Borneo, Gontornews — Kampung Baru, dulunya adalah tempat pusat perdagangan di Balikpapan. Para saudagar dari berbagai daerah singgah di Kampung Baru untuk menjual dagangannya sekaligus beristirahat.
Para pedagang tersebut berasal dari Sulawesi, Banjarmasin, Penajam dan tempat -tempat lainnya. Kala itu, Kampung Baru masih belum memiliki tempat untuk shalat sehingga para saudagar bersepakat membangun surau, sebagai cikal bakal Masjid Jami’ al-Ula.
Pemerintah Kota Balikpapan akan menjadikan Kampung Baru sebagai destinasi atau salah satu tujuan pariwisata. Kampung Baru ini merupakan saksi lahirnya Kota Minyak sebutan Balikpapan. Meskipun saat ini yang tersisa dari Kampung Baru hanya pelabuhan Klotok, dan sebuah masjid Al’ Ula, maupun pemukiman warga yang juga banyak berdiri di atas laut.
Kampung Baru kini disebut sebagai Kota Tua Balikpapan, karena awalnya merupakan pusat bisnis dan perekonomian sejak ratusan tahun lalu. Hal itulah yang menjadi dasar Pemerintah Kota Balikpapan menjadikan Kampung Baru destinas pariwisata. Salah satunya Masjid Al-Ula.
Masjid Jami’ al-Ula yang berdiri kokoh di Jalan Jenderal Suprapto No 1 Kelurahan Baru Ulu, Balikpapan Barat, Kalimantan Timur ini merupakan masjid pelopor berdirinya bangunan masjid-masjid yang tersebar di Balikpapan. Sayangnya, sejarah berdirinya Masjid Jami’ al-Ula tidak ada yang mengetahui.
Menurut H. Aswat, Sekretaris Masjid Jami’ al-Ula, masjid sudah ada sejak Pemerintahan Kolonial Belanda. Saat itu masih berupa bangunan surau (mushala). Masjid ini berada di perkampungan tua bernama Kampung Baru, pusat perdagangan Kota Balikpapan tempo dulu.
Sebagai bangunan tua, Masjid Jami’ al-Ula memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Masjid ini saat Perang Dunia II tahun 1941 -1945, pesawat Inggris mengincar basis pertahanan Jepang dan menjatuhkan bom persis di sebelah bangunan Masjid Jami’ al-Ula. Namun bom tidak meledak.
“Keistimewaan lainnya tahun 1948 pernah terjadi kebakaran besar melanda Kampung Baru, namun atas kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa, api tidak mampu menjangkau bangunan masjid meskipun bangunan tersebut berdempetan dengan rumah warga,” ungkap Aswat seperti dilansir Tribunnews.
Pada tahun 1965 saat terjadi pemberontakan PKI dan merembet hingga ke Kota Balikpapan simpatisan paham komunis menyerang dan membakar setiap rumah warga dan masjid. Lagi lagi Masjid Jami’ al-Ula tetap kokoh dan tidak terbakar. Bahkan saat warga mengungsikan barang-barang ke halaman masjid justru barang warga ikut terbakar sedangkan masjid tidak terbakar.
Begitu pula pada 1984 terjadi kebakaran yang sangat besar dan menghanguskan ribuan rumah di dua kelurahan yaitu Kelurahan Baru Ulu dan Kelurahan Baru Tengah, namun masjid ini tetap kokoh dan tidak terbakar.
Berbagai keistimewaan yang dimiliki Masjid Jami’ al-Ula inilah yang menjadikan masjid tertua di Balikpapan ini tetap kokoh berdiri hingga sekarang, bahkan menjadi destinasi wisata umat Islam untuk mengenal lebih dekat sejarah Islam di negeri Borneo ini.
Banyak yang menyebut bahwa masjid ini berdiri sejak 1890-an. Sejarah panjang yang dimilikinya sebagai saksi sejarah perkembangan kampung bernama Balikpapan yang menjelma menjadi kota maju di Kalimantan.
Aswat menjelaskan, awalnya masjid ini dibangun berupa dinding dan lantai kayu, beratap daun Nipah serta bertiang kayu ulin. Namun adanya para saudagar yang berlabuh di Kampung Baru, mereka ikut berkontribusi dalam pembangunan masjid ini. Hingga kini, Masjid al-Ula tetap berdiri kokoh dan menjadi tempat ibadah umat Islam. [fathurroji]


















