Oleh Dedi Junaedi
Alumni Pascasarjana UI, wartawan Majalah Gontor/Gontornews, dan dosen Ekonomi Syariah IAIN Laa Roiba Bogor
Anda tahu Universitas Indonesia (UI)? Lantas terbayang dengannya? Muhammad Sya’ban, warga Depok berkomentar: UI adalah kampus modern, komprehensif, terbuka, multibudaya, dan humanis yang mencakup disiplin ilmu yang luas. Telah menghasilkan lebih dari 400.000 alumni dari pelosok Nusantara.”
“Salah satu kampus favorit di Indonesia. Berlokasi strategis di perbatasan wilayah Jakarta dan Depok. Selain berbagai fakultas yang cukup mendukung, kampus ini juga memiliki area yang cukup luas dan asri,’’ kata Dika Radika dari Jagakarsa, Jakarta Selatan,
Fety Christiany dari Bekasi menyebut UI sebagai “kampus bagus, asri, adem, banyak pohon dan kawasannya tertib lalu lintas” Sementara Made Udayana dari Pondok Indah Jakarta menmabahkan: “di sini terdapat area tracking, sepeda off road, jogging track, lapangan bola, dll. Pokoknya lengkap dan bagus deh!”
Otoritas UI, dalam situs resminya, menulis: Universitas Indonesia adalah kampus modern, komprehensif, terbuka, multi budaya, dan humanis yang mencakup disiplin ilmu yang luas. UI saat ini secara simultan selalu berusaha menjadi salah satu universitas riset atau institusi akademik terkemuka di dunia. Sebagai universitas riset, upaya-upaya pencapaian tertinggi dalam hal penemuan, pengembangan dan difusi pengetahuan secara regional dan global selalu dilakukan. Sementara itu, UI juga memperdalam komitmen dalam upayanya di bidang pengembangan akademik dan aktifitas penelitian melalui sejumlah disiplin ilmu yang ada di lingkupnya.
Cikal bakal UI bermula dari Sekolah Ilmu Kesehatan dan Vaksin (Opleiding van eleves voor de genees-en helkunde en vaccine) pada tahun 1849, kemudian STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) pada 1898, dan RHS (Rechtshoogeschool te Batavia) 1924, GHS (Geneeskundige Hogeschool) 1927, dan Badan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI) pada 1945. Per 2 Februari 1950, Universitas Indonesia dengan presiden (kini disebut rektor) pertamanya Ir RM Pandji Soerachman Tjokroadisoerio. Awalnya, UI memiliki 9 fakultas dan 3 lembaga yang tersebar di lima kota, yaitu Fakulteit Kedokteran, Fakulteit Ilmu Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, serta Fakulteit Sastra dan Filsafat di Jakarta; Fakulteit Ilmu Alam dan Ilmu Pasti, Fakulteit Ilmu Pengetahuan Teknik, dan Lembaga Pendidikan Guru Menggambar di Bandung; Fakulteit Pertanian dan Fakulteit Kedokteran Hewan di Bogor; Fakulteit Ekonomi di Makassar; Fakulteit Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigi di Surabaya.
Sesuai dengan tunttan dan perkembangan zaman, fakultas-fakultas yang berada di daerah memisahkan diri membentuk lembaga pendidikan sendiri. Pada tanggal 2 Maret 1959 Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam di Bandung memisahkan diri menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB). Selanjutnya, 1 September 1963 Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan UI di Bogor menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigir di Surabaya menjadi Universitas Airlangga, dan Fakultas Ekonomi di Makassar menjadi Universitas Hasanuddin. Pada 1964 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta dan kini berubah kembali menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Ketika Orde Baru lahir tahun 1966, pemerintah menunjuk beberapa guru besar UI untuk menduduki jabatan menteri dengan tujuan untuk memulihkan kembali situasi ekonomi nasional. Sejak saat itu, UI langganan memberikan kontribusi nyata, melalui para tokoh alumninya, pada usaha-usaha pemerintah membangun kemakmuran nasional dan kesejahteraan sosial.
Merupakan representasi institusi pendidikan dengan sejarah paling tua di Asia, UI telah menghasilkan lebih dari 400.000 alumni, UI secara kontinyu melanjutkan peran pentingnya di level nasional dan dunia. Bagaimanapun UI tidak bisa melepaskan diri dari misi terkininya menjadi institusi pendidikan berkualitas tinggi, riset standar dunia dan menjaga standar gengsi di sejumlah jurnal internasional.
Sebagai salah satu PTN terkemuka di tanah air, UI punya Jaringan Internasional yang hebat. UI secara aktif mengembangkan kerja sama global dengan banyak perguruan tinggi ternama dunia. Selain itu, UI saat ini juga memperkuat kerjasamanya dengan beberapa asosiasi pendidikan dan riset diantaranya: APRU (Association of Pacific Rim Universities) dengan peran sebagai Board of Director, AUN (ASEAN University Network), and ASAIHL (Association of South East Asia Institution of Higher Learning).
Selain sebagai Research University, UI juga dikenal sebagai Green Campus. Secara geografis, posisi kampus UI berada di dua area, Salemba dan Depok. Mayoritas fakultas berada di Depok dengan luas lahan mencapai 320 hektar dengan atmosfer green campus karena hanya 25% lahan digunakan sebagai sarana akademik, riset dan kemahasiswaan. 75% wilayah UI bisa dikatakan adalah area hijau berwujud hutan kota. Sebuah area yang menjanjikan nuansa akademik bertradisi yang tenang dan asri.
Sebagai perguruan tertua, UI punya banyak menorehkan sejarah. Kiprahnya dalam pembangunan sumberdaya manusia mapun pembangunan bangsa dan negara tak lagi diragukan. Ini bisa dilacak track record para alumninya. Banyak nama besar, dengan beragam kepakaran dan keahlian, telah lahir dari kampus kuning ini.
Untuk menyebut contoh, dari bidang ekonomi dan pembangunan dunia mengenal nama-nama seperti Sumitro Djojohadikoesoema, Ali Wardhana, Widjojo Nitisastro, JB Soemarlin, Radius Prawiro, Rahmat Saleh, Emil Salim, Mar’ie Muhammad, Miranda Goeltom, Saleh Afiff, Subroto, Armida Alisjahbana, Agus Martowardojo, Anwar Nasution, Bambang P.S. Brodjonegoro, Chatib Basri, Darmin Nasution, Dorodjatun Koentjoro-Djakti, Faisal Basri, Sri Mulyani Indrawati, Muliaman Darmansyah Hadad, Rhenald Kasali, dan Sri Edi Swasono,
Dari UI juga telah lahir sejumlah ilmuwan kelas dunia seperti Sangkot Marzuki (Direktur Lembaga Eijkman sejak 1992), fisikawan Terry Mart dan Suharso Haryo Sumowidagdo (ilmuwan paling produktif LIPI), dan Yohanes Surya, pendiri Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Ada diplomat kawakan seperti Ali Alatas, Mochtar Kusumaatmadja, Juwono Sudarsono, Hassan Wirajuda, Sjachwien Adenan, Julian Aldrin Pasha, dan lain-lain. Atau ahli Kesehatan dan kedokteran ada Wahidin Soedirohoesodo, Achmad Sujudi, Mahar Mardjono, Endang Rahayu Sedyaningsih, Suwardjono Surjaningrat, Siti Fadilah, ahli jantung, Hasri Ainun Besari, Farid Anfasa Moeloek, Nila Djuwita Anfasa Moeloek, Azrul Azwar. Dari kalangan praktisi bisnis ada nama-nama seperti Sofyan Wanandi, Arwin Rasyid, Chairul Tandjung, Emirsyah Satar, Eva Riyanti Hutapea, Purnomo Prawiro, Soegiharto.
Dari politisi, birokrat dan pakar politik ada Akbar Tanjung, Abdul Gafur, Harry Tjan Silalahi, Miriam Budiardjo, Nugroho Notosusanto,Abdoel Halim, Adhyaksa Dault, Andrinof Chaniago, Adenan Kapau Gani, Awang Faroek Ishak, Bachtiar Aly, Nazarudin Syamsudin, Sofyan Djalil, Ben Mboi, Burhan Djabier Magenda, Chusnul Mar’iyah, Cosmas Batubara, Darwin Zahedy Saleh, Denny Januar Ali, Djaelani Naro, Effendi Ghazali, Irwan Prayitno, Theo L. Sambuaga, Valina Singka Subekti, dan masih banyak lagi.
Dari kalangan ahli hukum dan HAM publik mengenal tokoh sekelas Yusril Ihza Mahendra, Jimly Asshiddiqie, Mulyana W. Kusumah, Abdoel Hakim Garuda Nusantara, Abdul Rahman Saleh, Adnan Buyung Nasution, Charles Himawan, Purwoto Gandasubrata, Gouw Giok Siong, Harkristuti Harkrisnowo, Hikmahanto Juwana, Maria Farida Indrati, Taufik Basari, dan Nono Anwar Makarim.
Sebagai kampus gerakan, UI juga dikenang melalui para tokoh aktivisnya seperti Arief Budiman, Rocky Gerung, Soe Hok Gie, Marsillam Simanjuntak, Gadis Arivia, Hariman Siregar, Eki Syachrudin, Fadli Zon, Fahmi Idris, Fahri Hamzah, Sjahrir, Heru Cokro, Herman Lantang, Indra J. Piliang, Rama Pratama, Rieke Diah Pitaloka, dan lain-lain.
Siapa tak kenal sosiologi Koentjaraningrat, Selo Soemardjan dan Vedi R. Hadiz,, kemudian ahli bahasa Anton Moeliono, Harimurti Kridalaksana, dan Jusuf Sjarif Badudu. Atau sastrawan sepertin Achdiat K. Mihardja, Adinegoro, Taufik ismail, Afwan Riyadi, Asep S. Sambodja, Ayatrohaedi, Andrea Hirata, Arizal, Bahrum Rangkuti, Bondan Prakoso, Candra Darusman, Garin Nugroho, ginatri S. Noer, Gorys Keraf, Helvy Tiana Rosa, Hans Bague Jassin, Ibnu Wahyudi, Martinus Antonius Weselinus Brouwer, Nurmala Kartini Sjahrir, Ridwan Saidi, Sapardi Djoko Damono, Slamet Muljana, dan Radhar Panca Dahana.
Tak kalah banyak juga ada barisan artis dan aktor papan atas seperti Dian Sastrowardoyo, Christine Panjaitan, Desy Ratnasari, Donny Damara, Alya Rohali, Dono, Dude Harlino, Ello, Erna Libby, Erwin Gutawa, Fedi Nuril, Handojo, Indriati Iskak, Inez Tagor, Intan Nuraini, Jubing Kristianto, Kasino Hadiwibowo, Khrisna Mukti, Maia Estianty, Maissy, Mang Udel, Mat Solar, Nadine Zamira Sjarief, Nicholas Saputra, Niniek L. Karim, Once, Pepeng, Raditya Dika, Rossa, Tasya Kamila, Tika Bravani, dan Sheila Dara Aisha.
Di luar nama-nama tersohor, tentu masih sangat banyak nama-nama lain yang mungkin luput dari sorotan media. Dalam ruang sunyi liputan dan perhatian media, mereka tidak kalah hebat telah bergerak dan akan terus banyak berkiprah untuk kemajuan bangsa dan negara di segala bidang kehidupan. Sebagian dari mereka juga banyak yang berasal dari keluarga kurang berada. Semua SDM milenial terpilih, tanpa kecuali, disiapkan UI untuk membangun Indonesia masa kini dan masa depan yang cerah dan penuh harapan. Ini sejalan dengan ungkapan Usman Chatib Warsa (Rektor UI Periode 2007-2012): “Membangun UI adalah Membangun Bangsa.”






















