Colorado, Gontornews — Gelombang panas yang menghancurkan daratan Eropa dalam beberapa waktu terakhir membuat Organisasi Meteorologi Dunia (World Meterology Organization/WMO) memprediksi bahwa kenaikan suhu akan terus bergerak dan berpotensi melelehkan miliaran ton es di Greendland.
Udara panas yang diduga berasal dari Gurun Sahara di Afrika Utara telah membuat suhu di Eropa meningkat drastis. Suhu di Paris, misalnya, meningkat hingga mencapai 42 derajat Celcius pada hari Kamis (25/7) yang lalu.
Lebih lanjut, WMO mencatat bahwa panas terik yang terjadi di Eropa telah mengakibatkan 170 miliar ton es di Greenland meleleh pada bulan Juli dan 80 miliar ton es di bulan Juni.
“Ketika udara panas ini tiba di Greenland, kemungkinan sejumlah daerah akan mengalami puncak pelelehan es,” kata peneliti dari Pusta Data Salju dan Es Nasional (the National Snow and Ice Data Center/NSIDC) yang bermarkas di Boulder, Colorado, Twila Moon, kepada Live Science.
Lebih lanjut, NSIDC telah melakukan pemantauan secara intensif terkait pencairan es di Greenland. Moon dan tim menemukan bahwa pencairan es di Greenland terjadi semakin cepat setiap tahunnya. Fenomena ini dapat berdampak pada kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia serta menggangu iklim global.
“Apa yang terjadi di Kutub Utara tidak saja untuk Kutub Utara,” kata Direktur Pelaksana Lingkungan Hidup PBB, Joyce Msuya.
“Tindakan mendesak terkait iklim sangat diperlukan guna menjauhkan planet kita dari titik kritis yang berpotensi memburuk daripada apa yang kita duga sebelumnya,” tambah Msuya.
Sejak tahun 1970-1980, Greenland kehiilangan rata-rata 50 miliar Ton es setiap tahunnya. Akan tetapi dari tahun 2010-2018, angka pelelehan es meningkat drastis menjadi 290 Milar Ton per tahun. Sedangkan untuk tahun ini, NASA-JPL Caltech melaporkan bahwa 97 persen permukaan es di Greenland mencair.
“Kehilangan lapisan es pada tahun 2012 terjadi sangat besar. Sayangnya, peristiwa pencairan di Greenland pada bulan Juni telah memberitahu kita bahwa beberapa permukaan lapisan es akan mencair lebih banyak,” jelas Moon.
Moon tetap optimis bahwa upaya untuk menanggulangi skenario terburuk terkait pencairan es di Greenland belumlah terlambat khususnya dengan menekan kembali aturan tentang pembatasan emisi gas rumah kaca.
“Tindakan kolektif yang kami lakukan akan memainkan peran utama dalam menentukan seberapa banyak dan seberapa cepat pencairan es di Greenland serta seberapa parah dampak yang terjadi akibat pencairan tersebut,” pungkas Moon. [Mohamad Deny Irawan]


















