Mukadimah
Dalam khazanah keislaman di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) kerap dipersepsikan berada pada jalur yang sedikit berbeda. Muhammadiyah dikenal dengan semangat tajdid, pencerahan, dan rasionalitas, sementara NU identik dengan tradisi pesantren, thariqah, dan tasawuf.
Namun, jika ditelisik lebih dalam—pada lapisan paling esensial—keduanya sesungguhnya bertemu dalam satu bingkai yang sama, yakni spiritualitas Islam. Sebuah dimensi batin yang berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta berorientasi pada penyucian jiwa dan kemuliaan akhlak.
Landasan Qur’ani Spiritualitas
Al-Qur’an menegaskan bahwa inti keberagamaan tidak berhenti pada aspek lahiriah semata, tetapi menembus wilayah batin:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. asy-Syams: 9)
Ayat ini menjadi fondasi seluruh praktik tasawuf dan spiritualitas Islam. Baik irfani Muhammadiyah maupun thariqah NU sama-sama bergerak dalam kerangka tazkiyatun nafs, meskipun melalui pendekatan dan ekspresi yang berbeda.
Irfani dalam Muhammadiyah
Spiritualitas Muhammadiyah tidak diekspresikan melalui struktur thariqah formal, melainkan melalui akhlak amal usaha dan keshalihan sosial. Prinsip ini selaras dengan firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. an-Nahl: 128)
Nilai ihsan ini menemukan manifestasi nyatanya dalam teologi amal Muhammadiyah, sebagaimana ditegaskan secara sangat kuat dalam Surat al-Mā‘ūn:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan.” (QS. al-Mā‘ūn: 1–7)
Di sinilah letak irfani Muhammadiyah: tasawuf praksis—lepas dari simbol, tetapi hidup dalam amal usaha nyata dan keberpihakan sosial. Sebagaimana dawuh KH Ahmad Dahlan: “Hidupilah Muhammadiyah, dan jangan hidup dari Muhammadiyah.”
Thariqah dalam NU
NU memelihara spiritualitas melalui thariqah mu‘tabarah yang berlandaskan sanad dan adab. Praktik dzikir dan wirid berpijak pada perintah Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.” (QS. al-Ahzab: 41)
Allah juga menegaskan ketenangan batin sebagai buah dzikir:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d: 28)
Namun, thariqah NU tidak berhenti pada pengalaman dan tataran batin individual saja. Ia melahirkan akhlakul karimah, khidmah sosial yang luas, dan tanggung jawab kesatuan umat dan kebangsaan. Hal ini sejalan dengan firman Allah QS. Āli ‘Imrān 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
Juga sabda Rasulullah SAW:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menjadi titik temu utama antara irfani Muhammadiyah dan thariqah NU. Keduanya sama-sama menolak tasawuf yang menjauh dari syariat Islam dan realitas kondisi umat.
Prinsip keseimbangan lahir dan batin ditegaskan pula dalam hadis ihsan:
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Titik Temu Substantif: Satu Bingkai
Dengan demikian, persamaan irfani Muhammadiyah dan thariqah NU terletak pada:
1. Tauhid sebagai fondasi spiritual
2. Ihsan sebagai orientasi hidup
3. Akhlak sebagai buah spiritualitas
4. Keshalihan personal yang berdampak sosial
5. Penolakan terhadap tasawuf yang kosong dari tanggung jawab umat.
Perbedaan di antara keduanya bersifat metodologis dan kultural, bukan teologis.
Ihtitam
Irfani Muhammadiyah dan thariqah NU sejatinya merupakan dua wajah dari satu mata uang, atau komponen anggota tubuh bagian kanan dan bagian kiri dengan satu ruh yang sama: Islam yang hidup di hati, bergerak dalam amal, dan berbuah pada peradaban. Keduanya membuktikan bahwa spiritualitas sejati tidak memisahkan syariat dan hakikat, melainkan menyatukannya dalam jalan lurus yang diridhai Allah SWT. Wallāhu A‘lam bissawâb. []
DA, 21 Januari 2026
*Sebuah Catatan Sederhana tentang Spiritualitas Islam Nusantara dari berbagai sumber






















