Sakarya, Gontornews — Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia (IAEI) bekerjasama dengan Research Center for Islamic Economics and Finance (İSEFAM), Sakarya University, menggelar Global Forum on Islamic Finance di Sakarya, Turkiye. Acara yang diselenggarakan pada 26-28 Oktober 2026 itu mengangkat tema “Islamic Finance Integration for Global Crisis Resilience.”
Forum internasional ini merupakan ruang akademik untuk membahas kontribusi ekonomi dan keuangan Islam dalam merespons ketidakpastian ekonomi global, ketidakstabilan keuangan, tekanan lingkungan, serta ketimpangan sosial.
Forum ini juga mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pemangku kebijakan, dan mahasiswa untuk bertukar hasil penelitian, mendiskusikan perspektif kebijakan, serta memperluas kerjasama akademik lintas negara.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam format hybrid, yang mencakup presentasi makalah secara daring dan luring, sesi pleno, Leaders Talk, serta kegiatan kunjungan akademik. Berdasarkan handbook resmi, forum ini memuat 68 makalah penelitian, terdiri atas 44 presentasi daring dan 24 presentasi luring.
Adapun peserta tersebar dari enam negara, sementara para presenter mewakili delapan kewarganegaraan. Keterlibatan akademisi dan institusi dari berbagai negara memperluas ruang pertukaran pengetahuan dalam bidang ekonomi dan keuangan Islam.
Pada sesi pembukaan Ketua Umum IAEI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA., menyampaikan sambutan pembuka yang berlanjut dengan sambutan dari Wakil Rektor Sakarya University, Prof Dr Mehmet Emiroglu sekaligus pembukaan forum secara resmi. Kehadiran kedua tokoh tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi antara Indonesia dan Türkiye dalam pengembangan kajian ekonomi dan keuangan Islam.
Sesi pleno mengangkat tema utama forum dengan menghadirkan Prof Mehmet Asutay, Direktur Durham Centre for Islamic Economics and Finance, Durham University-Inggris dan Prof Dr Shafiullah Jan, Program Director Centre for Excellence in Islamic Finance (CEIF), Institute of Management Sciences Peshawar-Pakistan. Diskusi dimoderatori oleh Assoc. Prof Dr Hakan Aslan, Direktur Research Center for Islamic Economics and Finance, Sakarya University.
Selain sesi pleno, forum ini menyelenggarakan Leaders Talk bertajuk “Shaping the Future of Islamic Economics & Finance Curriculum: Bridging Academia, Industry and Policy to Prepare Graduates for Global Crisis Resilience.” Sesi tersebut membahas penguatan kurikulum ekonomi dan keuangan Islam melalui keterhubungan antara dunia akademik, industri, dan kebijakan publik.
Pada sesi ini, pembicara yang terlibat di antaranya Prof Dr Usman Ghani dari Institute of Management Sciences Peshawar-Pakistan, Assoc. Prof Ali Rama SE MEc PhD dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Dr Hüseyin Burgazoğlu dari Sakarya University.
Sebanyak 68 makalah penelitian yang tercantum dalam program akademik mencakup sepuluh bidang tematik, seperti ketahanan perbankan Islam, stabilitas saham syariah. Ada pula, takaful dan mitigasi risiko, integrasi zakat dan wakaf, keuangan mikro Islam bagi UMKM, green sukuk dan keberlanjutan. Tidak ketinggalan, isu pemulihan industri halal, harmonisasi regulasi global, keuangan Islam berkelanjutan, serta teknologi finansial syariah dan pemulihan krisis.
Cakupan tersebut menunjukkan bahwa diskusi mengenai keuangan Islam tidak terbatas pada operasional lembaga keuangan, tetapi juga mencakup instrumen keuangan sosial, pengembangan industri halal, inovasi teknologi, dan keberlanjutan. Integrasi berbagai bidang tersebut menjadi salah satu pendekatan yang dibahas untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan mendorong pembangunan yang lebih inklusif.
Pelaksanaan forum ini didukung oleh Badan Pengelola Keuangan Haji Republik Indonesia (BPKH RI) sebagai sponsor, serta sejumlah institusi mitra dari Indonesia dan Pakistan.
Kolaborasi tersebut memperkuat dimensi internasional forum dan membuka ruang bagi pengembangan jejaring penelitian serta kemitraan kelembagaan di bidang ekonomi dan keuangan Islam.
Rangkaian SAKİNAH TÜRKİYE 2026 dijadwalkan berlanjut hingga 28 Oktober 2026 melalui kegiatan field study ke Istanbul, dengan kunjungan ke Bilim Vakfi, Hagia Sophia, Masjid Sultan Ahmed atau Blue Mosque, serta sejumlah situs lain yang berkaitan dengan warisan ekonomi Islam pada masa Ottoman.
Ketua IAEI Turkiye, Dr Aam Slamet Rusydiana menyampaikan bahwa forum ini diharapkan mampu mendorong penguatan dialog akademik dan kerjasama internasional untuk mengembangkan sistem keuangan Islam yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Pertukaran hasil penelitian dan perspektif kebijakan diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan kajian lebih lanjut serta kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan institusi terkait. [Mohamad Deny Irawan]























