Landasan Teologis
لَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ
“Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Al-Hadid: 16)
Asbabun Nuzul
Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Al-Kalbi dan Muqatil berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik, satu tahun setelah hijrah. Pada suatu hari, mereka bertanya kepada Salman al-Farisi, “Ceritakanlah kepada kami tentang Taurat, karena di dalamnya terdapat berbagai hal yang menakjubkan.”
Kemudian Salman menjelaskan kepada mereka bahwa Al-Qur’an merupakan kisah yang paling baik dibandingkan dengan kisah-kisah lainnya. Mereka pun berhenti bertanya kepada Salman untuk beberapa waktu.
Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang beriman. Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya Allah menganggap hati orang-orang beriman terlalu lambat dalam mencapai kekhusyukan, lalu Dia menegur mereka setelah tiga belas tahun sejak turunnya Al-Qur’an.”
Interpretasi Para Mufasir
Tafsir As-Sa’di menyebutkan bahwa ayat ini mengandung dorongan agar seseorang bersungguh-sungguh dalam menghadirkan kekhusyukan hati kepada Allah Ta‘ala dan terhadap apa yang telah Dia turunkan berupa kitab dan hikmah. Orang-orang beriman hendaknya senantiasa mengingat nasihat-nasihat Ilahi dan hukum-hukum syariat pada setiap waktu serta melakukan muhasabah terhadap diri mereka berkaitan dengan hal tersebut.
Karena hati manusia senantiasa membutuhkan peringatan terhadap apa yang telah Allah turunkan. Hati harus terus-menerus dihidupkan dengan hikmah dan nasihat. Seseorang tidak sepatutnya lalai dari hal tersebut, karena kelalaian dapat menjadi sebab kerasnya hati dan membekunya air mata, sehingga hati kehilangan kelembutan dan tidak mudah tersentuh oleh nasihat serta peringatan dari Allah.
Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwa Al-Khalil berkata: Al-‘Itab (teguran) adalah percakapan yang disertai kasih sayang dan penyampaian rasa kecewa terhadap orang yang dicintai.
Makna firman Allah: “…agar hati mereka khusyuk…“. Maksudnya, agar hati mereka tunduk, merendah, dan menjadi lembut ketika mengingat Allah dan terhadap wahyu yang diturunkan sebagai kebenaran.
Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa, tetapi belum beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Al-Qur’an. Allah mengingatkan agar mereka tidak seperti umat-umat terdahulu yang telah berlalu masa panjang setelah nabi mereka sehingga hati mereka menjadi keras.
Dalam Tafsir Al-Qurthubi juga dijelaskan makna firman Allah: “Dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” Maksudnya ialah mereka orang-orang yang tidak memahami agama dengan benar tetapi tetap menentang orang yang berilmu. Sebagian mufassir mengatakan bahwa mereka orang-orang yang memang tidak akan beriman.
Sebagian Ahli Kitab tetap istiqamah di atas agama Nabi Isa hingga Nabi Muhammad SAW diutus, lalu mereka beriman kepada beliau.
Sebagian lainnya justru meninggalkan ajaran Nabi Isa; merekalah yang disebut Allah sebagai orang-orang fasik.
Tafsir Ath-Thabari menyebutkan makna firman Allah SWT: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman?” Maksudnya, belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya agar hati mereka menjadi lembut karena mengingat Allah, sehingga hati mereka tunduk kepada-Nya dan kepada kebenaran yang telah diturunkan, yaitu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW.
Adapun makna firman Allah: “Lalu hati mereka menjadi keras”. Yakni, hati mereka menjadi keras sehingga tidak lagi menerima berbagai kebaikan dan semakin teguh dalam kemaksiatan kepada Allah.
Adapun makna ‘’orang-orang fasik,” yaitu mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah dengan melakukan penyimpangan terhadap agama-Nya.
Inti Reflektif
Surat Al-Ḥadīd ayat 16 mengingatkan bahwa hati seorang Mukmin tidak boleh menjadi keras akibat terlalu larut dalam kesibukan dunia, ujian kehidupan, atau panjangnya perjalanan waktu. Iman bukanlah sesuatu yang akan tetap kuat dengan sendirinya, melainkan harus terus dipelihara melalui dzikir, tilawah Al-Qur’an, ibadah yang ikhlas, serta muhasabah yang berkesinambungan.
Dalam setiap keadaan, baik ketika memperoleh nikmat maupun menghadapi musibah, saat lapang maupun sempit, orang beriman dituntut untuk menjaga kedekatannya dengan Allah SWT. Hati yang selalu hidup bersama Al-Qur’an akan tetap lembut, mudah menerima kebenaran, dan teguh menghadapi berbagai perubahan zaman. Oleh karena itu, menjaga kelestarian iman merupakan ikhtiar seumur hidup agar hati senantiasa hidup, istiqamah dalam ketaatan, dan memperoleh ridha Allah SWT hingga akhir kehidupan.
Nilai-nilai Pedagogis
QS Al-Hadid: 16 mengandung sejumlah nilai-nilai Pendidikan (pedagogis) bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Pendidikan Kekhusyukan Hati (Tarbiyah al-Qalb). Nilai pertama yang paling utama ialah pendidikan hati agar selalu hidup bersama Allah. Hati merupakan pusat kepribadian manusia. Pendidikan Islam harus mengembangkan kecerdasan spiritual sehingga umat Islam memiliki hati yang lembut.
Karena itu, guru dan orang tua harus membiasakan peserta didik untuk senantiasa berdzikir, membaca Al-Qur’an setiap hari, muhasabah diri, membiasakan doa sebelum belajar dan menanamkan rasa diawasi Allah (muraqabah).
Anak yang tumbuh dengan pendidikan kekhusyukan hati akan tumbuh menjadi anak yang memiliki kecerdasan spiritual yang hebat dan menjadi hamba Allah yang taat.
Kedua, Pendidikan Menjaga Kepekaan Spiritual. Dalam ayat ini, Allah memperingatkan agar hati tidak menjadi keras sehingga harus rajin menjaga keimanan dengan siraman ilmu, taubat dan nasihat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hati menjadi keras karena banyaknya kelalaian.
Guru dan orang tua harus mengajari peserta didik untuk menjauhi maksiat, menghindari pergaulan buruk, memperbanyak istighfar dan menjaga shalat berjamaah.
Kepekaan spiritual harus dipupuk sejak dini agar menjadi kebiasaan yang tertanam hingga dewasa.
Ketiga, Pendidikan Istiqamah. Dalam ayat ini, Allah menyebutkan telah berlalunya masa yang panjang. Hal ini menunjukkan bahwa iman dapat melemah apabila tidak dipelihara. Allah mencintai orang-orang yang menjaga istiqamah.
Guru dan orang tua harus memberikan teladan agar senantiasa istiqamah mulai dari amal sedikit tetapi rutin, membiasakan ibadah harian, membuat target tilawah dan konsisten dalam menghadiri majelis ilmu.
Anak yang terlatih istiqamah dalam kebaikan dan ibadah akan tumbuh menjadi anak yang taat dan tidak meninggalkan kewajibannya dalam beribadah, berbakti dan mencari ilmu.
Keempat, Pendidikan Menjauhi Penyakit Hati. Ayat ini mengingatkan agar kita jangan mendekati penyakit hati yang dapat membuat hati menjadi keras. Penyakit hati meliputi: hasad, takabur, riya‘, ujub dan cinta dunia berlebihan.
Kita harus senantiasa membersihkan niat, memperbanyak istighfar, menumbuhkan sifat tawadhu‘ dan menjaga keikhlasan dalam beramal agar terhindar dari penyakit hati.
Karena itu, marilah kita didik para murid agar senantiasa membersihkan hati dan menjauhi penyakit hati yang menyebabkan kerasnya hati.
Landasan Teoretis
Iman merupakan nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan serta kelalaian.
Secara bahasa, iman berarti percaya atau membenarkan (at-tashdîq). Secara istilah, para ulama Ahlus Sunnah mendefinisikan iman sebagai: “Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.”
Imam Asy-Syafi’i menjelaskan bahwa iman terdiri atas perkataan, amal, dan niat. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Dengan demikian, menjaga kelestarian iman berarti menjaga hati agar tetap hidup, memperkuat hubungan dengan Allah, dan terus memperbarui kualitas amal shalih.
Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS Al-Fath: 4)
Faktor yang Melemahkan Iman
Lalu apa faktor-faktor yang dapat melemahkan iman? Pertama, lalai mengingat Allah. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al-Munafiqun: 9)
Kedua, panjang angan-angan. Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ
“Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR Al-Bukhari No. 6420)
Bahaya panjang angan-angan di antaranya melalaikan akhirat, merusak amal shalih dan mengeraskan hati.
Ketiga, maksiat yang terus dilakukan. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka’ (QS Al-Muthaffifin: 14).” (HR Tirmidzi)
Keempat, cinta dunia berlebihan. Allah SWT berfirman:
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui.” (QS Al-’Ankabut: 64)
Menjaga Kelestarian Iman
Bagaimana cara menjaga kelestarian iman dalam menghadapi segala situasi kehidupan saat ini? Pertama, membiasakan dzikir kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ . رَوَاهُ البُخَارِيُّ
“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR Bukhari)
Kedua, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang sangat besar.” (QS Al-Isra’: 9)
Ketiga, menjaga shalat. Allah SWT berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-’Ankabut: 45)
Keempat, bergaul dengan orang shalih. Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ…
“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya…” (QS Al-Kahfi: 28)
Kelima, memperbanyak doa memohon keteguhan hati. Allah SWT berfirman:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُ
“(Mereka berdoa), ‘Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi’.” (QS Ali ‘Imran: 8)
Keenam, senantiasa istiqamah menjaga keimanan. Allah SWT berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami Allah’, kemudian tetap istiqamah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih.” (QS Ahqaf: 13)
Kisah Teladan
Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menceritakan kisah-kisah para ulama salaf dari masa tabi’in dan tabi’it-tabi’in, di antaranya Imam Ibnu Sirin.
Imam Ibnu Sirin, seorang ulama tabi’in di Basrah yang sangat dihormati bahkan oleh para penguasa saat itu. Beliau lebih memilih berdagang untuk mendapatkan rezeki yang halal. Sayangnya, peristiwa buruk membuatnya dipenjara.
Suatu hari beliau membeli minyak secara kredit senilai 40.000 dinar. Tatkala dia membuka salah satu tutup minyak yang terbuat dari kulit itu, beliau mendapati seekor tikus yang mati membusuk.
“Sesungguhnya semua minyak ini berasal dari satu tempat penyaringan. Najis yang ada bukan hanya ada di dalam satu wadah ini saja. Jika, aku kembalikan kepada si penjual karena alasan ada aibnya, barangkali saja dia akan menjualnya lagi kepada orang lain,” sehingga beliau menumpahkan semuanya. Saat beliau mengalami kerugian besar sehingga dililit hutang, pemilik minyak itu menagih uangnya dan mengadukan Ibnu Sirin kepada penguasa yang membuatnya dipenjara karena tidak bisa melunasi.
Saat di penjara, seorang penjaga merasa kasihan dan memberinya kesempatan untuk keluar dari penjara.
“Wahai Syaikh, jika malam tiba, pulanglah engkau ke rumahmu dan bermalamlah di sana. Jika pagi menjelang, kembalilah ke sini. Lakukanlah begitu hingga engkau dibebaskan.”
Ibnu Sirin menjawab tegas, “Tidak, aku tidak mau! Jika kulakukan itu, berarti aku membantumu untuk melakukan pengkhianatan.”
Ketika Sahabat Anas bin Malik RA dekat ajalnya, beliau berwasiat agar Muhammad bin Sirin yang saat itu di penjara, yang memandikan dan mengimami shalat jenazahnya. Tatkala Anas wafat, penguasa memberinya izin. Tapi apa kata Ibnu Sirin, “Aku tidak akan keluar hingga kalian meminta izin juga kepada si tukang minyak sebab aku dipenjara karena ada haknya dia tidak bisa aku bayar.”
Selesai mengikuti prosesi takziyah Sahabat Rasulullah itu, beliau kembali ke penjara dan tidak pulang menjenguk keluarganya sendiri. Semua itu beliau lakukan karena sikap wara’ dan kehati-hatian dalam menjalani hidup.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR Tirmidzi) []




















