Ankara, Gontornews — Tentara Libya pada 18 Mei mengambil kembali pangkalan udara Al-Watiya yang ditempati oleh milisi panglima perang, Khalifa Haftar. Pangkalan udara utama itu sekarang kembali di bawah kendali pemerintah setelah sekitar enam tahun di bawah pasukan pemberontak.
Kemenangan tersebut diumumkan oleh kantor media dari Operasi Burkan Al-Ghadab (Volcano of Rage Operation) yang dipimpin pemerintah, mengutip Osama al-Juwaili, komandan Peace Storm Operation.
Hurriyetdailynews.com merilis, langkah itu dilakukan setelah tentara Libya menghancurkan total tiga sistem pertahanan udara Haftar jenis-Pantsir buatan Rusia yang dipasok oleh Uni Emirat Arab (UEA) dalam 48 jam terakhir.
Al-Watiya dipandang sebagai pangkalan udara utama, kedua setelah Bandara Mitiga. Al-Watiya direbut pada 2014 oleh Haftar, pemimpin pasukan bersenjata ilegal di Libya timur, yang menggunakannya sebagai markasnya untuk serangan terhadap pemerintah yang sah.
Haftar meningkatkan serangan terhadap warga sipil Mei ini, karena tentara Libya baru-baru ini mendapatkan keuntungan dan menimbulkan kerugian besar pada militannya.
Pemerintah telah diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019, dan lebih dari 1.000 orang tewas dalam kekerasan itu. Hal ini melahirkan Peace Storm Operation (Operasi Badai Perdamaian) pada 26 Maret untuk melawan serangan di ibukota.
Menyusul penggulingan mendiang penguasa Muammar Gaddafi pada 2011, pemerintah Libya didirikan pada 2015 di bawah kesepakatan politik yang dipimpin AS. []




















