Jakarta, Gontornews — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa ada sekitar 1000 spesies rumput laut di perairan Indonesia yang mampu mencegah dan mengobati kanker.
Temuan ini diharapkan dapat membantu mencegah serta menyembuhkan para penderita kanker di Indonesia yang, menurut data Lembaga Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), mencapai 2,1 juta pasien per tahun.
“Salah satu pemicu kanker adalah karena pola makan yang salah, faktor genetik serta zat karsinogen dalam tubuh,” ungkap peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Ratih Pangestuti dalam peringatan Hari Kanker Sedunia di Jakarta, Senin (4/2).
“Indonesia memiliki 1000 spesies rumput laut coklat seperti Padina sp dan Sargasium sp yang mengandung senyawa fucoxhantin yang bersifat sebagai senyawa anti kanker,” tambah Ratih sebagaimana dilansir laman Lipi.go.id.
Hanya saja, ada sejumlah kendapa seputar pengembangan rumput laut sebagai obat antikanker seperti kesulitan dalam koleksi sampel.
“Senyawa aktif ini hanya ada dalam kuantitas yang terbatas serta toksisitas senyawa aktif dan produksi senyawa yang berkelanjutan dapat memperlambat seluruh proses,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, Ratih juga beharap kesalahan pola makan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dapat ditanggulangi dengan mengolah bahan makanan yang meningkatkan ketahanan tubuh serta mengurangi risiko terjangkitnya sejumlah penyakit seperti kanker. Hingga awal tahun 2019, LIPI tengah melakukan bekerjasama dengan perusahaan farmasi asal Spanyol, Pharma Mar, dalam mengembangkan bahan baku obat kanker dari organisme laut.
“Pola konsumsi masyarakat masih tidak proporsional untuk mengonsumsi bahan makanan yang mengandung omega 3 dan omega 6 yang mampu mencegah penyakit jantung dan kanker,” jelas Ratih.
Karenanya, LIPI juga tengah mempersiapkan konsep pangan pencegah penyakit kanker.
“Konsep pangan tersebut didefinisikan sebagai pangan atau komponen makanan yang mampu meningkatkan kondisi ketahanan tubuh serta mengurangi risiko terjangkitnya berbagai macam penyakit seperti kanker,” pungkas Ratih. [Mohamad Deny Irawan]






















