Oleh Dr M Kholid Muslih MA
Pertanyaan: Ustadz, setiap tanggal 17 Agustus, negara kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini menginjak usia ke-71. Sebenarnya apa makna yang sesungguhnya dari kemerdekaan itu ? Apa kaitan jiwa merdeka dengan ajaran Tauhid?
Jawab: Merdeka artinya terbebas dari segala belenggu-belenggu yang menyebabkan seorang individu, kelompok atau sebuah bangsa tidak mampu melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya (yang didasari oleh akal yang sehat serta hati nurani yang bersih) secara bebas. Belenggu tersebut bisa saja berasal dari internal maupun eksternal.
Sumber belenggu internal adalah nafsu hewani yang ada dalam diri manusia. Nafsu yang mendorong manusia melakukan hal-hal buruk, keji, dan menjerumuskan. Nafsu hewani yang secara dominan mendorong kepada keburukan ini, jika berhasil menguasai akal pikiran dan hati nurani manusia, maka keinginan-keinginan buruk yang muncul darinya akan menguasai mereka, hingga membuat yang bersangkutan tidak mampu menentukan pilihan terbaik untuk dirinya. Karena ia menjelma menjadi keinginan-keinginan yang tidak mungkin diabaikan serta tidak boleh tidak harus dipenuhi.
Posisi seperti ini oleh al-Qur’an disebut sebagai posisi “tuhan” karena semua titah nafsu tersebut tidak mungkin diabaikannya.
“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, lalu Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya serta mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”. (Al-Jatsiyah: 23).
“Tuhan” di sini merupakan simbol ketundukan dan kepasrahan total seorang hamba kepada titah dan perintahnya tanpa catatan dengan mengesampingkan sarana pengetahuan: yaitu indera (penglihatan dan pendengaran) serta hati (akal pikiran dan hati nuraninya).
Jadi merdeka secara internal artinya membebaskan diri dari belenggu-belenggu dorongan nafsu hewani yang menjerumuskan serta memiliki kekuatan tiranis (memaksa) sebagaimana tersebut di atas. Manusia yang tidak mampu membebaskan dirinya dari belenggu-belenggu di atas sejatinya sedang berada dalam posisi diperbudak atau terjajah meskipun dapat memenuhi semua keinginan mereka, karena keinginan-keinginan tersebut sebenarnya tidak murni muncul dari akal pikiran yang sehat serta hari nutaninya yang bersih dan paling dalam.
Selanjutnya manusia yang telah terjajah oleh nafsu hewaninya, cenderung egois; yaitu kecenderungan untuk menang sendiri, berkuasa sendiri, serta memiliki sendiri. Sifat-sifat yang menyebabkan manusia mengambil dan menguasai apa yang bukan miliknya secara paksa. Inilah sumber dari semua bentuk kezaliman yang salah satunya tercermin dalam bentuk pemaksaan seseorang atas lainnya, atau penindasan sebuah kelompok atas kelompok lain, hingga penjajahan sebuah bangsa atas bangsa lainnya. Pemaksaan, penindasan dan penjajahan tersebut jika menjadikan seseorang, kelompok maupun sebuah bangsa tidak bebas dan tidak mampu melakukan hal-hal yang murni bersumber dari keinginan mereka yang bebas inilah yang disebut dengan penjajahan.
Namun tidak semua penjajahan, menjadikan semua obyeknya tidak merdeka. Banyak orang, kelompok atau sebuah bangsa yang secara fisik terjajah, namun jiwanya, pikiran serta kehendaknya tetap bebas. Sebab mereka mampu mengenyahkan belenggu utama yang menjadikan seseorang tidak berdaya di hadapan beragam tekanan yaitu: “belenggu ketakutan”, yang seringkali menjadikan mereka tidak berani mengatakan dan melakukan sesuatu yang memiliki risiko berat.
Seorang Bilal –misalnya- meskipun wujudnya sebagai budak, sebelum dibebaskan oleh Abu Bakar, namun memiliki jiwa bebas dan merdeka. Keinginannya yang tulus menjadi pengikut Muhammad Rasulullah SAW, tidak pernah terbelenggu oleh ancaman dan siksaan fisik tuannya yang begitu berat dan menakutkan.
Imam Ahmad bin Hanbal juga merupakan contoh semisal dalam kebebasan dan kemerdekaan. Ancaman penjara dan siksaan kaum Mu’tazilah atas para ulama’ dalam masalah “Apakah Kalam Allah itu “Qodim” (tidak bermula) atau Hadits (bermula)”, tidak pernah mampu membungkam lidahnya untuk mengatakan dan menyatakan kebenaran.
Ibnu Taimiyah juga menjadi simbol lain dari kebebasan dan kemerdekaan. Perkataan Ibnu Taimiyah yang sangat fenomenal tentang kebebasan dan kemerdekaan jiwa ini di antaranya: “Apa yang mampu mereka lakukan terhadapku; jika akau dipenjara itu adalah saat-saat indah aku berkhalwat dengan Tuhanku, jika aku diusir dari kampung halamanku itu adalah kesempatan yang indah bagiku untuk plesiran menikmati indahnya dan luasnya tanah Allah, jika mereka membunuhku itu adalah saat indah aku bertemu dengan Kekasihku”.
Umar Mukhtar, meski mati di atas tiang gantungan tentara Italia, menjadi simbol dari kebebasan dan kemerdekaan para pejuang. Karena tekanan ancaman tiang gantungan tentara Italia tidak pernah membatasi keinginannya untuk menghentikan penjajahan Itali atas Libya. Demikian pula dengan para ulama’ lain seperti Sayyid Qutb, Hamka, atau pahlawan-pahlawan kita seperti Pangeran Dipenegoro, Tengku Umar, Tengku Cik Ditiro, Imam Bonjol dan lainnya. Semuanya menjadi simbol pribadi yang bebas dan merdeka.
Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu menyingkirkan belenggu ketakutan dalam diri mereka, atas tekanan negara lain. Pada 7 Januari 1965, Indonesia menyatakan keluar dari PBB sebagai bentuk protes terhadap keputusan PBB memasukkan Malaysia –yang dinilai oleh Bung Karno sebagai negara boneka bentukan Inggris- sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Pada tahun 1919, pemerintah Inggris di India memberlakukan “Rowlatt Acts”. Isinya: Siapapun yang menentang pasti diganjar dengan penjara. Gandhi menentangnya. Ribuan pengikutnya berdemo di taman Punjabi. Inggris meresponnya dengan tembakan. Korban tewas mencapai 400, namun gerakan penentangan tak surut.
Bagi Islam, jiwa kebebasan dan kemerdekaan sejatinya merupakan pancaran dari mata air “tauhid”. Tauhid memberikan energi kuat untuk bergantung hanya kepada Allah. Saat ketergantungan ini menguat, maka seorang hamba mampu membuang rasa khawatir dan takut. Sebagaimana Allah berfirman: “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada “kekhawatiran” terhadap mereka dan tidak (pula) mereka “bersedih hati”.” (al-Baqarah: 112)
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat “keamanan” dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)
“Kebebasan” menjadi elemen penting dari Panca Jiwa Gontor. Ini dielaborasi dengan semboyan: “Di atas Pondok Modern Darussalam Gontor hanya Allah, di bawah hanya tanah. Jasad melekat di bumi, tetapi jiwa berhubungan langsung dengan Yang di langit, di Arsy, dengan segala risikonya”.
Sementara jiwa bebas diterjemahkan: “Katakanlah yang benar walaupun pahit rasanya”. “Gontor mendidik mujahid yang mampu mengatakan “ya” di saat harus berkata “ya”. Dan mampu mengatakan “tidak” di waktu “tidak”. “Jadilah generasi yang menyatakan kebenaran, jangan yang hanya membenarkan kenyataan.” Begitulah makna kebebasan dan kemerdekaan menurut Islam.





















