Kolombo, Gontornews — Bank Sentral Sri Lanka, Kamis (19/8/2021), memutuskan untuk menaikkan suku bunga sejak pandemi bermula. Demi membendung tekanan inflasi dan impor yang tinggi, Central Bank of Sri Lanka (CBSL) menaikkan suku bunga standing deposit facility dan standing lending facility sebesar 50 poin menjadi 5,00 persen dan 6,00 persen.
Kebijakan CBSL ini membuat Sri Lanka menjadi negara Asia pertama yang menaikkan suku bunga sejak pandemi merebak.
Sebelum memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Sri Lanka mengalami depresiasi 8 persen atas mata uangnya oleh kewajiban bayar utang luar negeri. CBSL berharap peningkatan ini dapat mengatasi ketidaseimbangan pada sektor ekonomi dalam jangka menengah.
“Keputusan ini dibuat dengan maksud untuk mengatasi ketidakseimbangan pada sektor eksternal ekonomi dan mencegah penumpukan tekanan inflasi berlebihan dalam jangka menengah, seiring dengan prospek pertumbuhan yang membaik,” ungkap CBSL dalam pernyataan yang dirilis Reuters.
CBSL mengatakan ekonomi Sri Lanka, secara bertahap, bergerak maju setelah terdampak pandemi Covid-19. Kini, mereka siap untuk mencatat tingkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi selama kuartal kedua tahun 2021. Tetapi, negara Asia Selatan tersebut juga khawatir pertumbuhan tersebut juga menunjukkan kelemahan seiring dengan merebaknya gelombang kedua Covid-19.
“Indikator proyeksi yang tersedia menunjukkan bahwa ekonomi riil akan tumbuh lebih dari 5 persen pada tahun 2021. Momentum ini dapat dipertahankan dalam jangka menengah,” jelas CBLS.
Dalam beberapa bulan terakhir, inflasi dalam negeri mengalami peningkatan terutama dari sektor makanan. CBSL memproyesikan inflasi akan terjadi pada angka 4-6 persen dalam waktu dekat.
Data terakhir menunjukkan inflasi berbasis harga konsumen Kolombo Juli naik 5,7 persen berbading dengan Juni yang naik 5,2 persen. Sementara CPI Nasional juga meningkat 6,1 persen pada bulan Juni. [Mohamad Deny Irawan]























