Jenewa, Gontornews — Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (7/9/2022), memperingatkan negara-negara tentang semakin memburuknya kualitas udara akibat perubahan iklim. PBB menggarisbawahi fenomena gelombang panas di sejumlah negara serta kebakaran hutan yang semakin intens. Mereka pun mengkhawatirkan penurunan kualitas udara yang manusia hirup pasca situasi tersebut.
Sebuah laporan dari Organisasi Meteorologi Dunia (World Metorological Organization/WMO) memperingatkan bahwa interaksi antara polusi dan perubahan iklim akan berdampak pada ratusan juta orang untuk beberapa abad mendatang. WMO pun mendesak pihak-pihak terkait untuk mengendalikan bahaya tersebut.
Buletin tahunan WMO tentang kualitas udara dan iklim tahunan memeriksa dampak kebakaran hutan besar yang terjadi di Siberia dan Amerika Utara bagian Barat pada tahun 2021. Hasilnya, WMO menemukan bahwa polusi udara akibat kebakaran hutan telah meningkatkan bahaya kesehatan yang terus meluas.
Partikel-partikel kecil dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer yang tercipta dari kebakaran hutan itu sangat berbahaya bagi paru-paru atau jantung.
“Saat dunia dalam kondisi semakin panas, kebakaran hutan dan polusi udara berpotensi meningkat, bahkan di bawah skenario emisi rendah,” kata Kepala WMO, Patteri Taalas, dalam sebuah pernyataan yang dilansir Channel News Asia dari AFP
“Selan dampak kesehatan, (fenomena) ini juga akan mempengaruhi ekosistem karena polusi udara yang mengendap dari atmosfer ke permukaan bumi,” sambung Taalas.
Pada skala global, total area hutan yang terbakar terutama di sabana dan padang rumput mengalami pengurangan dalam dua dekade terakhir. Tetapi, WMO mengatakan bahwa beberapa wilayah seperti Amerika Utara bagian Barat, Amazon dan Australia melaporkan lebih banyak kebakaran hutan.
Bahkan tanpa kebakaran hutan, iklim yang lebih panas dapat meningkatkan polusi dan memperburuk kualitas udara.
Taalas mencontohkan gelombang panas di Eropa dan Cina pada tahun ini. Bersama dengan kondisi atmosfer tinggi yang stabil, sinar matahari dan kecepatan angin yang rendah, gelombang panas telah menyebabkan polusi udara semakin tinggi.
“Kami mengharapkan peningkatan lebih lanjut, dalam frekuensi, intensitas dan durasi gelombang panas yang dapat menyebabkan kualitas udara menjadi lebih buruk,” ucap Taalas.
Secara umum, laporan WMO ini menunjukkan bahwa kualitas udara dan iklim saling berhubungan satu sama lain. WMO menganggap bahwa paparan bahan kimia yang memperburuk kualitas udara sejalan dengan efek gas rumah kaca. “Perubahan dalam satu hal pasti menyebabkan perubahan pada yang lain,” tutup Taalas. [Mohamad Deny Irawan]





















