Tasmania, Gontornews – Sejumlah peneliti internasional dari Universitas Tasmania menggunakan sejumlah anjing laut untuk menganalisa temperatur dan kadar garam di laut Antartika. Peneliti berdalih bahwa cairnya lapisan es di Antartika mempengaruhi sirkulasi laut di dunia.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr Guy Williams dari University of Tasmania, Australia, tersebut menjadikan pencairan es di Prydz Bay, Antartika Timur sebagai objek yang disinyalir mengganggu produksi air bawah Antartika.
Air bawah di sekitar laut Antartika yang terbentuk selama musim dingin mengahasilkan garam. Buruknya, garam tersebut menyebabkan lapisan es di wilayah tersebut meleleh dan terkikis sedikit demi sedikit.
Sedangkan proses pembentukan es di wilayah tersebut tidak membuahkan hasil karena akhirnya tenggelam dan membentuk air dingin di zona abyssal antara 4000-6000 meter di bawah permukaan laut.
“Ini bagian penting dari sirkulasi global,” jelas Dr Williams sebagaimana dilansir ABC News. “Jika anda berfikir selayaknya ban berjalan, (air bawah) adalah sebuah gigi penggerak mesin yang memompa sirkulasi itu,” tambahnya.
Temuan ini menunjukan bahwa peningkatan mencairnya lapisan es dengan pemanasan global di masa depan dapat mempengaruhi produksi air bawah.
“Jika kita dapat mengantisipasinya, lelehan es ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya pemanasan global. Jika air bawah di Antartika ditekan, kemungkinan akan mempengaruhi aliran (air bawah) ke jalurnya,” ungkapnya.
Dalam jangka panjang, perubahan air bawah tidak akan mempengaruhi volume air di seluruh dunia. Namun, fenomena ini akan berdampak pada kehidupan biota laut yang mengandalkan padatnya daratan yang kayak akan nutrisi dan gas seperti oksigen.
“ini hanya kecepatan sirkulasi, tapi perubahan yang mendalam,” tutur Dr Williams. Menurut laporan satelit, air bawah yang terbentuk di daerah terbuka adalah air yang dikelilingi lautan es yang dikenal dengan Polynya.
Sebelumnya, salah seorang peneliti asal Jepang menggunakan data sensor pada anjing laut untuk mengonfirmasi sumber air bawah polynya Cape Darnley di Antartika Timur. Saat itu, peneliti berkesimpulan bahwa sumber air bawah yang mengalir ke Cape Darnley berdekatan dengan Prydz Bay di Antartika.
Meski demikian, penggunaan anjing laut sebagai media penelitian sangat terbatas dan tidak menjelaskan apapun yang terjadi di teluk yang memiliki 3 sistem polynya, 2 landasan es dan es permanen yang melekat di daratan.
“Jika anda melihat data satelit dan menambahkan semua polynya di Prydz Bay, maka penghasil polynya es terbanyak terjadi di Cape Darnley. Sehingga Pydz Bay mestinya menghasilkan lebih banyak air yang lebih padat,” terang Dr Williams.
Untuk menjawab teka-teki ini, penelitian ini telah berlangsung selama 3 tahun dengan menempelkan detektor di anjing laut sebagai media penelitian sekaligus memahami tingkah laku anjing laut saat berada di laut Antartika.
Antara tahun 2011-2013 di bulan Maret hingga Oktober, sekitar 20 anjing laut yang terlihat sedang bersantai di Pryzd Bay. Pada periode tersebut, manusia jarang untuk turun dari kapal karena alasan musim dingin. Terakhir kali ada ada seorang turun di tempat tersebut terjadi pada tahun 1999.
“Kami tidak pernah benar-benar bisa mendapatkan cakupan spesial dan temporal yang menakjubkan seperti ini sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, alasan mengapa sejumlah anjing laut berada di lokasi tersebut juga masih menjadi misteri. Selain terlihat bersantai, kawanan anjing laut tersebut juga melakukan penyelaman ke dalam laut hingga 60 kali sehari.
“Ketika mereka bergerak di sekitar wilayah tersebut, agak sulit untuk menafsirkan data yang kami peroleh dari mereka. Tetapi ketika mereka berada di satu lokasi, terutama di polynya yang sedang kami amati, peningkatan kadar garam di wilayah tersebut meningkat di musim dingin,”
Data yang dihasilkan menunjukkan bahwa Prydz Bay merupakan sumber sekunder air di bawah Cape Darnley. “(Sumber) segar ini berasal dari Cape Darnley. Dua aliran bergabung dan menjadi air bawah di Cape Darnley,” jelasnya. Dr Williams menyebut bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami kompleksitas sistem di alam.
“Anjing laut tersebut telah pergi ke daerah-daerah yang belum kita amati sebelumnya. hal ini jelas menarik meski kita tidak bisa mengontrol kemana mereka pergi,”pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan/DJ]





















