Sepanjang sejarah peradaban manusia, rute perdagangan memainkan peran penting dalam transfer barang dan pertukaran ide antara berbagai belahan dunia. Rute perdagangan yang paling melegenda di dunia adalah Jalur Sutra. Rute ini menghubungkan Cina di Asia dengan Mediterania di Eropa.
Rute ini juga menghubungkan peradaban dan orang-orang dari budaya, agama dan bahasa yang berbeda satu sama lain.
Sepanjang Jalur Sutra, banyak kota berkembang di Cina, Asia Tengah, Arab, India, Persia dan Turki modern. Perdagangan membawa kekayaan yang memungkinkan keunggulan dalam proses industri termasuk pencetakan, kaca dan pembuatan kertas, kedokteran, filsafat, astronomi dan pertanian.
Kota-kota itu menjadi pusat perdagangan dan sekaligus peradaban. Salah satu kota itu adalah Xi’an atau Chang’an, sebuah kota besar di Cina.
Secara resmi, Chang’an dikenal sebagai ibukota Kekaisaran Cina kuno di bawah Dinasti Han. Namun kota ini berkembang pesat dan menjadi salah satu kota paling beradab di dunia di bawah Dinasti Tang (618-904).
“Pada puncak kejayaannya di pertengahan abad kedelapan, Chang’an adalah kota terpadat, kosmopolitan, dan beradab di dunia,” tulis Cem Nizamoglu di laman muslimheritage.com.
Chang’an adalah pusat perdagangan dan melting pot beragam orang dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda.
Land mark kota ini yang terpenting ada dua yaitu Chang’an Western Market dan Masjid Agung Chang’an.
Chang’an Western Market, pasar yang terletak di bagian barat kota ini, memainkan peran penting dalam perdagangan Cina dengan Barat. Sedangkan Masjid Agung Chang’an, yang masih berdiri hingga saat ini, mencerminkan suasana toleransi beragama saat itu.
Chang’an merupakan pusat keagamaan, tidak hanya bagi Buddhisme dan Taoisme tapi juga Zoroastrianisme, Manichaeisme, Nestorian Kristen dan Islam. [Rusdiono Mukri]





















