Jenewa, Gontornews — Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, mengatakan pihaknya tengah mendokumentasikan lebih dari 500 serangan militer terhadap fasilitas medis di Suriah. WHO mengaku telah melakukan dokumentasi sejak tahun 2016. Laporan ini juga diikuti dengan laporan kematian sejumlah staf dan pasien. Jika terbukti, maka Pemerintah Suriah bisa didakwa dengan kejahatan perang.
Sebagaimana diketahui, dua pertiga serangan militer Suriah, yang dibantu Rusia, di Barat Laut Suriah meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Padahal, Rusia dan Turki dan sejumlah pihak yang berselisih sepakat untuk melakukan gencatan senjata minggu lalu.
Badan Kesehatan PBB tersebut mencatat ada 494 serangan militer ke fasilitas medis Suriai dalam rentang 2016-2019. Sejak awal tahun 2020, WHO juga mengonfirmasi sembilan serangan ke fasilitas medis Suriah dan mengakibatkan 10 kematian. Hingga saat ini total ada 480 tenaga medis dan pasien yang tewas akibat serangan militer tersebut.
“Apa yang meresahkan kita adalah apa yang kita sebut serangan terhadap medis, sesuatu yang tidak bisa ditoleransi oleh komunitas internasional. Saat itu, serangan itu dapat diterima begitu saja dan dianggap sudah biasa terjadi,” ungkap Direktur Darurat Regional WHO di Mediterania Timur, Richard Brennan, kepada Reuters.
WHO juga melansir bahwa saat ini hanya ada setengah fasilitas medis di Barat Laut Suriah yang beroperasi. WHO memprediksi sekitar satu juta orang terlantar akibat kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut.
WHO sendiri diberi mandat untuk melacak serangan terhadap fasilitas kesehatan dan mulai melakukan penyelidikannya pada 2016. Data semacam ini, bisa membantu dewan penyelidik PBB untuk menyelidiki insiden di Barat Laut Suriah termasuk serangan terhadap fasilitas kesehatan.
Para pejabat PBB sebelumnya mengecam serangan yang dilancarkan pemerintah Suriah dan sekutunya di wilayah sipil yang dilindungi. Jika terbukti, maka ini akan menjadi dakwaan kejahatan perang. [Mohamad Deny Irawan]






















