Riyadh, Gontornews — Terorisme memiliki target yang sama meskipun memiliki nama yang berbeda, kata Sekretariat Jenderal Dewan Ulama Senior dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin (31/10).
Tujuannya adalah untuk menargetkan Kerajaan Saudi, yang mereka anggap musuh yang nyata karena moderasi dan menjadi jantung dari Dunia Islam.
“Apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir adalah buktinya. Penargetan Mekkah oleh Houthi dan penggagalan teror membuktikan bahwa meskipun berbeda nama dan afiliasi, tapi tujuan kelompok teror sama : Untuk menargetkan Kerajaan, ” kata pernyataan itu, seperti dilansir Saudigazette (1/11).
Pernyataan ini dibenarkan juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mayjen Mansour Al-Turki. Ia menyoroti peran masyarakat Saudi dalam menciptakan kesadaran tentang bahaya pemikiran fanatis.
Dia menghargai upaya masyarakat yang berupaya mencegah intrik organisasi teror ‘untuk memikat dan merekrut pemuda untuk operasi teroris dan subversif di dalam Kerajaan. Al-Turki mengatakan bahwa organisasi teroris lebih memilih untuk merekrut pemuda untuk operasi bunuh diri karena mereka berpikir pemuda ini dapat membocorkan rahasia jika mereka ditangkap.
Sementara itu, Bassam Al-Atiyah seorang perwira senior di Kementerian Dalam Negeri mengatakan bahwa sel terror didirikan oleh empat mahasiswa di Shaqra. Mereka terjalin kontak dengan pemimpin Daesh (ISIS) berbasis di Suriah pada tahun 2014, sebelum melaksanakan operasi terror di Kerajaan.
Al-Atiyah menjelaskan, aparat keamanan berhasil mengungkap operasi terror bom mobil yang diisi 400 kg bahan peledak.
“Bom mobil akan diledakkan selama kualifikasi Piala Dunia Arab-UEA yang ditonton oleh 60.000 penggemar sepak bola di Al-Jawara stadion di Jeddah pada Oktober 11 lalu,” tuturnya.
Maraknya aksi terror ini memicu kewaspadaan Arab Saudi dalam menanggulangi aksi terror oleh kelompok Daesh atau kelompok lain yang berafiliasi kepadanya. [Ahmad Muhajir]




















