Kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari garis-garis yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Manusia tidak mungkin bisa meninggalkan atau melepaskan garis-garis yang telah ditentukan tersebut. Sejak lahir sampai masa tua, manusia tetap memiliki tuntunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan juga memiliki tuntutan dari-Nya, sebab manusia memiliki tanggungan yang dinamakan dengan “amanat”. Mengenai amanat kepada manusia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا (الأحزاب: 72)
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Al Ahzab: 72)
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mengemban amanat kehidupan di bumi ini. Amanat tersebut memiliki implikasi dalam kehidupan manusia, yaitu apabila manusia tersebut mengembannya dengan baik, maka dia akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Dan sebaliknya, siapa yang mengemban amanat tersebut dengan buruk, maka dia akan mendapatkan balasan dari keburukannya tersebut. Apalagi bagi orang-orang yang beriman kepada Allah, apabila mengerjakan amal shalih maka dia akan mendapatkan pahala. Sedangkan kalau orang tersebut meninggalkan amal shalih atau bahkan mengerjakan kemaksiatan, maka dosa dan azab akan menimpa dirinya.
Agar orang-orang yang beriman tetap menjalankan amanat dengan baik, yaitu senantiasa beramal shalih, maka para kiai mempunyai inisiatif, mendapatkan inspirasi, dan memiliki rasa keterpanggilan untuk berijtihad dalam bidang pendidikan. Pendidikan tersebut dimaksudkan agar orang-orang yang beriman dapat belajar dengan baik bagaimana cara mengatur dirinya dalam menjalan amanat yang telah diembankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pendidikan yang diinisiasikan oleh para kiai tersebut adalah pendidikan di pondok pesantren. Pendidikan di pondok pesantren adalah pendidikan keislaman, keimanan, dan kemasyarakatan, yang mendidik bidang kehidupan manusia secara total. Sehingga pendidikan di pondok pesantren itu adalah pendidikan total dan totalitas pendidikan.
Para kiai yang mendidik dengan pesantrennya tidak akan pernah meninggalkan santri-santrinya dan pondok pesantren. Hal itu dikarenakan di dalam pesantren terkandung pendidikan yang sangat penting agar manusia tetap menjalankan perannya dalam kehidupan sesuai dengan garis-garis yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pendidikan di pondok pesantren harga mati, sampai mati, bahkan kalau perlu sampai mati syahid. Tenaga, kegiatan, waktu, dana, dan pikiran senantiasa selalu tertuju pada pendidikan.
Kiai pondok pesantren selalu mendidik santri-santrinya dalam setiap rentang waktu yang ada tentang nilai-nilai kehidupan dan keislaman. Ia selalu mendidik secara totalitas hatinya, pikirannya, fisiknya, sehingga tidak akan bergeser dari tuntunan-tuntunan yang digariskan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. [Bersambung]
*Disadur dari ceramah singkat KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Oleh: Muhammad Akmal Najemi




















