Palu, Gontornews — Kondisi sosial masyarakat di sekitar Kota Palu setelah gempa dan tsunami yang menerjang nampak tak terkendali. Setelah isi minimarket dan toko kelontong dikuasai warga, kini Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) pun tak luput dari penguasaan warga setempat.
“Semua SPBU di Kota Palu dan sekitarnya sementara ini dikuasai warga dan tidak ada penjagaan baik dari polisi atau tentara,” kata kontributor forum jurnalis muslim (Forjim) di Palu, Umar Masyhur Palupuri, Senin (1/10).
Menurutnya, aparat tidak mengambil tindakan tegas karena dikhawatirkan terjadi keributan yang lebih besar. “Jadi sementara seolah dibiarkan saja agar tidak terjadi chaos,” tambah Umar.
Sementara itu, Pelabuhan Pantoloan di Kota Palu sudah mulai dibuka untuk kapal pengangkut logistik bagi korban bencana. “Tadi ada kapal Lambelu masuk, tapi masyarakat juga sudah standby di bawah kapal, mereka mencegat bantuan yang datang,” kata Umar.
Menurutnya, tindakan itu dilakukan karena masyarakat telah frustasi lantaran bantuan kemanusiaan lambat masuk sementara aktifitas pemerintahan lumpuh akibat gempa.
“Apalagi sebelumnya Menkopolhukam dan Mendagri membolehkan masyarakat mengambil barang-barang dari minimarket dan toko kelontong yang ada,” jelasnya.
Berdasarkan data dari Disaster Management Institute of Indonesia (DMII), hingga Senin (1/10), tercatat 1.203 orang meninggal dunia, 46 orang hilang, 540 terluka dan 16.372 mengungsi. [Mohamad Deny Irawan]






















