengelupas diri minal aghrad ad dunyawiyah as safihah, ad daniah, ar radzilah. At-tajarrud dalam ilmu Sharaf fi’l mujarrad, fi’l mujarrad artinya ma salima minaz ziyadah. Maka kita bertajarrud berarti melepaskan daripada tambahan-tambahan, melepaskan daripada keduniaan yang pendek. Ini namanya tajarrud.
Nah, di dalam menjalankan ini pimpinan memakai pola tajarrud. Tajarrud artinya tadrijiyyan, bertahap, jangan drastis, jangan mutlak-mutlakan atau menyakitkan yang akhirnya yang dipimpin tidak mau dipimpin. Ada waktunya, ada tempatnya. Waktu pagi dikerjakan pagi dikerjakan pagi jangan siang-siang. Waktu siang dikerjakan siang jangan dikerjakan sore. Waktu sore jangan dikerjakan malam. Laa tuakhir ‘amalakal yawm ilal ghad ma taqdiruhu an ta’malahul yawm. Jangan mengakhirkan pekerjaan sekarang sampai besok.
Inilah pendidikan. Saya ingatkan kita mendidik bukan sesuai dengan UNESCO. Learning to know, learning to do, learning to live together, learning to be. Sebab, pondok ini lebih dulu daripada UNESCO, karena pondok ini lebih dulu berdirinya Indonesia. Pondok ini berdiri sebelum berdirinya PBB. Alhamdulillah kita sudah lebih dahulu dengan pola pendidikan yang sesuai dengan persyaratan dan kriteria mereka.
Saya ingatkan terus bahwa Zionisme kelompok Yahudi ingin menguasai dunia dengan segala cara, dengan harta, tahta, wanita, senjata, dan sebagainya. Orang yang pintar menindas yang bodoh, orang yang kaya menindas yang melarat dan miskin, orang yang besar menindas yang kecil, orang yang kuat menindas yang lemah. Waktu mereka besar mereka menindas, waktu mereka kecil mereka meliciki. Itulah Bani Israil yang dipimpin oleh steering comitte yang namanya Zionisme.
Bani Israil itu ada di Timur Tengah. Bapaknya adalah Nabi Ya’qub. Anaknya banyak sekali dan hanya satu yang benar yaitu Nabi Yusuf. Inilah nasib kita. Umat Islam itu menjadi Nabi Yusuf dimusuhi sebelas orang, ahada ‘asyara kaukaba. Tapi akhirnya mereka bersujud. Nabi Yusuf terpenjara, bahkan dicemplungkan ke sumur, ditenggelamkan dan diceburkan ke sumur. Untung sumurnya kering. Ada cerita waktu kecil, Yusuf masih hidup atau mati. Ditunggu dan dilempari batu dari atas. Kata cerita tandanya Yusuf masih hidup atau mati dilempari batu dari atas. Dilempari batu Yusuf masih hidup, dan dilempari lagi masih hidup juga, dan lama-lama suara Nabi Yusuf habis lalu diam padahal belum mati. Akhirnya tidak dilempari batu lagi. Ceritanya ada tambah-tambah, kan mengarang itu gak apa-apa.
Ada kabilah datang kehausan lalu mengambil air pakai timba di sumur itu. Lho ini kok lucu ya, airnya bisa tertawa, kata seorang yang menimba air. Ternyata ada Nabi Yusuf di dalam sumur itu. Akhirnya ia diangkat dan dibawa oleh kabilah. Pendek cerita Nabi Yusuf dimasukkan penjara karena dicintai oleh Zulaikha. Keluar penjara jadi menteri, masuk istana. Jadi kalau dulu ada orang dari penjara masuk istana, sekarang banyak orang dari istana masuk penjara karena korupsi. []






















