Alhamdulillah, hari ini kita bisa berkumpul bersama di Masjid Istiqlal. Istiqlal mempunyai posisi penting, sebagai lambang kemerdekaan. Istiqlal artinya kemerdekaan. Dan di Gontor juga kita ajarkan tentang kemerdekaan, sama-sama kita membina bangsa Indonesia. Karena itu, yang mau tahu bagaimana membina bangsa Indonesia, datanglah ke Gontor.
Inilah pondok kita, alumni kita subhanallah, berperan di berbagai bidang.
Kita bersilaturahim di sini, untuk apa? “Untuk memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki”. Karena itulah, silaturahim itu harus kaaffah, jangan setengah-setengah.
Saya bersyukur sekali, hari ini, selain alumni, santri dan walisantri, kita juga kedatangan Wakil Ketua MPR dan Gubernur DKI Jakarta. Ngga datang saja kita bersyukur, apalagi ini datang, maka kesyukuran kita bertambah-tambah.
Alhamdulillah, saya sudah menginjakkan kaki ke Stadion Barcelona, rumputnya sama dengan yang ada di Stadion Gontor. PSSI, belum punya stadion. Persija, belum punya stadion. Alhamdulillah, Gontor sudah punya stadion.
Apa yang membedakan antara pesantren dengan bukan pesantren? Ini banyak yang masih belum tahu, bahkan para alumni. Yang membedakan adalah “pendidikan kehidupan”.
Pesantren mengajarkan “sakralitas kehidupan”. Sesuatu yang sakral yang sekarang ini sudah sulit didapatkan. Amanah itu sakral, tetapi sekarang sudah jarang yang menjadikannya sakral. Jujur itu sakral, tetapi sekarang sudah langka. Amanah itu sudah tipis, sudah tipis sekali sekarang.
Kita harus tahu politik agar tidak dilindas oleh politik. Tapi pondok tidak mengajarkan politik praktis.
Umat Islam ini 24 jam berpolitik. Tidak bisa dilarang tidak berpolitik. Di masjid, berpolitik. Di sawah, berpolitik. Di kantor berpolitik, di mana-mana berpolitik.
Apa politiknya? Politiknya adalah pengabdian dan penghambaan kepada Allah. Kalau sudah “Allahu Akbar”, maka yang ada di hadapannya adalah Allah. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kita berpolitik untuk menang melawan syetan. Yang membuat kita kalah, kalau kita takut kepada selain Allah.
Selama Anda takut kepada Allah, kita bisa bersama. Tetapi kalau di antara kita ada yang tidak takut kepada Allah, kita tidak bisa bersama.
Politik seperti ini tidak bisa dibreidel. Karena adanya di hati, bukan hal-hal terlihat seperti harta, tahta, wanita.
Saya salut dengan warga Jakarta. Untung warga Jakarta masih kuat. Sekarang ini rasa malu tipis sekali, halal haram tipis sekali. Betapa kuatnya imannya warga Jakarta.
Semoga Allah selalu meridhoi kita semua.
Sabtu, 12 Mei 2018





















