Sistem asrama sangat mendukung penerapan kurikulum selama 24 jam. Karena itu, tri pusat pendidikan yang terpadu tersebut, memiliki kelebihan dibanding non-pesantren dalam tiga hal. Pertama, kemampuan koordinasi yang efisien, karena seluruh fungsionarisnya selalu berada di dalam kampus. Kedua, kemampuan membentuk dan menjaga anak didik dari pengaruh lingkungan, dengan memanfaatkan apa yang ada di dalam pondok sebagai sarana pendidikan. Ketiga, adanya masjid yang berfungsi sebagai pusat kegiatan yang menjiwai, dan kiai sebagai figur sentral.
Aspek ketiga, materi. Materi yang diajarkan di pondok pesantren merepresentasikan kurikulum yang ada. Yaitu kurikulum perpaduan antara ilmu agama (revealed knowledge) dan ilmu kauniyyah (acquired knowledge). Jadi, di pesantren telah terjadi integrasi ilmu pengetahuan. Dengan istilah lain, tak ada dualisme keilmuan dalam dunia pendidikan pesantren.
Modernisasi
Perlu diingat bahwa dari ketiga aspek tersebut, sistem dan materi pendidikan pesantren dapat berubah dan diperbarui sesuai situasi, kondisi, tuntutan masyarakat, dan kemajuan zaman. Tapi nilai-nilai keislamannya tak boleh berubah, karena ia merupakan tatanan moralitas yang bersifat rahmatan lil-‘âlamîn (universal), yang berdasarkan pada al-Qur’an dan hadis.
Dengan memberikan perhatian kepada tiga aspek tersebut (nilai, sistem, dan materi), pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, mampu memainkan peran yang sangat vital dalam mempersiapkan masyarakat madani, melalui modernisasi sistem pendidikannya.
Dengan modernisasi pesantren diharapkan mampu melahirkan sumberdaya manusia (SDM). Yaitu kepribadian yang memiliki keseimbangan antara lima aspek: spiritual, intelektual, sosial, emosional, dan fisik.
Insan kâmil tidak akan terbentuk secara instan, tapi harus melalui proses panjang. Proses ini berupa transfer of knowledge and inculcation of moral value from one generation to another generation. Dengan pengertian lain, merupakan proses transfer ilmu pengetahuan dan penanaman nilai-nilai moral (Islam) dari satu generasi ke generasi lainnya. Inilah yang menjadi esensi pendidikan pesantren.
Supaya proses ini dapat berlangsung secara efektif dan efisien, diperlukan lingkungan pendidikan (al-bî`ah at-tarbawiyyah/environment) yang kondusif, kurikulum yang integratif dan komprehensif, atmosfir akademik yang dinamis, tenaga pengajar yang profesional, fasilitas pendukung yang memadai, dan yang lebih penting lagi pembiasaan (conditioning) melalui keteladanan dari para pendidik di pondok pesantren. Untuk inilah Pondok Modern Gontor mendidik para santri agar berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja. [Habis]























