Istanbul, Gontornews — Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dewan Sains Kementerian Kesehatan Turki menemukan, tingkat rawat inap dan kebutuhan perawatan di unit perawatan intensif (ICU) di antara orang-orang yang telah menerima vaksin COVID-19 rendah.
Dewan itu telah menyelesaikan penelitiannya tentang efek injeksi yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Cina, Sinovac.
“Penelitian dilakukan setelah 15 juta dosis vaksin telah diberikan. Kami memeriksa orang-orang yang tertular virus setelah menerima dosis pertama dan kedua,” kata Prof Dr Sema Kultufan Turan dari Dewan Sains dikutip Hurriyetdailynews.com.
Hanya 2.500 orang yang memperoleh vaksin tertular virus, katanya. Itu termasuk mereka yang tidak menaati aturan anti-virus dan mereka yang memiliki COVID-19 setelah 14 hari penyuntikan (vaksinasi).
Hampir tidak ada dari 2.500 orang itu yang membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif, menurut Turan.
Sebelum vaksinasi dimulai, sekitar 18 persen pasien COVID-19 berusia 65 ke atas perlu dirawat di ICU, tetapi angka ini turun di bawah 10 persen dan situasinya sama dengan petugas kesehatan, tambahnya.
Turki meluncurkan program vaksinasi pada 14 Januari, dimulai dengan staf perawatan kesehatan garis depan dan orang tua. Negara itu sekarang menggunakan vaksin Sinovac dan Pfizer/BioNTech.
“Vaksinasi di Turki mencapai kesuksesan yang signifikan. Karena itu, vaksinasi harus terus dilakukan secara efektif dan mantap,” imbuhnya.
Turan juga menunjukkan bahwa semakin banyak orang berusia antara 20 dan 65 yang dirawat di rumah sakit karena virus tersebut. “Kami harus menghentikan penyebaran wabah,” katanya.
Sementara itu Menteri Kesehatan Turki Fahrettin Koca mengumumkan pada 19 April bahwa okupansi perawatan intensif di Istanbul mencapai 71,4 persen di tengah lonjakan kasus virus korona. Tingkat hunian ICU di seluruh negeri sedikit lebih dari 69 persen. []


















