New York, Gontornews —- Badan PBB untuk anak (UNICEF) merilis penelitiannya tentang pencemaran udara. Hasilnya, hampir satu dari tujuh anak-anak di dunia, atau sekitar 300 juta anak tinggal di daerah dengan tingkat yang pulisi udara yang sangat beracun. Lembaga ini menyebutkan, anak-anak terkena dampak enam kali lebih tinggi polusi udara, melebihi pedoman global yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Laporan ini dirilis menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB 7-18 November di Marrakech, Maroko, yang juga dikenal sebagai COP22. UNICEF menyerukan para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan segera untuk mengurangi polusi udara di negara mereka.
Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake mengatakan, polusi udara tidak hanya membahayakan anak-anak, mengganggu perkembangan paru-paru anak dan secara permanen merusak otak anak. Dengan demikian, mereka kehilangan masa depannya.
“Polusi udara merupakan faktor utama dalam kematian sekitar 600.000 anak balita setiap tahun dan mengancam kehidupan dan masa depan jutaan anak setiap hari,” terangnya seperti dilansir laman unicef (31/10).
UNICEF menemukan sekitar 2 miliar anak tinggal di daerah dengan polusi udara buruk, akibat emisi kendaraan, penggunaan bahan bakar fosil, debu dan pembakaran limbah. Jumlah terbesar terdapat di wilayah Asia Selatan, dimana sekitar 620 juta anak-anak tinggal di daerah tersebut. Disusul wilayah Afrika sekitar 520 juta anak-anak hidup dibawah udara yang kotor, di Asia Timur dan Pasifik ada 450 juta anak-anak yang tinggal di daerah yang melebihi batas pedoman.
Untuk itu, UNICEF meminta para pemimpin dunia menghadiri COP 22 untuk mengambil empat langkah mendesak guna melindungi anak-anak dari polusi udara.
Diantaranya, mengurangi polusi udara dengan kembali memenuhi pedoman WHO tentang kualitas udara global untuk meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan anak-anak. Untuk mencapai hal ini, pemerintah harus mengurangi pembakaran bahan bakar fosil dan berinvestasi pada energi terbarukan.
Selain itu perlu meningkatkan akses anak-anak untuk kesehatan seperti layanan imunisasi, meningkatkan pengetahuan, manajemen perawatan pneumonia (pembunuh utama balita) dan meningkatkan ketahanan terhadap polusi udara.
UNICEF juga meminta ada monitoring udara untuk memastikan tak berdampak buruk bagi anak-anak, remaja, keluarga dan masyarakat umum, disamping terus melakukan advokasi terhadap perubahan iklim supaya membuat udara lebih aman untuk bernapas.
“Kami melindungi anak-anak kita dengan cara melindungi kualitas udara kita. Keduanya adalah pusat untuk masa depan kita, “kata Lake. [Ahmad Muhajir]




















