Jakarta, Gontornews — Ada berbagai macam cara menikmati puasa Ramadhan yang akan datang. Dr. KH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, MA Ketua Senat UNIDA Gontor dalam Majelis Virtual Majalah Gontor memberikan dua cara menikmati puasa, yaitu secara hikmatis dan filosofis.
Ustadz Hidayatullah mengatakan, secara hikmatis ini sedikit berlawanan dengan filosofis, bisa dirasakan nyata meski selamanya tidak rasional, dan tidak mudah dicerna otak manusia tapi itu nyata. “Mereka yang menikmati puasa hikmatis ini jika ada empat unsur di dalamnya,” ungkapnya.
Ustadz Hidayatulah menyitir sebuah Surat Al Baqarah ayat 183 tentang Puasa Ramadhan. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa…”
Menurut Ustadz Hidayatullah menjelaskan hikmatis ini jika ada keimanan, puasa, orang sebelumnya dan ketakwaan. Pertama, beriman mempercayai akan segala kemahaan Allah, yakin sepenuhnya maka di sini unsur mengagungkan, mangagumi, menyayangi dan takut jika kehilangan.
Kedua, puasa yaitu berpayah-payah untuk menahan kenikmatan kelezatan jasmani artinya itu kesulitan. Ketiga, Qoblikum artinya bahwa sesulit apapun puasa menjadi ringan karena puasa itu ternyata dilakukan juga oleh orang sebelum kita.
Keemapat, takwa yaitu karena ketakwaan ini sehingga ditingkatkan menjadi menikmati kepatuhan kepada zat yang Maha Agung. “Dari sini kita akan melihat, jika seorang sudah beriman dengan baik dan benar sesulit apapun puasa itu maka puasa itu akan terasa nikmat karena berdasarkan keimanan,” jelasnya.
Berdasarkan psikologi, tambah ustadz Hidayatullah, apabila seseorang telah menemukan calonnya, tentunya ada rasa kagum, sayang, cinta, takut kehilangan. Dalam kondisi seperti ini maka orang tersebut pasti akan melaksanakan permintaan sang calon sesulit apapun dengan senang hati dan nikmat karena mencari kerelaannya untuk cinta.
“Ini persis dengan psikologi manusia jika sudah meyakini akan segala kemahaan Allah, akhirnya selalu mengingat akan kebesaran Allah dan mengingat asmaul husna. Untuk itu pasti akan mencari informasi tentang Allah hubungannya dengan puasa, maka akan mencari di dalam hadis dan quran,” jelasnya.
Maka ditemukanlah fadilah puasa, semua akan membuat orang tersebut merasakan nikmat ketika menjalani puasa. Akhirnya kita dapatkan puasa yang 30 hari bagi sebagian orang sulit maka akan terasa nikmat hingga menambah puasa sunnah lainnya di luar ramadhan.
Berpuasa secara filosofis, banyak dilakukan orang dengan usaha merasionalisasikan puasa. Jadi puasa itu dikaji secara ilmiah sehingga mendapatkan faedah puasa bagi kesehatan jasmani dan ruhani dan kajian lainnya.
“Sehingga melakukan puasa selain dilakuna dengan hati juga dicerna dengan otak, dan otak menerima. Sedangkan hikmatis dilakukan karena dirasakan dalam hati, tidak melalui rasional,” paparnya. [fathur]




















