Singapura, Gontornews — Sebuah penelitian dalam jurnal ilmiah Nature Climate Change bulan Agustus menemukan bahwa perubahan iklim memperburuk lebih dari 200 penyakit menular serta puluhan penyakit tidak menular seperti gigitan ular berbisa.
Para peneliti menemukan bahwa literatur medis seputar penyakit yang sudah mapan menemukan bahwa 218 dari 375 penyakit menular berpotensi memburuk karena satu dari 10 jenis cuaca ekstrem. Dari ratusan penyakit tersebut sebelumnya yaitu malaria, Zika dan cacar monyet.
Dalam beberapa tahun terakhir, Singapura mengalami peningkatan jumlah kasus demam berdarah. Bahkan, penambahan jumlah kasus demam berdarah tersebut terus bergerak hingga memecahkan rekor jumlah kasus tahunan. Negara Asia Tenggara tersebut menyebut terjadinya peningkatan suhu sebagai pemicu penambahan kasus demam berdarah di wilayahnya.
“Seiring perubahan iklim, rentang geografis keseluruhan spesies nyamuk juga berubah. Itulah alasan kami melihat adanya perluasan kasus demam berdarah di wilayah jauh dari garis khatulistiwa ketimbang data yang kami miliki secara historis,” ungkap Associate Proessor Alex Cook, Wakil Dekan di National University of Singapore (NUS) Saw Swee Hock School of Public Health.
Untuk memerangi kasus demam berdarah, pemerintah Singapura telah menggunakan berbagai strategi pemberantasan nyamuk seperti pengasapan (fogging) atau melepaskan nyamuk Aedes jantan khusus agar berkembang biak dengan nyamuk betina guna menghasilkan telur yang tidak menetas.
“Kami cukup beruntung karena di tempat kami berada, kami tidak mendapatkan badai besar atau angin topan. Karena itu pula, kami tidak rentan terhadap penyakit yang terbawa oleh air,” ucap Associate Professor Yan Boucher dari Saw Swee Hock School of Public Health, sebagaimana dilansir Channel News Asia.
“Hanya masalahnya, Singapura merupakan travel hub, di mana penyakit bisa datang dari beberapa tempat lain,” katanya merujuk pada konfirmasi penyakit cacar monyet, Covid-19 dan Zika yang masuk dari negara lain.
Prof Boucher menambahkan pemerintah Singapura perlu melakukan pengawasan penyakit menular secara global, alih-alih, fokus pada kasus penyakit yang terjadi di setiap negara.
“Anda tidak bisa melawan musuh jika Anda tidak tahu apa itu,” kata Boucher.
“Kita perlu mengetahui kasus yang terjadi di negara lain serta cara penyakit itu bisa datang ke Singapura. Pasalnya, penyakit itu akan muncul di tempat lain dan kemudian, melalui perjalanan, hal itu bisa muncul di sini,”
“Pandemi adalah panggilan untuk membangunkan banyak negara. Tetapi, Anda juga perlu memahami bahwa ini adalah upaya yang bermanfaat serta mendukung upaya peningkatan pengawasan guna memantau penyebaran penyakit,” tutup Boucher. [Mohamad Deny Irawan]






















