Oleh Fairuz Maryam Naimah, Guru Gontor Putri dan Mahasiswi UNIDA Gontor
Kemajuan Gontor bukan karena namanya yang sudah tersebar di seluruh penjuru belahan Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Salah satu kemajuan Gontor adalah karena kegiatannya. Setiap waktu dia selalu dalam kesibukan (kulla yaumin huwa fii sya’n). Pondok selalu penuh dengan berbagai kegiatan dan kesibukan.
Kegiatan di dalam pondok terus berjalan, dinamis, tanpa henti. Selalu saja ada kegiatan hingga larut malam pun ada yang melaksanakan tugasnya untuk menjaga pondok atau bangun untuk belajar, membaca al-Qur’an atau shalat tahajud.
Begitulah cara Gontor untuk mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan pesantren.
“Katakanlah, Tiap–tiap orang berbuat menurut keadaannya masing–masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. (QS al–Isra’ [17]: 84)
Setiap bagian yang ada di dalam pondok mempunyai tugasnya masing-masing. Guru mengajar, santri belajar, petugas keamanan bertanggung jawab atas keamanan pondok, pengurus dapur bertanggung jawab atas kebutuhan konsumsi santri dan guru, dan lain sebagainya. Merekamelakukan tugasnya sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya.
Meski melakukan tugasnya masing-masing, tetapi semua yang mereka lakukan mempunyai tujuan yang sama, yaitu membantu pondok dan demi kemajuan pondok.
Semua kegiatan dan aktivitas yang mereka lakukan harus sesuai dengan nilai-nilai, prinsip, dan jiwa pesantren demi mewujudkan cita-cita para pendiri pondok.
Semua aktivitas yang berjalan ini merupakan kegiatan bermanfaat dan tidak membuang-buang waktu. Membuang-buang waktu sama saja seperti pengangguran. Pengangguran berarti kekosongan dan kekosongan adalah kerusakan. Itu sunnatullah.
Karena itu, tidak boleh ada kekosongan apalagi kosong hati, ruh, dan jiwanya di dalam pondok ini. Gontor sangat melarang adanya kekosongan karena peristiwa-peristiwa seperti aliran sesat dan hal-hal buruk terjadi karena diawali dari kekosongan. Kekosongan pula menjadikan pribadi tidak produktif atau pasif.
Padatnya kegiatan yang berjalan di pondok ini mengajarkan dan memaksa diri untuk dapat membagi waktu dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Salah satu penyebab kegagalan seseorang adalah karena dia tidak dapat membagi waktunya dengan baik. Dengan banyaknya kegiatan, maka otak akan berpikir apa yang harus dilakukan sekarang apa setelahnya.
Otak akan berusaha bagaimana caranya agar semua kegiatan dapat terlaksana tanpa terlewat satu pun dan seluruh anggota tubuh yang lain akan membatu otak untuk melakukan semua itu.
Dengan begitu, semua kegiatan yang ada dapat terlaksana dan tidak ada waktu terbuang siasia.
Sesungguhnya istirahat seorang Muslim adalah pada perpindahan dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain (arrahatu fii tabadulil a’mal).
Perpindahan satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain merupakan tanda kedinamisan Gontor. Setiap gerakan yang dikerjakan merupakan ibadah yang akan membentuk kreativitas, mental dan akhlak seseorang terutama santri-santrinya (harakatuna ibadatun, wa funnun, wa dzauqun, wa ahklakun).
Artinya, apabila kegiatan dilakukan baik, maka akan berpengaruh pada hal-hal yang positif. Sebaliknya, bila kegiatan yang dilakukan tidak baik, akan sangat berpengaruh pada akhlak yang kurang baik.
Setiap kegiatan mempunyai kedudukan masing-masing tergantung pada kualitas amalnya.
Karena itu, kita harus cerdas dan profesional dalam memilih kegiatan serta totalitas pada setiap kegiatan.
Inilah bentuk konkret bahwa pondok tidak pernah tidur (alma’hadu laa yanaamu abadan). Semua disibukkan dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Itulah nilai dan tradisi yang diajarkan dan diwariskan di Gontor. Ingatlah, di setiap gerakan itu ada berkahnya. Sesungguhnya di dalam pergerakan itu ada keberkahan.

























