Baghdad, Gontornews — Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi telah memerintahkan penyelidikan terhadap kekerasan mematikan di Kota Basra setelah para pengunjuk rasa menyerbu konsulat Iran di sana.
Seperti dikutip Aljazeera, Al-Abadi mengatakan pada hari Jumat (7/9) malam bahwa dia telah menginstruksikan pasukan keamanan untuk bertindak tegas terhadap “tindakan vandalisme” yang menyertai demonstrasi.
Perintah itu muncul setelah para pemrotes membakar konsulat Iran pada hari Jumat sebagai bagian dari demonstrasi yang sudah berlangsung selama beberapa pekan. Warga melakukan protes atas layanan yang buruk dan kurangnya pekerjaan.
Setidaknya 12 orang tewas di Basra sejak Selasa, menurut kementerian kesehatan.
Secara terpisah, pada hari Sabtu, tiga roket Katyusha menghantam pinggiran bandara tetapi tidak mengganggu operasional bandara dan tidak menyebabkan kerusakan.
Komando Operasi Bersama Irak, yang mencakup tentara dan polisi, mengatakan pada hari Jumat akan ada reaksi keras dengan “langkah-langkah keamanan yang luar biasa”, termasuk melarang demonstrasi dan iring-iringan massa.
Para pejabat keamanan telah mengumumkan jam malam di Kota Basra, sebuah kota berpenduduk dua juta orang. Mereka memperingatkan siapa pun yang melanggar akan ditangkap. [Rusdiono Mukri]



























