New Haven, Gontornews — Sebuah penelitian menunjukkan bahwa alasan di balik meningkatnya jumlah korban tewas akibat flu di musim dingin adalah karena kelembaban udara. Penelitian yang dipimpin oleh pakar Immunobiologi Waldemar Von Zedtwitz, Akiko Iwasaki, tersebut menjelaskan bahwa sistem pertahanan kekebalan tubuh menurun akibat kelembaban udara.
“Sudah banyak hal yang menjelaskan bahwa turunnya kelembaban udara selalu terkait dengan lonjakan angka kematian akibat virus flu. Jika temuan kami yang didasarkan dari ujicoba terhadap tikus juga terjadi pada manusia maka kami menyediakan mekanisme yang mungkin bisa dijadikan dasar sifat dari penyakit flu yang terjadi secara musiman,” jelas Iwasaki sebagaimana dilansir Science Daily.
Secara teknis, Iwasaki dan tim peneliti berusaha mengeskplorasi hipotesa tersebut dengan menggunakan tikus yang dimodifikasi secara genetik untuk melawan infeksi virus seperti halnya manusia. Tikus-tikus tersebut lantas ditempatkan dalam ruang-ruang dengan suhu sama namun dengan kelembaban udara di bawah normal.
Dari percobaan tersebut, para peneliti menemukan jika rendahnya kelembaban udara menghambat respon kekebalan hewan dengan tiga cara: dengan mencegah silia dari menghilangkan partikel virus dan lendir, mengurangi kemampuan sel-sel di saluran pernapasan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan virus di paru-paru serta melemahkan peran interferon untuk memperingatkan sel tetangga terhadap ancaman virus.
Meski demikian, mereka juga mengatakan bahwa rendahnya kelembaban udara bukanlah satu-satu faktor penyebab meningkatkan angka kematian akibat virus flu. Akan tetapi, mereka mengingatkan kepada setiap orang agar memperhatikan kadar uap air di udara baik di rumah, sekolah, tempat kerja hingga rumah sakit di musim dingin agar kelembaban udara tetap terjaga. [Mohamad Deny Irawan]





















