Rasa syukur kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jala, tidak boleh terhenti. Sebab nikmat dan karunia yang Dia berikan sangatlah banyak dan tak terhingga. Terus bertafakur dalam ibadah mengharap ridha dan rahmat-Nya.
Karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diberikan untuk hamba-Nya begitu luar biasa. Nikmat sehat, rezeki dan silaturahmi tidak terlepas dari kebaikan-Nya kepada kita, hamba-Nya. Terlebih, untuk kita yang berada di Indonesia. Jika dibanding saudara-saudara kita yang berada di belahan bumi lainnya, seperti Suriah, Palestina dan di negara lainnya, yang dalam kezaliman dan agresor-agresor musuh Allah, maka nikmat yang Ia berikan kepada kita sangatlah besar.
Jutaan masyarakat yang kebanyakan kaum Muslimin menjadi korban kezaliman, bahkan sebagian di antaranya meninggal karena mempertahankan hak bernegaranya.
Sementara kita dapat merasakan nikmatnya menuntut ilmu, nikmatnya bersilaturahmi dan yang terbesar adalah merasakan kenikmatan dalam menjalankan ibadah tanpa adanya teror dan penghalang sehingga dapat melaksanakannya dengan khusyuk dan khidmat.
Selain itu, karunia dan nikmat lainnya yaitu keleluasaan kita dalam menyampaikan dakwah, mengajak masyarakat ke jalan yang benar serta mengajak untuk meninggalkan yang mungkar.
Setiap Muslim hendaknya terus bersyukur dalam keadaan apapun itu. Syukur dalam lisan kita, syukur dalam akidah kita, syukur dalam amaliah kita, syukur dalam kehidupan sosial, pendidikan dan ekonomi, serta bersyukur dalam politik.
Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan kita tentang arti pentingnya bersyukur. Dalam surat Ibrahim ayat 7, Ia menjelaskan makin banyak manusia bersyukur maka akan makin banyak karunia Allah yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, jika ia kufur akan nikmat yang diberikan-Nya, maka sesungguhnya azab-Nya amatlah pedih.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Di saat rasa syukur itu terus dilakukan, maka karunia Allah akan terus mengalir dan berlipat ganda menjadi sesuatu yang membawa pada keberkahan, membawa kita menjadi ahsanul insan.
Kemampuan untuk bersyukur yaitu dengan merealisasikannya sehingga menjaga diri kita agar kebaikan-kebaikan itu terus kita wujudkan. Sehingga dengan demikian akan bisa menghadirkan kenikmatan yang berlipat ganda, menyebar luas, khususnya pada ilmu, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu tentang masalah kesyukuran itu sendiri.
Selain itu juga ilmu yang berkaitan dengan akidah, muamalah, ibadah, atau juga ilmu yang terkait dengan ilmu umum. Itu semua untuk menjaga nikmat karunia Allah tentang akan pentingnya bersyukur.
Rasa syukur tidak boleh terlepas sekalipun kita dalam kondisi yang tidak menyenangkan, seperti kondisi di Indonesia, khususnya di Jakarta. Dengan banyaknya berita hoaks yang memanipulatif, yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Lebih parahnya ketika ulama kita disebut sebagai pecundang.
Kondisi itu telah membuat kita kebingungan. Terjebak pada kemarahan dan kemarahan itulah yang akan membawa kita pada perilaku yang keluar dari ajaran agama Islam.
Bahkan ada juga yang menjadikan kita sangat emosional, pemarah yang dengan mudah bisa disudutkan dengan perilaku kezaliman, kejahatan sehingga menjauhkan umat Islam dari perjuangan.
Untuk bisa mengetahui berita bohong, dibutuhkan ilmu agama dan tafakur. Karena agama yang sebenarnya adalah agama yang membawa pada kebenaran dan kemaslahatan. Syariat itu adalah agama. Di mana ada kemaslahatan bagi umat di situlah ada syariat Allah. Sesibuk apapun kita jangan sampai meninggalkan tafaqquh fiddin karena itu bagian dari sunnah yang menjadikan Islam menyebar sampai kepada kita. Wallahu a’lam. []






















