Dalam suatu proses pendidikan, ada yang mendidik siswa agar menjadi manusia yang baik dan biasa-biasa saja. Ada juga yang bertujuan menciptakan para pemimpin yang menggerakkan. Mereka dididik untuk menjadi penggerak dan pejuang.
Namun sayangnya, banyak orang tidak berpikir sejauh itu. Para akademisi pun umumnya hanya berpikir cara mendapat murid yang banyak, atau bagaimana bisa meraih keuntungan materi sebanyak-banyaknya dari bisnis pendidikan yang dikelolanya, bagaimana berkuasa, dan lain sebagainya.
Ada orang yang berbuat hanya untuk sekedar urusan perutnya. Mendirikan pesantren hanya untuk mencari pengaruh, wibawa, kekuasaan, atau rezeki. Orang seperti itu tak beda dengan burung yang kerjanya hanya mencari makan, kawin, dan punya anak.
Perubahan zaman dan perubahan pola berpikir kini menjadi ujian berat para kader pejuang ketika terjun ke dalam masyarakat kelak. Mereka harus berjuang keras melawan arus yang memang sudah keliru, bukan hanya membendungnya. Sudah kuat atau belum kita ini.
Dalam hal ini, kecerdasan otak saja tidak cukup untuk diandalkan. Namun keterampilan diri dalam menghadapi kondisi demikian yang perlu dimiliki. Mereka harus menghindari shock cultural, atau kultur yang tidak baik. Mereka tetap harus mampu menjadi manusia yang luwes, fleksibel dan tegas, tidak mudah dipermainkan, dan dapat melakukan banyak hal.
Dan untuk menciptakan manusia yang ideal dan pejuang, sangatlah sulit. Karena sentuhan-sentuhan pendidikan yag didapat siswa harus merata. Layaknya membuat nasi goreng, seluruh nasi harus rata dibumbui. Jika 70 persen nasinya sudah terkena bumbu, akan terasa enaknya. Berbeda dibanding nasi yang hanya mendapat 25 persen bumbu, rasanya pasti tidak menentu.
Mengingat beratnya tugas tersebut, maka sesungguhnya seorang pimpinan dalam pesantren kenyataannya harus mampu menjadi pengatur seluruh hidup dan kehidupan pesantren, secara lahir batin, moril, materiil, akademis maupun nonakademis.
Menjadi ideal
Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa kemajuan dan perkembangan suatu lembaga atau seseorang itu terlihat dari tiga unsur: selalu banyak mengambil inisiatif, dapat memanfaatkan jaringan kerja dengan baik, dan dapat dipercaya.
Dan tiga hal ini juga menjadi unsur penting bagi keberhasilan perkembangan seseorang, lembaga, maupun pesantren. Karena itu, dalam menjalankan kehidupannya, seseorang hendaknya: Pertama, selalu banyak mengambil inisiatif, tidak pasif, tapi justru agresif. Ia harus mampu mengambil langkah-langkah inisiatif untuk memajukan pesantren, lembaga pendidikan, atau dirinya sendiri.
Ia juga harus progresif, dengan selalu berpikir ke depan. Itulah ciri manusia modern. Dengan begitu, ia akan selalu dinamis, terus bergerak dan menggerakkan kehidupan.
Kedua, memiliki jaringan kerja yang luas, dan dapat memanfaatkan jaringan tersebut sebaik-baiknya. Jaringan kerja pesantren adalah masyarakat pesantren, yang terdiri dari santri, guru, wali murid, pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, simpatisan dalam maupun luar negeri, sesuai dengan kondisi masing-masing lembaga.
Jika pesantren dapat memanfaatkan jaringan kerjanya, maka perkembangan yang baik akan digapai. Dan seluas apa pesantren dapat memanfaatkan jaringan kerjanya, maka seluas itu pulalah perkembangan yang diraih. Karena, mengembangkan suatu pekerjaan pasti terkait dengan banyak masalah yang tak mungkin mampu dipikul sendiri tanpa bantuan orang atau pihak lain.
Ketiga, dapat dipercaya. Mekanisme kerja lembaga atau pesantren haruslah transparan dan tidak ditutup-tutupi. Harus dipisahkan mana hak pribadi dan lembaga. Ini penting untuk menumbuhkan rasa saling percaya. Dan kalau sudah ada kepercayaan satu sama lain, segalanya akan berjalan lancar. Kepercayaan luar biasa dari orang luar maupun pemerintah akan didapat.
Selain tiga hal di atas, seorang pejuang harus teruji dedikasi dan loyalitasnya. Menghilangkan kepentingan pribadi untuk kepentingan umum itulah loyalitas. Maka, untuk meningkatkan kualitas diri, seseorang harus banyak berbuat demi orang banyak, dan tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.
Ia juga harus tahu mana yang menjadi prioritas dan mana yang bukan. Mana yang dikerjakan dan mana yang sebaiknya ditinggal. Karena, sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keuntunganmu. []




















