Jakarta, Gontornews — Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Sri Puguh Budi Utami, menyampaikan bahwa ada sekitar 3.220 narapidana penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) di Sulawesi Tengah yang melarikan diri akibat bencana gempa 7,4 Skala Richter di Sulawesi Tengah.
Secara rinci, Sri menjelaskan bahwa lapas Palu yang berkapasitas 210 orang dan diisi 581 narapidana sebelum kejadian, kini hanya menyisakan 66 orang narapidana saja. Sedangkan rutan Palu yang berkapasitas 120 orang dan diisi 463 orang sebelum gempa, kini hanya tinggal 53 orang saja.
“Existing sekarang ada 1.795 orang. Yang tidak berada di tempat 1.425 orang,” jelas Sri saat sebagaimana dilansir Viva di kantornya di Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (1/10).
Pun dengan rutan Donggala yang berkapasitas 108 orang dan berisi 343 orang, pagi ini kosong dan belum ada narapidana yang kembali.
“Rutan Donggala kapasitas 108 isi 343 orang, hingga hari ini kosong dan belum dapat info yang kembali berapa,”
Sedangkan untuk Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Palu, kapasitasnya ada 100 orang, isinya 84 dan 3 bayi, pagi ini hanya tersisia 9 orang saja. Begitu juga dengan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) yang berkapasitas 100 orang dan baru terisi 29 orang, kini jumlahnya hanya tersisa 5 orang saja.
Selanjutnya, Sri menjelaskan bahwa ribuan narapidana yang kabur tersebut panik seiring dengan terjadinya gempa 7,4 SR di Donggala, Palu. Seperti di Lapas Donggala, misalnya, pasc gempa, tembok blok sisi kiri, dan dua blok roboh .
“Tak lama, mereka berkumpul, air keluar dalam tanah,” kata Sri sebagaimana informasi yang diperolehnya dari Kepala lapas IIA Palu, Ady Yan Ricoh.
“Begitu disusul gempa berikutnya, mereka sudah tidak sabar dan lari menuju ke dua blok, yang bobol hampir semuanya, dan berdesak-desakan karena robohnya cukup luas,” pungkas Sri. [Mohamad Deny Irawan]






















