Syarat keberhasilan umat Islam keteladanan. Tanpa itu, hati umat manusia akan sulit, bahkan akan menjauh dari tuntunan dan ajaran Islam. Dengan cinta, jendela-jendela hidayah akan membuka, menerobos hati para pecinta. Hanya hidayah Allah yang berperan menentukan cinta, dan mengarahkannya pada yang Mahasuci.
Hasil kurang maksimal dari pola didik kaum tua kepada generasi muda harus segera disadarkan. Mental-mental kolonial, penjajahan, watak ketergantungan yang sudah kumal dan kuno, sudah saatnya dihilangkan. Apalagi ketergantungan umat kepada selain Allah dan ajaran-Nya.
Keteguhan, kesungguhan dan kesadaran hidup, merupakan pekerjaan wajib setiap orang. Ujian dan musibah, harus dialami, apalagi oleh orang-orang pilihan. Kemurnian syahadat, kekhusyukan shalat, keikhlasan zakat, kesucian puasa, kesempurnaan haji, kejujuran usaha, keadilan dalam menghukumi, keteladanan pendidik dan lain-lain, akan diuji oleh banyak godaan.
Apalagi, kebendaan, kebebasan, kemaksiatan kini kian terbuka luas. Janganlah ia menjadi alasan untuk menghancurkan jati diri, harga diri, kesehatan dan masa depan diri sendiri, keluarga, bangsa maupun negara. Iman tak boleh digadaikan, bangsa dijualbelikan kepada pihak yang tak suka umat beriman, hati nurani diserahkan kepada setan dan iblis hanya untuk kelezatan sekejab. Ini contoh kebinatangan modern.
Banyak kalangan yang ingin menyelesaikan masalah, tapi justru malah mendatangkan masalah baru. Mereka membersihkan kotoran dengan kotoran, memperbaiki kejahatan dengan kejahatan. Ada pula yang merasa paling suci, paling benar, dan tidak mau menerima pendapat atau kehadiran orang lain.
Akhirnya mereka akan kembali ke pojok-pojok kecil dunia, tak berperan di tengah luasnya kemajuan masyarakat, menjadi makanan empuk orang-orang yang getol bersilat lidah berebut gengsi. Yang paling berbahagia hanya umat yang selalu sadar sejak awal hingga akhir. Karena mereka akan selalu disertai Allah dan malaikat-Nya.
Bumi yang luas, menjadi sempit karena watak tercela umat manusia. Orang congkak tak mau dikalahkan, diungguli, apalagi diajar. Sementara orang kecil cenderung minder, tak mempunyai pegangan, dan hanya terus hidup serba bergantung. Aturan dan undang-undang yang dibuatpun hanya untuk menjaga keselamatan pribadi, bukan untuk masyarakat.
Banyak ilmuwan yang merasa cukup dengan kebenaran keilmuan yang bersifat sementara. Dan kebenaran penemuan keilmuan yang sesuai dengan nash-nash al-Qur’an malah dimusuhi, dilawan, atau minimal ditutupi, karena rasa takut dan dengki.
Kaum Muslim wajib mampu menahan diri. Karena menahan diri merupakan kebutuhan demi menggapai kesejahteraan pribadi maupun jamaah. Dan fase menahan diri pasti harus dilewati di berbagai hal. Seperti ketika kita ingin naik tingkat, pangkat, atau derajat sekalipun.
Kita harus mampu menahan diri dalam urusan makan, berpakaian, berkendaraan, hingga bergaul secara profesional. Jika tidak, terjadilah keadaan yang saat ini banyak terjadi. Satu pihak saling menjatuhkan pihak lain, berebut menyelesaikan masalah secara sepihak. Upaya menggiring fisik, mental, maupun opini masyarakat, pun secara sistematis dan terencana dilakukan. Semua hanya membenarkan kemauan, nafsu, atau pendapat.
Hidup dan mati yang baik cita-cita umat yang bertauhid. Sebab, hidup ini amanat. Umur, kekuatan, kesehatan, pengetahuan, hingga kekayaan, akan dipertanyakan dari mana asalnya, dan bagaimana penggunaannya. Karena itu, kita harus bisa memanfaatkan amanat itu untuk selalu to give, to give, to give, dan in syaa Allah akan to again.
Islam adalah agama ringan dan mudah. Hanya karena ketergantungan manusia kepada situasi dan kondisi (sikon), malah sering membuat agama ini menjadi seakan sulit. Maka, kalau perlu, umat harus meninggalkan sikon, karena acapkali menjadi syaiton (setan).
Kita tak boleh dijajah oleh sikon dan rutinitas ciptaan manusia. ”Sikon” harus mampu dikondisikan untuk mengembangkan SDM, tanpa meninggalkan syariat, nilai dan moral spiritual kemanusiaan yang sempurna.[]






















