New York, Gontornews — Badan anak-anak PBB, UNICEF, Kamis (18/05/2023), mengingatkan risiko krisis anak-anak di Afghanistan seiring dengan hampir 16 juta anak di negara Asia tersebut tidur dalam keadaan lapar.
“Mereka tidak memiliki akses air bersih untuk melepas dahaga atau selimut untuk tidur,” ungkap Fran Equiza, perwakilan UNICEF untuk Afghanistan, sebagaimana dilansir Anadolu.
Kembalinya kekuasaan Taliban di Afghanistan sejak 15 Agustus 2021 telah menganggu bantuan keuangan internasional. Akibatnya, situasi negara berada dalam krisis ekonomi yang pelik, krisis kemanusiaan hingga krisis hak asasi manusia.
UNICEF menyebut ada sekitar 2,3 juta anak di Afghanistan yang berisiko menghadapi kekurangan gizi akut pada tahun 2023. Equiza menambahkan situasi ini membuat 1,6 juta anak-anak terpaksa bekerja di rumah, jalanan, ladang, tambang hingga toko. Jutaan anak Afghanistan terjebak menjadi pekerja anak.
“Anak-anak berusia enam tahun berada dalam kondisi berbahaya untuk membantu orang tua mereka menyiapkan sedikit maanan di atas meja,” jelas Equiza.
“Terlalu banyak dari mereka yang hidup dalam ketakutan, kekerasan atau pernikahan dini. Terlalu banyak dari mereka yang terbebani dengan beban tanggung jawab ganda,”
“Terlalu banyak orang yang lupa bahwa Afghanistan sedang mengalami krisis anak-anak,” sambung Equiza.
Terakhir, Equiza pun menyerukan kepada masyarakat internasional untuk meringankan penderitaan yang dialami oleh anak-anak Afghanistan. [Mohamad Deny Irawan]






















