Jika kini Indonesia ataupun negara lainnya tengah diresahkan dengan polemik politik dinasti yang banyak membawa mudharat, maka hal berbeda terlihat pada fakta sejarah Islam.
Pasalnya, kesuksesan politik dinasti yang telah diterapkan oleh para pemimpin Muslim bertalenta terdahulu tidak pernah luput dari aturan kepemimpinan yang diajarkan dalam agama Islam.
Pembahasan ini pun kemudian akan bersinggungan erat dengan sejarah politik Islam pada masa kekhalifahan dan pemimpin dari orang-orang shalih terdahulu seperti, khalifah Umar bin Abdul Aziz, Al-Fatih, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan lainnya.
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka ikutilah petunjuk mereka.” QS. Al-An’am: 90. “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” QS Yusuf: 111.
Dr Muhammad as-Shalabi menjelaskan, bahwa sesungguhnya buah hakiki dari mempelajari sejarah adalah mengambil pelajaran dan menguasai sunnah-sunnah Allah SWT.
Di antara pelajaran berharga tersebut: (1) Pentingnya inisiatif dalam gerakan kebangkitan; (2) Pentingnya dorongan agama dalam memberikan semangat kepada rakyat; dan (3) Pentingnya persatuan dalam menghadapi bahaya yang datang dari dalam maupun luar.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz: Penerus Takhta yang Bertakwa dan Sederhana
Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik merupakan sepupu langsung Umar bin Abdul Aziz. Mereka berdua sangat erat dan selalu bersama. Masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik selalu dinaungi nuansa pemerintahan Islam. Kekuasaan Bani Umayyah pun tampil sangat kukuh dan stabil.
Setelah Sulaiman wafat, takhta kekuasaan diamanahkan kepada Umar. Ia lantas dibaiat sebagai khalifah pengganti Sulaiman. Awalnya Umar menolak keras jabatan tersebut karena besarnya tanggung jawab yang harus diemban.
Meski begitu, Umar tetap dengan penuh ketakwaan Umar tetap menjalankan tugasnya hingga berhasil mengondisikan negaranya seperti saat pemerintahan keempat Khulafaur Rasyidin.
Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya tak kalah dengan para khalifah pertama itu. Gajinya selama menjadi khalifah hanya 2 dirham perhari atau 60 dirham perbulan. Sehingga ia dijuluki sebagai Khulafaur Rasyidin kelima.
Al-Fatih: Ketakwaan Putra Mahkota Dinasti Utsmaniyah
Muhammad Al-Fatih lahir pada tahun 833 Hijriyah atau 1429 Masehi. Ayahnya bernama Sultan Murat. Mehmed II atau juga dikenal sebagai Muhammad al-Fatih merupakan sultan ketujuh dari daftar sejarah Dinasti Utsmaniyah.
Mehmed II lebih sering dikenal dengan sebutan Al- Fatih setelah ia menaklukan kerajaan Bizantium Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad. Al –Fatih pertama kali memimpin di usia 12 tahun sejak saudaranya (beda Ibu) meninggal dunia.
Namun tak lama dari masa pemerintahannya, ayahnya (Murad II) yang sudah turun tahta, kembali naik tahta untuk menggantikan Al-Fatih kecil. Hal tersebut dikarenakan demi keamanan negara dan atas dasar nasihat dari para perdana menterinya.
Sultan al Fatih memerintah selama 30 tahun. Terhitung sejak ayahnya meninggalnya tanggal 3 Februari 1451 sampai meninggalnya al Fatih tanggal 3 Mei 1481.
Selain berhasil menaklukkan Bizantium serta mengadaptasi manajemen kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam kerajaan Utsmani, ia juga berhasil menaklukkan banyak wilayah di Asia dan Eropa.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“.
Ustadz Adi Hidayat sebagaimana dilansir Youtube.com menuturkan, “Al-Fatih ketika ingin mencoba untuk menaklukan Konstantinopel, maka ia berusaha untuk terlebih dahulu mendekat kepada Sang Khaliq.”
Ia lantas datang ke masjid mempelajari segala penyebab kegagalan orang-orang terdahulu. Lalu ia dekatkan pasukannya kepada Allah SWT hingga terbukalah semua keberhasilannya berkat ridha dari Allah SWT.
“Di tengah proses penaklukan Konstantinopel, pasukannya diminta untuk menjauhi maksiat dan tulus berperang demi menegakkan kalimat tauhid di bumi Konstantinopel,” terang Ustadz Felix Siouw, dalam ceramahnya yang dilansir Youtube.com.
Sebab keberhasilan seorang pemimpin tidak pernah lepas dari kerjasama dengan seluruh pasukannya. Bahkan jika ada satu saja yang bermaksiat, maka bisa jadi maksiat tersebut akan menahan munculnya ridha dan pertolongan dari Allah SWT.
Meski kekuasaan yang diperoleh Al-Fatih pada awalnya merupakan model politik dinasti. Namun, bukan berarti kekuasaan bisa diterima dengan mudah oleh seorang Al-Fatih. Sebab sejak kecil sang ayah telah mempersiapkan anaknya untuk menjadi seorang pemimpin besar.
Ketika kecil, sang ayah telah menunjuk seorang ulama dan cendekiawan, Syeikh Ahmad bin Ismail Alkawrani untuk mengajar dan membesarkan anaknya.
Pada beberapa guru lainnya, Al-Fatih juga turut menimba ilmu al-Qur’an, hadits, fiqih, matematika, geografi, sejarah, dan ilmu militer. Ia pun berhasil menguasai beberapa bahasa selain Turki, seperti Persia dan Arab dan menjadi hafidz al-Qur’an 30 Juz.
Shalahuddin Al Ayubi: Muslim Sejati Pendiri Dinasti Ayyubiyah
Setelah berhijrah dari Tirkit ke Mosul, kedua orang bersaudara Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin Al-Ayyubi) dan Syirkuh (paman Shalahuddin), hidup dalam perlindungan Imaduddin Zanki.
Ketika Baalbekk jatuh ke tangan Imaduddin Zanki pada 534 H, dia mengangkat Najmuddin Ayyub sebagai gubernur wilayah itu. Shalahuddin pun juga diangkat sebagai kepala keamanan di Damasqus dan mendapatkan keistimewaan layaknya seorang putra mahkota.
Setelah penaklukan Mesir dibawah perintah Imaduddin, Syirkuh, menjabat sebagai wazir negeri Mesir. Dua bulan kemudian ia meninggal dunia dan Shalahuddin ditetapkan sebagai wazir yang baru oleh khalifah Fathimiyah Al-Adid.
Salahuddin mengukuhkan kekuasaannya di Mesir, Salahuddin pun mulai menganugerahkan jabatan-jabatan tinggi kepada anggota keluarganya. Ia juga memperkuat pengaruh Sunni di kota Kairo yang didominasi oleh Syiah pada masa itu dengan memerintahkan pembangunan madrasah fikih bermazhab Maliki di kota tersebut dan satu madrasah lain yang bermazhab Syafi’i di Fustat.
Pada tahun 1171, al-Adid wafat dan Salahuddin memanfaatkan kesempatan ini dengan mengambil alih kekuasaan di Mesir. Setelah itu, ia menyatakan kesetiaannya kepada Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni dan berpusat di Baghdad. Seiring berjalannya waktu, Shalahuddin akhirnya berhasil mendirikan Dinasti Ayyubiyah dan membebaskan Baitul Maqdis.
Namun, meski prosedur politik dinasti telah disemai pada masa kekuasaannya, Salahuddin tetap mengedepankan iman dan takwa dalam segala perbuatan dan pemikirannya.
Shalahuddin selalu menanamkan aqidah yang kuat di dalam dirinya dan anak keturunannya. Ia suka sekali mendengarkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Bahkan sering meneteskan air mata ketika mendengarkannya.
Shalahuddin juga sangat senang mendengar hadits-hadits Rasulullah SAW. Jika ia dengar ada seorang syaikh yang memiliki riwayat suatu hadits, ia akan datang kepadanya atau meminta didatangkan kepadanya.
Ia juga akan mengajak para penguasa beserta orang-orang di sekitarnya untuk ikut mendengarkannya bersama-sama dengannya. Tidak hanya itu, ia juga senantiasa mengajak rakyatnya untuk mendengarkan hadits Rasulullah SAW. [Edithya Miranti]
























