pesanan-baju-kaos
29 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 25 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Muamalah Konsultasi

Belenggu Penjajahan

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
10 years ago
in Konsultasi
0

Oleh Dr  M Kholid Muslih MA

Pertanyaan: Ustadz, setiap tanggal 17 Agustus, negara kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini menginjak usia ke-71. Sebenarnya apa makna yang sesungguhnya dari kemerdekaan itu ? Apa kaitan jiwa merdeka dengan ajaran Tauhid?

Jawab: Merdeka artinya terbebas dari segala belenggu-belenggu yang menyebabkan seorang individu, kelompok atau sebuah bangsa tidak mampu melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya (yang didasari oleh akal yang sehat serta hati nurani yang bersih) secara bebas. Belenggu tersebut bisa saja berasal dari internal maupun eksternal.

Sumber belenggu internal adalah nafsu hewani yang ada dalam diri manusia. Nafsu yang mendorong manusia melakukan hal-hal buruk, keji, dan menjerumuskan. Nafsu hewani yang secara dominan mendorong kepada keburukan ini, jika berhasil menguasai akal pikiran dan hati nurani manusia, maka keinginan-keinginan buruk yang muncul darinya akan menguasai mereka, hingga membuat yang bersangkutan tidak mampu menentukan pilihan terbaik untuk dirinya. Karena ia menjelma menjadi keinginan-keinginan yang tidak mungkin diabaikan serta tidak boleh tidak harus dipenuhi.

BACA JUGA

Batasan Pergaulan Laki-Laki dan Perempuan yang Bukan Mahram

Kebiasaan Berjalan Lambat Mempercepat Penuaan

Akhlak Murid terhadap Guru

Mengapa Gontor Tidak Berpolitik?

Pendidikan Homogenisasi di Gontor

Posisi seperti ini oleh al-Qur’an disebut sebagai posisi “tuhan” karena semua titah nafsu tersebut tidak mungkin diabaikannya.

“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, lalu Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya serta mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”. (Al-Jatsiyah: 23).



“Tuhan” di sini merupakan simbol ketundukan dan kepasrahan total seorang hamba kepada titah dan perintahnya tanpa catatan dengan mengesampingkan sarana pengetahuan: yaitu indera (penglihatan dan pendengaran) serta hati (akal pikiran dan hati nuraninya).

Jadi merdeka secara internal artinya membebaskan diri dari belenggu-belenggu dorongan nafsu hewani yang menjerumuskan serta memiliki kekuatan tiranis (memaksa) sebagaimana tersebut di atas. Manusia yang tidak mampu membebaskan dirinya dari belenggu-belenggu di atas sejatinya sedang berada dalam posisi diperbudak atau terjajah meskipun dapat memenuhi semua keinginan mereka, karena keinginan-keinginan tersebut sebenarnya tidak murni muncul dari akal pikiran yang sehat serta hari nutaninya yang bersih dan paling dalam.

Selanjutnya manusia yang telah terjajah oleh nafsu hewaninya, cenderung egois; yaitu kecenderungan untuk menang sendiri, berkuasa sendiri, serta memiliki sendiri. Sifat-sifat yang menyebabkan manusia mengambil dan menguasai apa yang bukan miliknya secara paksa. Inilah sumber dari semua bentuk kezaliman yang salah satunya tercermin dalam bentuk pemaksaan seseorang atas lainnya, atau penindasan sebuah kelompok atas kelompok lain, hingga penjajahan sebuah bangsa atas bangsa lainnya. Pemaksaan, penindasan dan penjajahan tersebut jika menjadikan seseorang, kelompok maupun sebuah bangsa tidak bebas dan tidak mampu melakukan hal-hal yang murni bersumber dari keinginan mereka yang bebas inilah yang disebut dengan penjajahan.

Namun tidak semua penjajahan, menjadikan semua obyeknya tidak merdeka. Banyak orang, kelompok atau sebuah bangsa yang secara fisik terjajah, namun jiwanya, pikiran serta kehendaknya tetap bebas. Sebab mereka mampu mengenyahkan belenggu utama yang menjadikan seseorang tidak berdaya di hadapan beragam tekanan yaitu: “belenggu ketakutan”, yang seringkali menjadikan mereka tidak berani mengatakan dan melakukan sesuatu yang memiliki risiko berat.

Seorang Bilal –misalnya- meskipun wujudnya sebagai budak, sebelum dibebaskan oleh Abu Bakar, namun memiliki jiwa bebas dan merdeka. Keinginannya yang tulus menjadi pengikut Muhammad Rasulullah SAW, tidak pernah terbelenggu oleh ancaman dan siksaan fisik tuannya yang begitu berat dan menakutkan.

Imam Ahmad bin Hanbal juga merupakan contoh semisal dalam kebebasan dan kemerdekaan. Ancaman penjara dan siksaan kaum Mu’tazilah atas para ulama’ dalam masalah “Apakah Kalam Allah itu “Qodim” (tidak bermula) atau Hadits (bermula)”, tidak pernah mampu membungkam lidahnya untuk mengatakan dan menyatakan kebenaran.

Ibnu Taimiyah juga menjadi simbol lain dari kebebasan dan kemerdekaan. Perkataan Ibnu Taimiyah yang sangat fenomenal tentang kebebasan dan kemerdekaan jiwa ini di antaranya: “Apa yang mampu mereka lakukan terhadapku; jika akau dipenjara itu adalah saat-saat indah aku berkhalwat dengan Tuhanku, jika aku diusir dari kampung halamanku itu adalah kesempatan yang indah bagiku untuk plesiran menikmati indahnya dan luasnya tanah Allah, jika mereka membunuhku itu adalah saat indah aku bertemu dengan Kekasihku”.

Umar Mukhtar, meski mati di atas tiang gantungan tentara Italia, menjadi simbol dari kebebasan dan kemerdekaan para pejuang. Karena tekanan ancaman tiang gantungan tentara Italia tidak pernah membatasi keinginannya untuk menghentikan penjajahan Itali atas Libya. Demikian pula dengan para ulama’ lain seperti Sayyid Qutb, Hamka, atau pahlawan-pahlawan kita seperti Pangeran Dipenegoro, Tengku Umar, Tengku Cik Ditiro, Imam Bonjol dan lainnya. Semuanya menjadi simbol pribadi yang bebas dan merdeka.

Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu menyingkirkan belenggu ketakutan dalam diri mereka, atas tekanan negara lain. Pada  7 Januari 1965, Indonesia menyatakan keluar dari PBB sebagai bentuk protes terhadap keputusan PBB memasukkan Malaysia –yang dinilai oleh Bung Karno sebagai negara boneka bentukan Inggris- sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Pada tahun 1919, pemerintah Inggris di India memberlakukan “Rowlatt Acts”. Isinya: Siapapun yang menentang pasti diganjar dengan penjara. Gandhi menentangnya. Ribuan pengikutnya berdemo di taman Punjabi. Inggris meresponnya dengan tembakan. Korban tewas mencapai 400, namun  gerakan penentangan tak surut.

Bagi Islam, jiwa kebebasan dan kemerdekaan sejatinya merupakan pancaran dari mata air “tauhid”. Tauhid memberikan energi kuat  untuk bergantung hanya kepada Allah. Saat ketergantungan ini menguat, maka seorang hamba mampu membuang rasa khawatir dan takut. Sebagaimana Allah berfirman:  “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada “kekhawatiran” terhadap mereka dan tidak (pula) mereka “bersedih hati”.” (al-Baqarah: 112)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat “keamanan” dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)

“Kebebasan”  menjadi elemen penting dari Panca Jiwa Gontor. Ini dielaborasi dengan semboyan: “Di atas Pondok Modern Darussalam Gontor hanya Allah, di bawah hanya tanah. Jasad melekat di bumi, tetapi jiwa berhubungan langsung dengan Yang di langit, di Arsy, dengan segala risikonya”.

Sementara jiwa bebas diterjemahkan: “Katakanlah yang benar walaupun pahit rasanya”. “Gontor mendidik mujahid yang mampu mengatakan “ya” di saat harus berkata “ya”. Dan mampu mengatakan “tidak” di waktu “tidak”. “Jadilah generasi yang menyatakan kebenaran, jangan yang hanya membenarkan kenyataan.” Begitulah makna kebebasan dan kemerdekaan menurut Islam.

 

Tags: Penjajahan
Share214Tweet134Send
Previous Post

Ciri Guru Bertakwa

Next Post

Donald Trump dan Islamophobia

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

19 October 2026
Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

19 October 2026
Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

22 October 2026
Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

22 October 2026
Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

21 October 2026
UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

0
Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

0
IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

0
IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

0
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

0
UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

25 October 2026
IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

25 October 2026
Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

25 October 2026
IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

25 October 2026
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

24 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.

Ukuran : S, M, L, XL

Link Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result