Pondok Pesantren sudah punya sibghah. Dasar dan semangat beridentitas, bersibghah. “Sibghatullah” menelurkan sistem kehidupan islami. Juga orientasi Pesantren dalam risalahnya: Visi, misi, dan isi kegiatannya. Sibghah dan arahnya. Status, posisi, dan orientasinya tidak boleh berubah sampai kapan pun.
Negara atau Pemerintah lebih memerlukan Pesantren, sedangkan Pesantren tidak harus/lebih memerlukan Pemerintah.
Meskipun alumni pesantren bukan jaminan suatu keberhasilan, tetapi pesantren tetap tidak akan berputus asa. Biar akhlak terbakar pesantren tetap mendidik kehidupan yang berakhlak islami!
Kekayaan dan keilmuan tanpa bekal akhlak islami itu berbahaya. Kemiskinan dan kebodohan tanpa bekal akhlak islami itu berbahaya juga. Mana yang lebih bahaya?
Pesantren tidak hanya mengatur kehidupan, tetapi lebih dari itu. Mendidik kehidupan yang islami dengan jiwa dan watak: Ar-Raa’id, Ar-Raiis, Ar-Raa’iy.
Intervensi penjajah dan kaki tangannya dengan nilai dan sistem keduniaan, pasti akan menggoda keberadaan nilai dan sistem pondok pesantren. Kegiatan ini tidak akan berhenti, bahkan sudah terjadi di luar negeri.
Keunikan atau spesifikasi kiai atau pesantren:
1. Sakralisasi Tauhid syariah
2. Antipenjajah dan penjajahan
3. Membina kehidupan yang islami
4. Identitas yang bebas dari intervensi
5. Pola pembinaan sebagai Ar-Raa’id, Ar-Raiis, Ar-Raa’iy.
Nilai-nilai syariah tidak boleh lengser sejengkalpun. Ini prinsip. Sekali lagi dan selamanya ini prinsip. Intervensi pihak mana pun adalah kezaliman, meskipun mengaku-ngaku muslihun.
Melawannya? Ya pasti saja wajib. Pelaksanaan melawan intervensi itu beragam dan pasti ada imbalan pahalanya. Kiai dan santri setiap shalat sudah mendeklarasikan ikrar: Lillah. Pesantren antipenjajah dan penjajahan, wajar dimusuhi para penjajah dan antek-anteknya. Pesantren yang propenjajah dan penjajahan, palsu!
Semua pesantren banyak kelemahan dan kekurangannya, tetapi bukan untuk dikritik, diprotes, didemonstrasi seenaknya oleh santrinya, siapa pun, apalagi tidak melewati jalur struktural. Sikap kiai terhadap santri, sikap santri terhadap kiai, sikap guru terhadap murid, sikap murid terhadap guru dirusak. Husnudzan kiai disalahgunakan. Suu’udzan dihidupkan.
Kiai berdoa untuk santrinya dan santri berdoa untuk kiainya, berbanding dengan sekolah formal yang doa guru dan muridnya banyak yang salah.
Seorang kiai pada tahun 1960, mengatakan: Kalau mau beribadah sepuas-puasnya pergilah ke Mekkah; Kalau mau menuntut ilmu pergilah ke Mesir; Kalau mau pendidikan sebaik-baiknya pergilah ke Pesantren. []



















