Sabtu, 19 September 2026, menjadi salah satu hari yang akan tercatat dengan tinta emas dalam perjalanan sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor. Sejak pukul 10.00 WIB hingga selesai, Allah SWT memberikan kesempatan yang sangat berharga kepada kami untuk turut membersamai Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam acara puncak Tasyakuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Sebuah momentum yang mungkin hanya hadir sekali dalam satu abad perjalanan sebuah lembaga pendidikan Islam. Tidak semua generasi memperoleh kesempatan menyaksikan peringatan seratus tahun sebuah institusi yang lahir dari kesederhanaan, tumbuh dengan keikhlasan, dan bertahan karena kekuatan nilai-nilai yang ditanamkan para pendirinya.
Seratus tahun bukan hanya angka. Ia akumulasi doa para pendiri, air mata perjuangan para guru, pengurbanan para santri, serta keberkahan Allah SWT yang terus mengalir dari generasi ke generasi. Seratus tahun merupakan bukti bahwa sebuah cita-cita yang dibangun di atas keikhlasan mampu melampaui zaman dan menembus batas-batas geografis.
Acara akbar tersebut dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, 15 duta besar negara-negara sahabat, para menteri kabinet Republik Indonesia, Kapolri, pejabat tinggi negara, para kiai, pimpinan pesantren, akademisi, alumni lintas generasi, tokoh masyarakat, serta puluhan ribu hadirin yang memadati kawasan Gontor. Jutaan masyarakat lainnya menyaksikan melalui berbagai media sosial dan siaran langsung yang menjangkau berbagai penjuru dunia.
Namun di balik kemegahan acara, kemeriahan panggung, dan kehadiran para tokoh nasional maupun internasional itu, ada pelajaran yang jauh lebih besar yang kembali kami rasakan: Gontor tidak dibangun oleh gedung-gedung besar, melainkan oleh jiwa-jiwa besar.
Selama satu abad, Gontor bertahan bukan karena kekuatan materi. Banyak lembaga memiliki gedung yang megah dan fasilitas yang lengkap. Namun, tidak semua memiliki ruh yang mampu hidup lintas generasi. Gontor hidup karena lima jiwa pondok yang terus diwariskan: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi kokoh yang membuat Gontor tetap relevan di setiap zaman.
Ketika ribuan alumni dari berbagai profesi dan berbagai penjuru dunia berkumpul di tanah wakaf ini, terasa sekali bahwa yang menyatukan mereka bukanlah jabatan, bukan kekayaan, bukan pula gelar akademik. Yang menyatukan mereka yaitu satu identitas yang sederhana namun sangat kuat: santri Gontor.
Di hadapan Gontor, semua atribut duniawi terasa mengecil. Profesor kembali menjadi santri. Menteri kembali menjadi santri. Kiai kembali menjadi santri. Pengusaha kembali menjadi santri. Bahkan mereka yang memimpin lembaga besar dan memegang berbagai amanah penting tetap merasa kecil ketika memasuki gerbang pondok yang telah membentuk karakter mereka sejak masa muda.
Bagi kami pribadi dan keluarga besar Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung yang hadir dalam acara bersejarah ini, momentum tersebut bukan hanya menghadiri seremonial kenegaraan atau perayaan institusi pendidikan modern. Lebih dari itu, ini perjalanan pulang seorang santri kepada almamaternya.
Perjalanan pulang yang menghadirkan kembali ribuan kenangan. Kenangan ketika berbaris di lapangan. Ketika mengikuti pelajaran di kelas. Ketika mendengar nasihat para guru. Ketika menjalani disiplin pondok yang dahulu terasa berat, namun kini justru menjadi bekal paling berharga dalam kehidupan.
Pada saat yang sama, terlintas wajah-wajah para guru yang telah mendahului kita menghadap Allah SWT. Para guru yang mungkin tidak pernah dikenal publik, tetapi telah melahirkan ribuan kader umat dan bangsa. Mereka mungkin tidak memiliki panggung besar, tetapi mereka telah membangun peradaban melalui ruang-ruang kelas yang sederhana.
Seratus tahun Gontor sesungguhnya merupakan seratus tahun kaderisasi. Sebuah proses panjang yang tidak pernah berhenti menyiapkan generasi penerus umat dan bangsa. Dari rahim Gontor lahir para ulama, guru, dosen, diplomat, birokrat, pengusaha, pemimpin organisasi, akademisi, dan berbagai tokoh masyarakat yang mengabdikan dirinya di berbagai bidang kehidupan.
Apa yang dilakukan Gontor selama satu abad membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah proses pembentukan manusia. Membangun akal, membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menyiapkan pemimpin masa depan.
Kehadiran Presiden Republik Indonesia bersama para pemimpin bangsa dan para duta besar negara-negara sahabat dalam acara ini menjadi simbol pengakuan bahwa pesantren memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan Indonesia. Pesantren bukan lagi dipandang sebagai lembaga pendidikan tradisional yang berada di pinggiran peradaban. Pesantren hari ini telah menjadi salah satu pilar utama pembangunan sumber daya manusia, pembangunan karakter bangsa, dan pembangunan peradaban Indonesia modern.
Di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang begitu cepat, pesantren tetap memiliki peran yang tidak tergantikan. Teknologi dapat mencerdaskan manusia, tetapi tidak selalu mampu membentuk akhlaknya. Pesantren hadir untuk menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan kekuatan moral.
Karena itu, Tasyakuran 100 Tahun Gontor sesungguhnya bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia momentum untuk menatap masa depan. Sebuah refleksi bahwa tantangan abad kedua Gontor akan jauh lebih kompleks dibandingkan dengan abad pertamanya. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa selama nilai-nilai pondok tetap dijaga, selama kaderisasi tetap berjalan, dan selama keikhlasan tetap menjadi ruh perjuangan, in syaa Allah Gontor akan terus melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.
Di tengah lautan manusia yang hadir pada acara tersebut, kami merasakan kembali pesan yang dahulu sering disampaikan para masyayikh: “Siapa pun engkau hari ini, jangan pernah lupa dari mana engkau dibentuk.”
Bagi banyak alumni, tempat pembentukan itu bernama Gontor.
Maka tidak berlebihan bila peringatan satu abad ini menjadi momentum syukur seluruh keluarga besar Gontor di mana pun berada. Syukur atas nikmat usia perjuangan. Syukur atas keberlangsungan kaderisasi. Syukur atas keberkahan yang terus mengalir selama seratus tahun.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Pondok Modern Darussalam Gontor, memanjangkan umur perjuangannya, memberkahi para kiai, guru, dan seluruh keluarga besar pondok, serta menjadikan Gontor terus melahirkan kader-kader umat, kader-kader bangsa, dan kader-kader pemimpin dunia yang berakhlak mulia.
Seratus tahun telah berlalu, tetapi semangatnya tetap muda.
Tua dalam usia, muda dalam perjuangan.
Tua dalam sejarah, muda dalam pengabdian.
Dari Gontor untuk Indonesia.
Dari Indonesia untuk peradaban dunia.
بارك الله في عمر جهادها، ونفع الله بها الأمة والبلاد والعباد.
Di hadapan Gontor, kita semua kembali menjadi santri shighār. []






















